kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 17.745   -8,00   -0,05%
  • IDX 6.565   39,03   0,60%
  • KOMPAS100 860   8,58   1,01%
  • LQ45 651   7,48   1,16%
  • ISSI 229   0,39   0,17%
  • IDX30 365   4,36   1,21%
  • IDXHIDIV20 450   6,63   1,50%
  • IDX80 98   1,03   1,07%
  • IDXV30 125   1,09   0,88%
  • IDXQ30 116   1,52   1,32%

Bitcoin Hadapi September yang Menegangkan, Ini 5 Faktor Penggeraknya


Selasa, 01 September 2026 / 11:31 WIB
Bitcoin Hadapi September yang Menegangkan, Ini 5 Faktor Penggeraknya
ILUSTRASI. Bitcoin (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Cointelegraph | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investor Bitcoin perlu lebih waspada memasuki September 2026. Di tengah harga yang masih tertahan di bawah US$ 80.000, peluang koreksi lebih dalam kembali terbuka seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat (AS).

Tekanan terhadap Bitcoin datang ketika pasar mulai kembali memperhitungkan kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September.

Di sisi lain, harga minyak yang kembali melonjak akibat eskalasi konflik AS dan Iran turut meningkatkan kekhawatiran inflasi.

Baca Juga: Jurus Otoritas Pajak Kejar Target, Intip Ekosistem Digital hingga Rekening Crazy Rich

Jika sentimen tersebut terus memburuk, Bitcoin berpotensi menghadapi tekanan lebih besar. Bahkan, harga Bitcoin diproyeksikan dapat kembali menuju US$ 50.000 hingga akhir 2026.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Selasa (1/9/2026) pukul 11.00 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 78.656, menguat 1,38% dalam 24 jam terakhir. Namun, dalam sepekan Bitcoin masih terkoreksi sekitar 2,17%.

The Fed jadi ancaman Bitcoin

Salah satu faktor utama yang kini menjadi perhatian investor adalah perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed.

Mengutip Cointelegraph, pasar akan mencermati sejumlah data ketenagakerjaan AS yang dirilis pekan ini. Data tersebut dapat menjadi penentu arah kebijakan The Fed pada pertemuan September.

Baca Juga: S&P Global Rating Pertahankan Peringkat Utang Indonesia, Kondisi Fiskal Jadi Sorotan

Perhatian pasar meningkat setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan pidato dalam simposium ekonomi Jackson Hole pekan lalu.

Warsh menilai inflasi AS masih terlalu tinggi meskipun data Consumer Price Index (CPI) dan Personal Consumption Expenditures (PCE) Juli menunjukkan hasil lebih rendah dari perkiraan.

Menurut Warsh, penurunan inflasi dari level tertinggi beberapa tahun terakhir memang signifikan.

Namun, kemajuan dalam dua tahun terakhir cenderung lebih terbatas sehingga data terbaru belum menunjukkan perbaikan mendasar yang cukup kuat.

Pernyataan tersebut langsung mengubah ekspektasi pasar. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed September meningkat menjadi hampir 60%, dari 41,4% sepekan sebelumnya.

Namun, keputusan The Fed masih akan sangat bergantung pada data tenaga kerja.

Data nonfarm payrolls Agustus akan dirilis pada Jumat (4/9/2026). Ekonomi AS diperkirakan menambah sekitar 50.000 lapangan kerja pada Agustus.

Sebelum data tersebut, pasar akan mencermati data ketenagakerjaan sektor swasta pada Rabu dan klaim pengangguran awal pada Kamis.

Baca Juga: IHSG Tumbuh Positif di Bulan Juli dalam 10 Tahun Terakhir, Begini Proyeksi di 2026

Harga minyak ikut menekan Bitcoin

Risiko terhadap Bitcoin juga datang dari pasar komoditas.

Konflik AS dan Iran yang kembali memanas mendorong harga minyak mentah Brent menembus US$ 90 per barel. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) bergerak di atas US$ 85 per barel.

Kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar tekanan inflasi global. Kondisi tersebut dapat membuat bank sentral, termasuk The Fed, lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter.

Bagi Bitcoin, kondisi tersebut menjadi sentimen negatif karena aset kripto masih sangat sensitif terhadap perubahan likuiditas dan ekspektasi suku bunga.

Eskalasi geopolitik juga meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko lainnya. Indeks DAX Jerman misalnya tercatat turun sekitar 0,7%.

Presiden AS Donald Trump juga kembali menyebut fasilitas minyak Kharg Island di Iran sebagai target serangan. Perkembangan tersebut meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.

Baca Juga: Tata Kelola MBG Dibenahi, Pemerintah Bidik Penghematan Anggaran Puluhan Triliun

Bitcoin masih gagal tembus US$ 80.000

Dari sisi teknikal, Bitcoin juga belum mampu keluar dari zona resistance penting.

Bitcoin sempat mengalami tekanan jual menjelang penutupan perdagangan mingguan dan turun di bawah exponential moving average (EMA) 50 minggu di sekitar US$ 77.269.

Meski demikian, Bitcoin mampu mempertahankan level tersebut selama dua pekan berturut-turut.

Bitcoin sebelumnya juga berhasil kembali berada di atas EMA 50 minggu melalui penutupan mingguan untuk pertama kalinya sejak November 2025.

Co-Founder Glassnode Rafael Schultze-Kraft turut menyoroti simple moving average (SMA) 50 minggu di sekitar US$ 80.307.

Bitcoin belum mampu menembus sekaligus mempertahankan level tersebut pada penutupan mingguan. Alhasil, area US$ 80.000 menjadi level krusial yang harus ditembus Bitcoin untuk melanjutkan tren penguatan.

 

Baca Juga: Prabowo Wajibkan Ekspor SDA Lewat BUMN DSI, Sawit dan Batubara Kena Dampaknya

Resistance Bitcoin di US$ 81.000-US$ 86.000

Trader dan analis Rekt Capital menilai Bitcoin masih bergerak di bawah resistance tren penurunan jangka panjang.

Selama belum mampu menembus resistance tersebut secara meyakinkan, Bitcoin dinilai masih membentuk pola lower high.

Jika Bitcoin berhasil menembus resistance tersebut, prospek siklus harga empat tahunan dapat berubah.

Salah satunya adalah kemungkinan bear market terbaru berlangsung lebih pendek dibandingkan siklus sebelumnya.

Namun, jalan menuju level yang lebih tinggi masih tidak mudah.

Glassnode memperkirakan area resistance utama Bitcoin berada di kisaran US$ 81.000-US$ 86.000. Area tersebut menjadi titik pertemuan antara permintaan baru dan tekanan jual dari pemegang Bitcoin sebelumnya.

Glassnode mencatat sekitar 1,05 juta BTC milik investor jangka panjang memiliki cost basis di kisaran US$ 83.000-US$ 86.000.

Artinya, ketika Bitcoin mendekati area tersebut, sebagian investor berpotensi melakukan aksi jual untuk merealisasikan keuntungan atau keluar dari posisi.

Baca Juga: Mata Uang Asia Babak Belur Akibat Oil Shock, Rupiah Dekati Level Psikologis Baru

Investor besar masih borong Bitcoin

Di tengah tekanan tersebut, investor besar justru masih menjadi salah satu penopang harga Bitcoin.

Data on-chain CryptoQuant menunjukkan, dompet dengan kepemilikan lebih dari 100 BTC menambah sekitar 60.000 BTC sepanjang 1-30 Agustus.

Sebaliknya, dompet dengan kepemilikan 1-100 BTC menjual sekitar 33.000 BTC. Investor dengan kepemilikan kurang dari 1 BTC juga melepas sekitar 14.000 BTC.

CryptoQuant menilai pola tersebut menunjukkan investor besar masih menyerap Bitcoin ketika harga menguat.

Sementara itu, investor kecil cenderung mengambil keuntungan atau keluar dari pasar setelah harga kembali ke level impas.

Namun, kondisi tersebut perlu diwaspadai apabila investor besar mulai menjual Bitcoin yang baru mereka akumulasi ketika harga turun di bawah US$ 80.000.

Baca Juga: Rupiah Anjlok Dalam, BI dan Pemerintah Goyong Royong Cari Jurus Penyelamat

Bitcoin masih bergantung sentimen makro

Co-Founder CryptoWatch sekaligus Pengelola Channel Duit Pintar Christopher Tahir mengatakan, Bitcoin masih layak diperhatikan investor.

“Menurut saya, keduanya layak untuk diperhatikan. Namun, untuk investor pada umumnya, tidak disarankan untuk melirik koin yang lebih kecil, dikarenakan dapat mengekspos risiko yang terlalu besar,” kata Christopher kepada Kontan, Senin (31/8/2026).

Menurut Christopher, pergerakan Bitcoin saat ini masih sangat bergantung pada faktor makroekonomi.

“Untuk saat ini, belum ada katalis yang mendasar yang dapat menggerakkan harga keduanya. Sehingga, saat ini penggerak utamanya hanya berdasarkan faktor makro, yaitu harapan ataupun ekspektasi suku bunga untuk The Fed nantinya,” jelasnya.

Karena itu, perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed menjadi salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan investor.

Ruang koreksi juga masih terbuka apabila muncul sentimen negatif yang mampu mengubah persepsi pasar secara fundamental.

“Koreksi lebih dalam dapat terjadi jika adanya faktor negatif yang secara fundamental dapat mengubah sentimen pasar secara umum,” ujarnya.

Baca Juga: APBN Terancam Tekor, Prabowo Kaji WFH ASN

DCA jadi strategi pilihan

Menghadapi volatilitas pasar, Christopher menyarankan investor menggunakan strategi dollar-cost averaging (DCA).

Strategi ini dilakukan dengan membeli aset secara bertahap dalam beberapa periode sehingga investor tidak terlalu bergantung pada satu titik harga.

DCA juga dapat membantu investor mengurangi risiko masuk pada harga yang kurang menguntungkan ketika pasar bergerak sangat fluktuatif.

Meski demikian, investor tetap perlu menyesuaikan strategi dengan profil risiko dan kondisi pasar.

Untuk prospek hingga akhir 2026, Christopher memperkirakan Bitcoin masih berpotensi mengalami koreksi hingga kembali ke kisaran US$ 50.000.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Terpopuler
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×