kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 18.087   -43,00   -0,24%
  • IDX 5.924   11,92   0,20%
  • KOMPAS100 771   1,79   0,23%
  • LQ45 589   1,88   0,32%
  • ISSI 204   0,51   0,25%
  • IDX30 334   0,92   0,28%
  • IDXHIDIV20 413   1,96   0,48%
  • IDX80 88   0,34   0,39%
  • IDXV30 112   1,14   1,02%
  • IDXQ30 107   0,13   0,12%

IHSG Tumbuh Positif di Bulan Juli dalam 10 Tahun Terakhir, Begini Proyeksi di 2026


Minggu, 12 Juli 2026 / 18:10 WIB
Diperbarui Minggu, 12 Juli 2026 / 18:13 WIB
IHSG Tumbuh Positif di Bulan Juli dalam 10 Tahun Terakhir, Begini Proyeksi di 2026
ILUSTRASI. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi menguat di Juli 2026. Optimisme itu dipicu dalam 10 tahun terakhir indeks selalu naik di bulan Juli. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi akan tumbuh positif di bulan Juli 2026 ini meskipun masih dibebani sejumlah sentimen negatif dari dalam dan luar negeri. 

Hal tersebut didasarkan pada tren indeks dalam 10 tahun terakhir yang selalu menguat di bulan Juli. 

Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, mengatakan, secara historis, pihaknya mencermati IHSG selalu tumbuh positif di bulan Juli. 

"Jadi kalau orang bilang bulan Desember IHSG selalu naik, itu tidak kejadian, justru IHSG selalu naik dalam 10 tahun terakhir di bulan Juli," ujar Rudiyanto kepada KONTAN yang bertandang ke kantornya, Kamis (9/7/2026).

Ia menjabarkan bahwa di bulan Juli tahun 2016 silam sampai bulan Juli 2025 yang lalu, IHSG selalu tumbuh positif. Melihat hal itu, ia cukup percaya diri memproyeksikan bahwa di bulan Juli 2026 ini, IHSG Kembali tumbuh positif.

Baca Juga: IHSG Terkoreksi 32% Hingga Juli 2026, Ini Dampaknya ke Kinerja Sekuritas 2026

"Sampai dengan saat ini, di bulan Juli ini, IHSG sudah naik sekitar 3%. Saya cukup yakin sampai akhir bulan, meskipun ada sentimen negatif dari S&P global, rasa-rasanya IHSG masih bisa ditutup dengan return positif di bulan Juli," terangnya.

Rudiyanto mengatakan, kenaikan IHSG di bulan Juli dalam 10 tahun terakhir disebabkan oleh sejumlah hal. Salah satunya seperti munculnya laporan keuangan semester I yang biasanya dipublikasikan di bulan Juli, terutama bank besar. 

Apalagi kinerja keuangan perbankan selalu tumbuh positif dan jadi penggerak pasar.

Selain itu, di bulan Juli juga angka inflasi sudah mulai terkendali dan bisa juga karena kebetulan saja.

Dampak sentimen S&P Global

Rudiyanto melihat dampak keputusan terbaru indeks global S&P global terhadap pasar Indonesia tidak akan signifikan. Seperti diketahui S&P Global memasukkan pasar saham Indonesia dalam daftar watchlist-nya. 

Alasannya, Rudiyanto melihat sejauh ini belum ada fund manager global besar yang menjadikan S&P Indonesia sebagai acuannya dalam memilih saham di Indonesia.

Hal ini berbeda dengan penyedia indeks global lainnya seperti MSCI aupun FTSE. Dimana MSCI Indonesia digunakan oleh investor besar seperti BlackRock sebagai acuannya. BlackRock adalah funda manajer terbesar globa.

Baca Juga: Cermati Saham-Saham Net Buy Terbesar Asing di Pekan Pertama Juli 2026

Sementara FTSE Indonesia digunakan oleh Vanguard, manajer investasi terbesar kedua di dunia, sebagai acuannya. "Tapi dia itu (Vanguard) spesialisnya ETF (Exchange Traded Fund), kalau BlackRock itu masih ada yang reksadana aktif dan ETF," tegas Rudiyanto.

Selain itu Vanguard, dana kekayaan global terbesar di dunia Norway's sovereign wealth fund, juga menggunakan FTSE Sebagian acuannya. Karena itu, MSCI dan FTSE itu banyak penggunanya, termasuk Asset Under Management (AUM) yang ada Indonesianya juga besar.

"Tapi kalau untuk S&P Indonesia, terus terang, lebih tepatnya saya belum tahu, apakah ada fund besar yang menggunakan itu untuk investasi ke Indonesia," ucapnya.

Kalau memang tidak banyak, maka dampak dari keputusan S&P Indonesia tidak ada terpengaruh banyak terhadap pasar saham Indonesia. Apalagi saat ini S&P Indonesia baru memasukkan pasar Indonesia dalam daftar watchlist dan keputusannya baru diambil tahun depan atau 2027.

Valuasi sudah murah

Melihat kondisi saat ini, dimana pasar saham ini sudah tertekan cukup dalam akibat terdampak sentiment negatif baik dalam negeri maupun luar negeri, menjadikan valuasi saham atau pun reksadana saham sudah sangat murah.

Saat ini bertebaran saham-saham yang dividen yield-nya di atas 10% dari perusahaan-perusahaan yang benar-benar solid kinerjanya. Yang membuat saham-saham perusahaan ini ambruk dalam bukan karena kinerjanya, tapi karena sentimen saja.

"Jadi ibaratnya kalau mau beli (saham atau reksadana saham) saatnya sekarang," ujar Rudiyanto.

Ia menjelaskan penyebab saham dan reksadana saham saat ini turun cukup dalam akibat kepercayaan pasar terhadap kebijakan pemerintah. Ia bilang investasi itu bukan cuman beli dan tahan, tapi juga soal kepercayaan. 

Ia mengakui kebijakan pemerintah saat ini belum bisa memberikan confidence tapi paling tidak ada perbaikan.

"Kalau misalkan kita tidak terlalu memperhatikan kebijakan pemerintah, kita fokus sama valuasi, saya kira ini Waktu yang bagus untuk beli, cuman tidak bisa ekspektasi habis kita beli bulan depan naik," tambahnya.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Lanjut Menguat di Senin (6/7), Ini Rekomendasi Saham Analis

Sementara itu, dari sisi obligasi dan reksadana fix income, bisa jadi pilihan investasi. Apalagi saat ini, pemerintah tengah berupaya menjaga nilai tukar rupiah melaui Bank Indonesia (BI) dengan kebijakan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan suku bunga. 

Di mana SRBI merupakan instrumen yang digunakan BI untuk menarik dana asing masuk. Ketiak rupiahnya menembus level Rp 18.000 per dolar AS, BI akan menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi kepada investor.

Menurut Rudiyanto, saat ini, SRBI suku bunga SRBI sudah di atas 7%. Ada di kisaran 7,5% atau 7,6%. 

Strategi Kelola Portofolio

Melihat kondisi pasar saat ini, Rudiyanto mengungkap strategi investasi Panin Asset Management. Dia mengatakan saat ini pihaknya tengah memperbesar bobot investasi di SRBI.

Hal itu disebabkan rate-nya SRBI saat ini bagus dan itu produk BI yang pasti aman.

"Nah itu bobotnya yang kami maksimalkan. Jadi untuk reksadana pasar uang yang konvensional, bobotnya SRBI-nya sudah bahkan mendekati 30%. Sisanya deposito dan obligasi,"tuturnya.

Sementara itu, untuk reksadana pendapatan tetap, pihaknya melihat bahwa volatilitas atau gejolak harga masih tinggi.

Untuk itu, Rudiyanto bilang pihaknya cenderung fokus di obligasi jangka pendek satu sampai tiga tahun untuk yang korporasi. Sementara kalau untuk pemerintah, pihaknya mengambil yang tenornya di Bawah lima tahun. 

"Kecuali kita bisa dapat kupon yang tinggi, kebanyakan yang kami pegang itu jangka pendek," imbuhnya.

Baca Juga: Hemat Maksimal Pakai Qpon, Promo HokBen Juli Makan Rame-Rame Mulai Rp 25 Ribuan

Sementara itu, untuk reksadana saham, Panin AM lebih memilih sektor komoditas jadi acuan utama. Terutama komoditas logam dan energi. Alasannya karena sektor ini, terutama saham batubara, harga produknya masih jauh di atas harga produksinya.

Jadi keuntungan perusahaan batu bara masih sangat tinggi. Meskipun saat ini ada intervensi dari pemerintah tapi tidak terlalu berdampak signifikan.

Selain komoditas, pihaknya juga tetap melihat saham sektor perbankan, tapi tetap hati-hati dan bobotnya tidak terlalu besar.

Rudiyanto mengakui bahwa dividen saham perbankan cukup menggiurkan tapi pihaknya khawatir intervensi pemerintah yang besar terhadap sektor perbankan bisa mengurangi laba bersih perusahaan. 

Terutama jika pemerintah meminta perbankan mengucurkan kredit dalam jumlah besar terhadap berbagai program-program pemerintah yang dari segi bisnis belum menjanjikan.

Sementara itu sampai akhir tahun ini, Panin AM optimists IHSG akan menguat setidaknya di level 7.000 dari saat ini 5.924 pada Jumat (10/7/2026) kemarin.

Hal itu disebabkan mulai munculnya sentimen positif seperti pemerintah mulai memangkas anggaran Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disambut positif pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×