Reporter: Anna Suci Perwitasari, Dimas Andi, Lailatul Anisah | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Timur Tengah kembali membara di akhir pekan setelah Israel dan Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan itu berhasil menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang akhirnya dikonfirmasi pemerintah Iran pada Minggu (1/3/2026).
Media pemerintah Iran melaporkan, Khamenei tewas saat sedang bekerja di kantornya. Serangan itu juga menewaskan putri, cucu, menantu perempuan dan menantu laki-laku Khamenei.
Usai kematian Khamenei ini, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan bakal melakukan serangan pembalasan. "Kami akan menyerang kalian dengan pukulan yang begitu mengerikan hingga kalian akan terpaksa mengemis," kata dia seperti dikutip dari Reuters.
"Saya katakan kepada Trump dan Netanyahu serta agen dan proksi mereka, saya ulangi, saya katakan kepada kedua penjahat kotor itu dan kepada semua agen mereka: kalian telah melanggar garis merah kami, dan kalian harus membayar harganya," tegas Qalibaf.
Alhasil, aksi serang AS dan Israel serta pembalasan Iran ke pangkalan militer AS di sejumlah negara teluk Arab menjadi tanda meluasnya kekacauan di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Pekan Kelam Bursa RI, Peringatan MSCI, IHSG Rontok Hingga Pimpinan OJK BEI Mundur
Balasan Iran berhasil membuat kota-kota seperti Dubai, Abu Dhabi hingga Doho sempat dilanda kepanikan.
Beberapa ledakan terdengar untuk hari kedua di Dubai dan di atas ibu kota Qatar, Doha. Asap hitam mengepul di atas pelabuhan Jebel Ali Dubai, salah satu pelabuhan tersibuk di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, layanan ambulan Israel mengatakan sedikitnya delapan orang tewas akibat serangan rudal Iran di kota Beit Smemesh. Sedangkan Umi Emirat Arab mengatakan, serangan Iran menewaskan tiga orang dan Kuwait melaporkan setidaknya 1 orang tewas dalam serangan terbaru Iran.
Memanasnya tensi geopolitik di kawasan Teluk membawa gelombang kejut ke berbagai sektor. Mulai dari pelayaran, perjalanan udara hingga minyak.
Teheran dikabarkan menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz. Setidaknya 150 kapal tanker, termasuk kapal minyak mentah dan gas alam cair, berlabuh di perairan Teluk terbuka, di luar Selat Hormuz. Sementara puluhan kapal lainnya terlihat diam di sisi lain titik sempit Selat Hormuz.
Berdasarkan data pengiriman pada Minggu (1/3/2026), kapal tanker minyak tersebut berkumpul di perairan terbuka di lepas pantai milik produsen minyak utama Teluk, termasuk Irak dan Arab Saudi serta raksasa LNG Qatar, menurut perkiraan Reuters berdasarkan data pelacakan kapal dari platform Marine Traffic.
Sejumlah perjalanan udara global ikut terganggu karena serangan udara yang terus berlanjut di kawasan Teluk. Alhasil bandara-bandara utama di Timur Tengah, termasuk Dubai, ditutup. Ini jadi salah satu guncangan penerbangan paling tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI, Independensi Bank Sentral Dipertanyakan
Bandara transit utama, termasuk Dubai dan Abu Dhabi di UEA dan Doha di Qatar ditutup atau dibatasi secara ketat. Bahkan, Bandara Internasional Dubai mengalami kerusakan selama serangan Iran.
Ribuan penerbangan telah terpengaruh di seluruh Timur Tengah, menurut data pada platform pelacakan penerbangan FlightAware.
Ruang udara di atas Iran, Irak, Kuwait, Israel, Bahrain, UEA dan Qatar hampir kosong, berdasarkan peta Flightradar 24 pada Minggu (1/3/2026) pagi.
Layanan pelacakan penerbangan tersebut mengatakan bahwa "Pemberitahunan kepada Penerbang" (NOTAM) baru telah memperpanjang penutupan ruang udara Iran setidaknya hingga Selasa (3/3/2026) pukul 08.30 GMT.
Peluang Pasar Komoditas
Konflik Timur Tengah yang bergejolak di akhir pekan juga menjadi kekhawatiran bagi pasar minyak mentah. Harga minyak yang telah naik selama beberapa minggu terakhir diproyeksi terus melaju kencang di awal pekan ini.
"Risiko ekstrem di Timur Tengah telah meningkat. Pasar akan mengubah harga dari guncangan geopolitik menjadi guncangan risiko rezim, konflik berkepanjangan, bukan hanya pembalasan, kecuali Iran mengatakan ingin bernegosiasi," kata Rong Ren-Goh, manajer portofolio di tim pendapatan tetap di Eastspring Investments di Singapura.
Risiko yang lebih besar, kata para analis, adalah sikap puas diri di pasar yang berasumsi bahwa dampak buruknya akan terbatas, seperti yang terjadi selama "Perang 12 Hari" Juni lalu di Iran atau selama berbagai serangan Rusia terhadap Ukraina, dan mengabaikan perbandingan apa pun dengan perubahan rezim Iran tahun 1979.
Sejauh ini, harga minyak mentah Brent naik seperlima tahun ini menjadi sekitar US$ 73 per barel, dan investor telah membeli obligasi pemerintah AS dan emas sebagai lindung nilai untuk berbagai risiko, termasuk ketegangan di Timur Tengah dan kebijakan Presiden Donald Trump yang tidak menentu.
Dengan faktor kunci dari penutupan Selat Hormuz, harga komoditas energi seperti minyak mentah dan gas alam bakal mendapat sokongan. Mengingat lebih dari 20% minyak global diangkut melalui Selat Hormuz.
Baca Juga: Saham di Bursa Kini Jadi Sasaran Sita Negara untuk Tagih Utang Pajak
"Kami memperkirakan harga minyak akan dibuka (setelah akhir pekan) jauh lebih dekat ke US$ 100 per barel dan mungkin melebihi level itu jika kita melihat penutupan Selat yang berkepanjangan," kata Ajay Parmar, Direktur Energi dan Penyulingan ICIS.
Para pemimpin Timur Tengah juga memperingatkan Washington bahwa perang melawan Iran dapat menyebabkan harga minyak melonjak hingga lebih dari US$ 100 per barel, kata analis RBC, Helima Croft. Analis Barclays juga mengatakan, harga minyak bisa mencapai US$ 100 per barel.
Sementara itu, kelompok produsen minyak OPEC+ sepakat pada hari Minggu untuk meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari (bpd) mulai April 2026, peningkatan kecil yang mewakili kurang dari 0,2% dari permintaan global.
Meskipun beberapa infrastruktur alternatif dapat digunakan untuk menghindari Selat Hormuz, dampak bersih dari penutupannya akan mengakibatkan hilangnya pasokan minyak mentah sebesar 8 juta hingga 10 juta bpd bahkan setelah mengalihkan sebagian aliran melalui pipa Timur-Barat Arab Saudi dan pipa Abu Dhabi, kata Ekonom Energi Rystad, Jorge Leon.
Rystad memperkirakan harga akan naik sebesar US$ 20 menjadi sekitar US$ 92 per barel saat perdagangan dibuka di awal pekan.
Tak hanya minyak, harga emas diproyeksi melanjutkan reli. Di mana, harga emas sudah naik 22% di tahun 2026. Realisasi tersebut lebih tinggi dari kenaikan indeks saham acuan bursa Amerika Serikat (AS) yang hanya 0,5%.
"Sejarah menunjukkan dengan kuat bahwa penjualan premi risiko geopolitik lebih baik dilakukan ketika permusuhan dimulai," kata analis Barclays dalam sebuah catatan pada hari Sabtu.
"Yang membuat kami khawatir adalah bahwa investor kini telah mempelajari pola ini dan mungkin meremehkan skenario di mana upaya pengendalian gagal."
Baca Juga: Pemerintah Kebut Pemulihan Daerah Terdampak Bencana Aceh dan Sumatera
Analis Barclays menunjuk pada faktor lain yang dapat memperburuk aksi jual jika konflik meningkat, seperti kekhawatiran yang ada seputar booming kecerdasan buatan dan pasar kredit swasta.
"Kami menyarankan untuk tidak membeli saat terjadi penurunan harga saham secara langsung—risiko-imbalannya tampaknya tidak menarik. Jika harga saham turun cukup banyak, katakanlah lebih dari 10% di S&P 500, kemungkinan akan ada waktu untuk membeli. Tetapi belum sekarang," tulis mereka.
Pasar saham diperkirakan akan bergejolak dalam minggu mendatang.
"Pasar siap untuk serangan terbatas yang terarah. Yang belum diperhitungkan adalah serangan besar untuk memenggal rezim," kata Charles Myers, ketua dan pendiri Signum Global Advisors, sebuah perusahaan konsultan investasi geopolitik. Ia berbicara sebelum serangan AS-Israel akhir pekan lalu.
William Jackson, Kepala Ekonom Pasar Negara Berkembang di Capital Economics memperkirakan, konflik berkepanjangan yang memengaruhi pasokan dapat menyebabkan harga minyak melonjak hingga sekitar $100, berpotensi menambah 0,6-0,7 poin persentase pada inflasi global.
"Menurut saya, pasar telah melebih-lebihkan kekuatan inflasi, jadi saya rasa ini tidak akan banyak berubah. Dampaknya akan lebih terasa di Eropa daripada AS mengingat kedekatan minyak dan gas Hormuz pasca-Rusia," kata Tariq Dennison, penasihat kekayaan di GFM Asset Management yang berbasis di Zurich.
"Mungkin sedikit kenaikan jangka pendek pada emas, tetapi emas telah memperhitungkan ketidakpastian geopolitik maksimum."
Goh dari Eastspring menunjuk pada penurunan stabil imbal hasil AS, yang telah membawa imbal hasil obligasi 10 tahun ke bawah 4%.
Baca Juga: Stimulus Jelang Nataru, Mampukah Bikin Ekonomi 2025 Melaju?
"Saya tidak yakin apakah membeli obligasi pemerintah AS di sini adalah perdagangan yang baik, terutama jika harga minyak melonjak dan memicu inflasi, jika hal ini berlarut-larut," katanya.
Di sisi lain, beberapa analis memperkirakan Iran tidak akan mampu mengganggu perdagangan di kawasan Teluk dan dampaknya terhadap harga minyak akan terkendali.
"Kami tidak akan terkejut jika aksi jual di S&P 500 pada Senin pagi berubah menjadi reli, didorong oleh ekspektasi harga minyak yang lebih rendah setelah perang Timur Tengah terbaru berakhir," kata Ed Yardeni, presiden Yardeni Research yang berbasis di New York.
"Harga emas mungkin juga akan berbalik arah pada hari Senin. Imbal hasil obligasi mungkin turun karena permintaan aset aman dan prospek harga minyak yang lebih rendah pasca-perang," katanya.
Dampak ke Dalam Negeri
Dari dalam negeri, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berisiko tertekan ada Senin (2/3/2026) karena efek perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
Sekedar mengingatkan, IHSG ditutup menguat tipis 0,003% ke level 8.235,48 pada perdagangan Jumat (27/2/2026).
Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, pecahnya konflik AS-Israel dan Iran tentu menjadi sentimen negatif jangka pendek bagi pasar, termasuk IHSG. Pada dasarnya, setiap eskalasi geopolitik besar biasanya memicu risk-off di pasar global.
Risiko tekanan pada awal sesi perdagangan Senin (2/3/2026) memang terbuka, terutama karena pasar akan merespons lonjakan harga minyak dunia dan penguatan aset safe haven seperti emas dan dolar AS.
"Tetapi, untuk panic selling besar-besaran, kemungkinannya relatif terbatas kecuali terjadi eskalasi lanjutan yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global, seperti gangguan serius pasokan energi dunia," ungkap dia Minggu (1/3/2026).
Perlu diketahui, IHSG cukup banyak ditopang oleh saham berbasis komoditas. Dalam kondisi geopolitik yang tengah memanas seperti ini, kenaikan harga emas dan minyak justru berpotensi menjadi penahan pelemahan indeks.
Baca Juga: Ekspor Indonesia Bisa Tertinggal! AS Beri Keuntungan Besar untuk Negara Tetangga
Terlebih, saham sektor energi dan emas biasanya mendapat sentimen positif saat harga komoditas global naik, sehingga dapat mengimbangi tekanan di sektor lain seperti perbankan atau konsumer.
Artinya, meskipun tekanan global meningkat, komposisi pasar yang cukup dominan pada sektor komoditas bisa membuat IHSG relatif lebih tahan banting dibanding indeks saham yang lebih bertumpu pada sektor teknologi atau manufaktur.
Sementara itu, Mayang Anggita, Senior Technical Analyst Panin Sekuritas mengatakan, secara teknikal IHSG sedang menghadapi uji support yaitu Neckline dari pola Double Bottom di level 8.214 dan ditutup dengan pola Hammer.
Indikator Stochastic Golden Cross berada di sekitar area oversold, sehingga IHSG berpeluang rebound menuju MA50 di level 8.433 sampai dengan resistance 8.437. Di sisi lain, support terdekat berada di level 8.094 sampai dengan angka psikologis level 8.000.
Menurut Mayang, ketika ketegangan dan ketidakpastian akibat konflik geopolitik global meningkat, biasanya investor cenderung risk-off. IHSG pun berpotensi lebih bergerak volatil menanggapi sentimen tersebut.
Baca Juga: Harga Emas Makin berkilau, Pertanda Ketidakpastian Ekonomi Makin Tinggi?
"Maka kami menyarankan untuk short term trading supaya bisa memanfaatkan setiap momentum yang ada dan risiko lebih terukur," imbuh dia, Minggu (1/3/2026).
Di tengah maraknya sentimen konflik geopolitik di Timur Tengah, harga minyak berpotensi menguat. Alhasil, investor dapat mencermati saham-saham yang bergerak di sektor migas seperti MEDC, ELSA, AKRA, PGAS, dan RAJA.
Tak hanya minyak, harga komoditas emas pun turut terdampak. Hal ini seiring volume perdagangan yang cenderung menguat dan kemunculan Stochastic Golden Cross yang membuat harga emas berpotensi melanjutkan penguatan menuju resistance US$ 5.400 per ons troi pada pekan ini.
Alhasil, investor juga bisa mencermati saham yang bergerak di sektor emas, seperti MDKA, ANTM, PSAB, ARCI.
Di lain pihak, Reza memprediksi IHSG akan bergerak dengan support di area 8.100–8.150 pada hari ini (2/3/2026).
Jika tekanan global cukup besar, bukan tidak mungkin IHSG menguji area tersebut pada awal sesi perdagangan. Namun, selama level ini mampu bertahan, peluang technical rebound tetap terbuka. Adapun resistance terdekat IHSG tetap ada di kisaran 8.350–8.400.
Di sisi lain, pemerintah pun telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi dampak ekonomi dari memanasnya kondisi geopolitik di Timur Tengah.
Baca Juga: Shutdown Pemerintah AS Masuk Minggu Ketiga, Akankah Ukir Rekor Baru?
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) Haryo Limanseto mengatakan, telah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan agar APBN dapat selalu difungsikan sebagi shock absorber, guna meredam transmisi konflik terutama pada energi dan pangan.
“Fokus utama adalah menjaga daya beli masyarakat jika terjadi fluktuasi harga komoditi terutama energi di tingkat global,” kata Haryo pada Kontan.co.id, Minggu (1/3/2027).
Untuk saat ini pemerintah mengeluarkan dan mempercepat penyaluran bantuan pangan 10 kg beras dan 2 liter minyak goreng kepada 35,04 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Selanjutnya Pemerintah akan mengeluarkan kebijakan-kebijakan lanjutan dalam momentum hari raya Idulfitri.
“Langkah ini diharapkan menjadi bantalan ekonomi yang kuat untuk menggerakkan roda konsumsi domestik di tengah ketidakpastian global,” ungkap Haryo.
Selain itu, pemerintah terus berkoordinasi erat dengan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas rupiah.
Baca Juga: Saham di Bursa Kini Jadi Sasaran Sita Negara untuk Tagih Utang Pajak
Haryo bilang, posisi cadangan devisa per Januari 2026 yang berada di level US$ 154,6 miliar juga dirasa aman sebagai instrumen menjaga nilai tukar rupiah.
Haryo pun memastikan, Pertamina telah memberikan jaminan bahwa stok BBM dan LPG nasional dalam kondisi aman untuk kebutuhan selama periode Ramadan dan Lebaran.
Menurut Haryo, Pertamina telah menyiapkan beberapa alternatif jalur pelayaran lain guna menjaga keberlangsungan rantai pasok minyak dan menjaga kestabilan harga BBM dalam negeri.
“Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan kami akan terus memonitor situasi dari waktu ke waktu dan mengambil kebijakan yang diperlukan demi kepentingan masyarakat,” urai Haryo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












