| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.502
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS601.968 0,00%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%
FOKUS /

Mengulik seretnya pendanaan infrastruktur (2)

Selasa, 26 September 2017 / 13:24 WIB

Mengulik seretnya pendanaan infrastruktur (2)
Berita Terkait

Namun, berkaca dari pengalaman Dana Investasi Real Estate (DIRE), exit strategy lewat bursa ini juga tidak banyak dimanfaatkan. Sebab, menemukan investor lain yang mau mengambil alih unit penyertaan juga tidak gampang.

Maklum,  nilai investasinya besar dan profil produknya  belum tentu cocok buat semua investor. “DIRE sekarang juga bisa melantai di bursa, tapi nyatanya enggak ada transaksi. Lewat bursa ini lebih memudahkan saja ketika sudah ketemu calon pembeli mau transaksi bisa di bursa,” ujar Wawan.

Namun, di mata manajer investasi, persoalan paling krusial bukanlah semata menciptakan produk khusus untuk kebutuhan pendanaan infrastruktur. Tapi, bagaimana menarik sebanyak mungkin dana milik investor yang sebetulnya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan tersebut.

Soal ini, pemerintah punya banyak pekerjaan rumah yang mesti dituntaskan. “Sebetulnya RDPT sudah sophisticated bagi sebagian investor,” ujar Gunadi. (Baca:  Banyak kendala, sepi peminat, yang akan tayang 27 September 2017)

Berdasar pengalamannya selama ini di PNM, suplai produk dan permintaan dari investor masih sama-sama banyak. Cuma sayangnya, pemainnya hanya itu-itu saja.

Kalau dilongok, pemilik proyeknya tidak jauh-jauh dari BUMN atau anak usaha BUMN. Investornya juga sami mawon, kebanyakan perusahaan pelat merah juga. Entah itu dana pensiun (dapen) atau asuransi.

Investor swasta cenderung memprioritaskan menggunakan dana untuk pengembangan usaha. Duit nganggur, biasanya sudah dipersiapkan sebagai dana yang bisa dipergunakan sewaktu-waktu. Atau, kalaupun ada dana yang disisihkan untuk investasi jangka panjang, biasanya jumlah relatif kecil.

Dus, investasi di produk berbasis proyek, apalagi infrastruktur, kurang pas buat mereka. “Kami ada satu-dua investor swasta. Usahanya malah bukan di keuangan, tapi di penerbitan dan diler motor yang menjadi investor kita,” kata Gunadi.

Jadi tidak bisa hanya sebatas bikin produk, ya!

Bersambung : Mengulik seretnya pendanaan infrastruktur (3);  Banyak Kendala, Sepi Peminat

* Artikel ini berikut seluruh artikel terkait sebelumnya sudah dimuat di Tabloid KONTAN, pada Rubrik Laporan Utama edisi 21 Agustus 2017. Selengkapnya silakan klik link berikut: "Warisan Produk Baru Bagi Pejabat Baru"

 

 


Sumber : Tabloid Kontan
Editor: Mesti Sinaga

PENDANAAN INFRASTRUKTUR

TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0455 || diagnostic_web = 0.1977

Close [X]
×