: WIB    —   
indikator  I  
FOKUS /

Mengulik seretnya pendanaan infrastruktur (2)

Mengulik seretnya pendanaan infrastruktur (2)

Namun nyatanya, jumlah reksadana berbasis sukuk yang terbit hingga saat ini masih sangat minim. Ia mencatat satu produk yang ada di genre tersebut. Yakni reksadana syariah berbasis sukuk yang diterbitkan oleh PT Avrist Asset Management. Isi reksadana ini berupa MTN dari Bank Muamalat Indonesia.

Dus, ia menilai, hal ini terjadi lantaran terobosan yang dilakukan OJK tidak cukup untuk menutupi kelemahan produk ini di sisi yang lain. “Karena isi underlying-nya cuma satu, risikonya jadi tidak terdiversifikasi,” tukas Wawan.

Padahal, potensi yang bisa dimanfaatkan untuk pendanaan infrastruktur cukup besar. Catatan Wawan, di industri asuransi yang mungkin untuk melakukan investasi dalam jangka panjang adalah asuransi jiwa.

Nah, saat ini total aset industri asuransi jiwa sekitar Rp 500 triliun. Yang saat ini sudah diinvestasikan sekitar Rp 400 triliun. Dari angka ini, baru Rp 100 triliun yang masuk ke reksadana. “Asuransi lebih banyak main ke obligasi, saham, dan deposito,” kata Wawan.

Kondisi serupa juga terjadi di industri keuangan non bank lainnya. Para pemilik dana seperti dapen lebih senang menumpuk uang di deposito. Paling banter dana dalam porsi besar ditempatkan di obligasi negara atau saham.

Pemain itu-itu saja
Di tengah kondisi seperti itu,  Dinfra pun diharapkan bisa menjadi penambal kekurangan produk yang sudah lebih dulu ada. Produk ini diharapkan bisa memberikan fleksibilitas bagi manajer investasi (MI).

Ambil contoh, dalam RDPT, MI wajib menempatkan dana antara Rp 5 miliar hingga Rp 15 miliar. Besarannya tergantung nilai dana kelolaan RDPT di MI tersebut.

Dari segi karakteristik proyek, produk anyar ini juga berpotensi memantik minat investor. Sebab, pilihan yang tersedia memang beragam. Dinfra diwajibkan berinvestasi minimal 51% di aset infrastruktur. Nah, aset yang dimaksud di antaranya yang mendukung program pembangunan atau penyediaan infrastruktur pemerintah.

Opsi yang tidak terdapat di produk yang lain ini bisa memberikan rasa nyaman dan jaminan keamanan lebih buat investor. Sebagai perbandingan, selama ini saja proyek-proyek milik BUMN yang dibundel dalam RDPT sukses menarik minat pemilik dana.

“Investor punya keyakinan lebih lah karena yang punya proyeknya BUMN,” ujar Gunadi, Direktur Utama PNM Investment Management.

OJK juga sudah memberikan pilihan exit strategy dalam Dinfra bagi investor. Produk ini bisa ditransaksikan di Bursa Efek Indonesia melalui pasar sekunder. Jika ketemu pembeli yang cocok, jual beli unit penyertaannya bisa digelar.


SUMBER : Tabloid Kontan
Editor Mesti Sinaga

PENDANAAN INFRASTRUKTUR

Feedback   ↑ x
Close [X]