: WIB    —   
indikator  I  
FOKUS /

Handuk putih proyek ambisius

Handuk putih proyek ambisius

Sebelumnya:
Antara janji, mimpi dan realisasi Jokowi (1)
Antara janji, mimpi dan realisasi Jokowi (2)

Politisi di negeri ini mulai sibuk menghitung mundur segala persiapan hajatan politik di tahun 2019. Tak terkecuali dengan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang saat ini berkuasa.

Pemerintah sedikit demi sedikit mengubur target-target ambisius yang sempat dilontarkan dalam perhelatan pemilu 2014. Pemerintah mulai lebih realistis dalam mematok target agar tidak menjadi bumerang.Salah satunya target ambisius Presiden Jokowi membangun pembangkit listrik 35.000 megawatt (MW).

Kini Jokowi lebih realistis dan mengubah cara komunikasi dengan menyebut target proyek menyesuaikan kebutuhan. Artinya, menurut pemerintah, target listrik 35.000 MW itu tidak tercapai karena tidak ada kebutuhan pasokan setrum sebesar itu hingga 2019.

Alasan lain, pertumbuhan ekonomi tak sesuai dengan harapan sehingga permintaan sambungan setrum yang baru tidak besar.

Saat meresmikan dimulainya proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Jawa 7, 9 dan 10, di Cilegon, Banten, Kamis (5/10), Presiden Jokowi menegaskan, target 35.000 MW musti menyesuaikan kebutuhan.

“Masa target kemudian setelah dihitung-hitung dengan pertumbuhan ekonomi misalnya, kebutuhannya tidak 35 GW, tapi 32 GW. Kalau terlalu over membebani PLN,” kata Presiden.

Sebagai gambaran, semula pemerintah memproyeksi pertumbuhan permintaan listrik mencapai 8,6% per tahun, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi di atas 5,6% per tahun bahkan mencapai 7%. Kenyataanya, pertumbuhan ekonomi masih berkutat di kisaran 5%.

Meski target masih jauh panggang dari api, Presiden optimistis saat ini  pasokan setrum sudah memenuhi kebutuhan. Ia mencontohkan, saat berkunjung ke daerah-daerah, dua tahun lalu selalu menemui keluhan byar-pet dari para kepala daerah.

“Sekarang saya enggak denger. Saya ngomong apa adanya. Enggak denger (kesulitan listrik),” klaim Presiden Jokowi.

Ade Sudrajat, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia, tak menampik jika pasokan listrik tahun ini jauh lebih stabil. “Lima tahun lalu tiap bulan ada pemadaman di beberapa lokasi, seperti di Cianjur, tapi tahun ini relatif lebih stabil,” kata Ade.

Ade menyebut, kebutuhan listrik industri tekstil sekitar 1 MW-5 MW per pabrik. Meski berkapasitas besar, industri ini tak mengalami pertumbuhan permintaan pasokan listrik lantaran tak ekspansi setiap saat.


Reporter Dian Sari Pertiwi, Febrina Ratna Iskana, Pratama Guitarra, Syamsul Ashar
Editor Mesti Sinaga

EVALUASI KINERJA JOKOWI

Feedback   ↑ x
Close [X]