: WIB    —   
indikator  I  
FOKUS /

Antara janji, mimpi dan realisasi Jokowi (2)

Antara janji, mimpi dan realisasi Jokowi (2)

Sebelumnya:  Antara janji, mimpi dan realisasi Jokowi (1)

Dari Pinggiran, Demi Orang Kebanyakan

Tepat pada 20 Oktober 2017, Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) resmi tiga tahun berkuasa. Jokowi-JK berkomitmen untuk membangun Indonesia dari pinggiran. Bukan lagi Jawa-sentris melainkan Indonesia-sentris. Tak lupa, janji yang tercatat di Nawacita untuk berpihak terhadap ekonomi rakyat kecil.

Hingga kini pemerintah masih berusaha menepati sebagian janji-janji kampanyenya di tahun 2014. Di berbagai daerah wujudnya mulai terlihat. Yang paling menonjol adalah pembangunan infrastruktur transportasi, termasuk berbasis rel di berbagai pulau besar di luar Jawa.

“Keseluruhan pembangunan jalur kereta api demi mewujudkan visi misi Nawacita, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Soal keberpihakan terhadap ekonomi rakyat kebanyakan, diwujudkan lewat prioritas di bidang pertanian. Juga memacu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan guyuran program kredit ratusan triliun rupiah.

Presiden Jokowi terus berusaha menepati janji-janjinya. Namun sebagian program hingga kini belum terjamah. Berbagai persoalan masih menjadi aral. Simak ulasan berikut.

I. Tak Lagi Jawasentris Transportasi Massal Masih Menghadapi Aral

Tol laut menjadi salah satu program unggulan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) dan tertuang dalam Nawacita. Saat dimulai pada 2015, pemerintah menetapkan 3 trayek.

Pada tahun 2017 trayek tol laut ditambah menjadi sebanyak 13 trayek. Tujuh di antaranya dioperasikan oleh PT Pelni dan 6 rute lainnya dioperasikan oleh swasta.

Dalam tiga tahun terakhir, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah menyelesaikan pembangunan dan pengembangan 104 pelabuhan. Dalam periode yang sama kapal perintis yang dibangun mencapai 103 unit.

Hasilnya? Berdasar data Di- rektorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla) Kemenhub, terjadi penurunan harga beberapa jenis barang di berbagai wilayah. Mulai dari beras, tepung terigu, gula pasir, hingga semen. Pada rentang Agustus 2016-Juni 2017, penurunan harga di beberapa wilayah timur  Indonesia berkisar antara 6% hingga 20%.

Namun, fokus Jokowi-JK di maritim belum menunjukkan perbaikan di sisi logistik. Berda- sarkan Logistics Performance Index (LPI) 2016, peringkat daya saing Indonesia turun 10 peringkat dari posisi tahun 2014 yang bertengger di ranking 53.

Menurut Lollan Panjaitan, Kabag Humas Ditjen Hubla, dari enam indikator yang digunakan LPI, nilai terendah LPI Indonesia ada di kategori infrastruktur dengan skor 2,65, bea cukai 2,69, dan international shipment dengan skor 2,9. “Kondisi ini menunjukkan tiga faktor ini menyebabkan biaya ekonomi tinggi di Indonesia,” kata Lollan.


Reporter Arsy Ani Sucianingsih, Ragil Nugroho, Tedy Gumilar
Editor Mesti Sinaga

EVALUASI KINERJA JOKOWI

Feedback   ↑ x
Close [X]