kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
FOKUS /

Upaya menyelamatkan rupiah: Jalan berliku bawa pulang devisa ekspor (1)


Selasa, 04 September 2018 / 17:04 WIB

Upaya menyelamatkan rupiah: Jalan berliku bawa pulang devisa ekspor (1)
ILUSTRASI. Ajak Pulang Devisa Ekspor


Berita Terkait

Rayu Eksportir, Bank Kerek Bunga Deposito Valas

Jauh sebelum keluar instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar devisa hasil ekspor (DHE) ditarik masuk ke dalam negeri dan disimpan dalam bentuk rupiah, perbankan ternyata telah terlebih dahulu melakukannya.  Upaya ini mereka lakukan dengan mengerek bunga deposito valuta asing (valas).

Mereka berharap, kenaikan bunga tersebut bakal membuat pemilik valas terutama eksportir lebih tertarik menempatkan dananya di perbankan domestik.

Bahkan, sudah ada bank yang berani menawarkan bunga valas nyaris 3% per tahun untuk deposito berjumlah besar. Mengacu data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bunga deposito valas untuk semua tenor telah mengalami kenaikan sejak awal 2018 lalu.

Adapun rentang kenaikan bunga deposito valas dari awal tahun hingga Mei lalu berkisar 3 basis poin (bps) hingga 30 bps. Misalnya, kenaikan bunga deposito valas tertinggi untuk tenor 3 bulan naik 30 bps menjadi 1,86%.

Diikuti bunga deposito tenor 1 bulan naik 17 bps jadi 1,35%. Sedang deposito valas 6 bulan hanyak naik 3 bps menjadi 1,76% dan deposito valas 12 bulan naik 8 bps jadi 1,47%.

Lihat saja, bunga deposito valas di Bank Mandiri yang sekarang dipatok di kisaran 2,5%–3% untuk simpanan jumlah besar.

Angka ini jauh di atas bunga sebelumnya yang berkisar 0,75%.  Saat ini, rata-rata bunga deposito valas Bank Mandiri per 1 Agustus sebesar 1,6% untuk deposito valas 1 bulan dan 6 bulan.

Sementara bunga lebih rendah atau 0,7% untuk deposito valas 3 bulan dan 1 tahun. “Sudah dua minggu lalu naik. Tapi tidak di counter, ya. Ini one on one negotiate rate,” ungkap Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo.

Kenaikan bunga tersebut, Kartika menjelaskan, merupakan salah satu strategi untuk menarik pelaku usaha agar mau menempatkan valas mereka di deposito Bank Mandiri.

Sebab, pelaku usaha pasti membandingkan penempatan valas di berbagai instrumen, baik di dalam dan luar negeri, untuk meraup keuntungan terbaik.

Menurut Kartika, potensi devisa hasil ekspor yang bisa bank-bank pelat merah serap cukup besar, mencapai US$ 500 juta per bulan atau sekitar Rp 7,2 triliun.

Di Bank Mandiri, transaksi jual devisa hasil ekspor tercatat sebesar US$ 150 juta atau Rp 2,1 triliun per hari. “Potensinya besar,” sebut pria yang akrab disapa Tiko ini.

Namun, Tiko bilang, untuk membawa devisa hasil ekspor masuk ke perbankan domestik bukan perkara mudah. Sebab, pengusaha selalu membandingkan imbal hasil jika mereka menempatkan devisa hasil ekspor di luar negeri atau di dalam negeri.

Nah, untuk meningkatkan daya tarik penempatan valas di dalam negeri, maka instrumen domestik harus bisa memenuhi harapan pengusaha. “Maka itu, kami menaikkan suku bunga deposito valas,” kata dia.

Langkah serupa juga Bank Rakyat Indonesia (BRI) tempuh. Sejak Juli lalu, bank BUMN ini mengerek bunga deposito valas sebesar 25 bps.

Haru Koesmahargyo, Direktur Keuangan BRI, mengatakan, langkah ini dilakukan supaya nasabah ekspor tertarik dan menyimpan valas milik mereka di perbankan dalam negeri.

Rencananya, bulan ini BRI kembali mendongkrak bunga deposito valas sebesar 25 bps. Saat ini, bunga deposito valas BRI sebesar 0,5%–1%.

Haru menambahkan, sebanyak 80% DHE yang tertanam di BRI sudah dikonversikan ke rupiah. “Kecuali, bila dipakai untuk impor maka DHE akan ditransfer kembali ke luar negeri,” terang dia.  

Berikutnya: Upaya menyelematkan rupiah: Devisa ekspor siap pulang asal bertabur insentif

** Artikel ini sebelumnya sudah dimuat di Laporan Utama Tabloid KONTAN edisi  13 Agustus-19 Agustus 2018. Artikel berikut data dan infografis selengkapnya silakan klik link berikut:  "Jalan Berliku Bawa Pulang Dollar Ekspor"


Reporter: Havid Vebri, Nina Dwiantika, Ragil Nugroho
Editor: Mesti Sinaga

Video Pilihan


Close [X]
×