kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45709,09   6,67   0.95%
  • EMAS931.000 -0,32%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%
FOKUS /

Menguak hubungan ekonomi RI-Israel: Geliat bisnis wisata rohani (1)


Selasa, 17 Juli 2018 / 16:34 WIB
Menguak hubungan ekonomi RI-Israel: Geliat bisnis wisata rohani (1)
ILUSTRASI. Masjidil Aqsa

Berita Terkait

Reporter: Francisca Bertha Vistika, Fransiska Firlana | Editor: Mesti Sinaga

Rio Pattiselano bisa sedikit bernafas lega, karena akhirnya bisa memberangkatkan puluhan peserta tur wisata rohani ke Kota Yerusalem dan sekitarnya, pada liburan Lebaran kemarin.

Maklum, ia sempat ketar-ketir lantaran pemerintah Israel mengeluarkan kebijakan melarang masuknya turis asal Indonesia ke wilayah yang mereka kuasai.

Israel mengeluarkan pengumuman itu 29 Mei, setelah semua peserta tur telah memenuhi syarat adminstrasi dan tinggal berangkat.

Sedangkan larangan sedianya berlaku per 9 Juni 2018. Rio, pendiri sekaligus Direktur Rhema Tour, pun bersyukur lantaran Israel menunda penerapan larangan masuk bagi turis asal Indonesia, dari yang semula 9 Juni menjadi 26 Juni 2018 atau Selasa pekan ini.

(Setelah tulisan ini tertbit di Tablod Kontan 25 JUni 2018, pada tanggal 27 Juni 2018, akhirnya pemeirntah israel Pemerintah Israel akhirnya membatalkan larangan warga Negara Indonesia (WNI) masuk ke wilayah yang mereka kuasai. Baca: "Israel batalkan larangan masuknya turis asal Indonesia, perusahaan travel bahagia")

Ya, Rhema Tour hanyalah salah satu dari puluhan perusahaan perjalanan wisata rohani yang membawa pelancong Indonesia untuk berkunjung ke negara-negara Timur Tengah,  seperti Mesir, Arab Saudi, Turki, Yordania, Palestina,  termasuk ke Kota Yerusalem yang kini dikuasai oleh Israel.

Pelesiran rohani ke negeri para nabi ini, diminati oleh warga Indonesia dari tiga agama, yakni Kristen, Katholik dan Islam. Untuk wisata rohani bagi umat Islam, biasanya dipaket dengan ibadah umrah, yakni di sekitar Kota Makah dan Madinah, baru ke kota-kota lainnya. semisal menuju Yordania, menyeberang ke Yerusalem.

Sedangkan paket wisata bagi umat Katholik dan Kristen, biasanya diawali dari wisata ke Mesir, lalu beberapa situs kenabian seperti bukit Sinai, juga mengunjungi beberapa gereja bersejarah, lalu ke Yerusalem, Galilea dan beberapa kota lain di Israel-Palestina, sebelum terbang kembali ke Jakarta lewat kota Amman, Yordania.

Rerata tarif paket wisata rohani, baik umrah plus maupun wisata rohani bagi umat Kristiani berkisar US$ 3.000-US$ 4.000 per orang, atau sekitar Rp 42 juta -Rp 56 juta.

Harga bisa lebih murah atau lebih mahal menyesuaikan dengan hotel  dan fasilitas pendukung yang diinginkan oleh peserta tur.

Jumlah turis asal Indonesia yang berkunjung ke Israel terutama Yerusalem bukan sedikit jumlahnya. Dalam catatan  info.goisrael.com, tahun lalu turis Indonesia yang masuk negeri itu mencapai 36.300 orang.

Angka ini belum termasuk warga Indonesia yang melakukan kunjungan ke negeri itu untuk pelbagai keperluan, apakah untuk bisnis maupun menempuh pendidikan, yang jumlahnya sekitar 36.500 (lihat tabel).

Yang menarik, berdasarkan data Kementerian Pariwisata Israel, seperti dikutip Jakarta Post, rerata turis Indonesia di Israel membelanjakan dana sekitar US$ 310 per hari dan US$ 1.600 selama di Israel.

Artinya mereka membelanjakan sekitar Rp 4,4  juta sehari dan Rp 22,5 juta selama berada di Israel. Jika disetahunkan, belanja sebanyak 36.300 turis Indonesia yang berkunjung ke Israel nilainya mencapai Rp 816,75 miliar. Nilai yang tidak sedikit untuk devisa negara.

Alternatif kunjungan

Sekadar catatan, larangan masuk bagi warga Indonesia yang ingin berkunjung ke Israel sejatinya merupakan tindakan balasan.

Seperi kita tahu, pada Mei 2018 pemerintah Indonesia menolak permintaan visa yang diajukan oleh 53 warga Israel yang ingin berkunjung ke Indonesia. Hanya saja, hingga saat ini pemerintah Indonesia tidak pernah memberikan penjelasan alasan penolakan itu.

Namun, buntut ketegangan dan saling balas tindakan diplomatik ini jelas merepotkan pelaku bisnis wisata yang membawa turis ke Israel.

Sebab dengan kebijakan negeri itu melarang masuknya warga Indonesia, membuyarkan rencana yang telah mereka susun, bahkan juga berdampak buruk bagi bisnis mereka.

“Tapi doa kami larangan itu bukan cuma ditunda, tapi dicabut selamanya,” ujar Rio. Selama ini Rhema Tour yang dipimpin Rio kerap membawa umat Katholik dan Kristen untuk mengunjungi situs-situs bersejarah di Israel-Palestina.

Nah, untuk peserta tour yang  akan berangkat selepas bulan Juni, Rio pun hanya bisa memberikan pengertian mengenai kondisi yang terjadi.

Ada dua alternatif yang ditawarkan oleh Rio. Pertama mengalihkan tujuan wisata ke Mesir dan Yordania, atau menunda perjalanan sabil menunggu keputusan pasti jadi atau tidak penutupan pintu bagi turis Indonesia.

Rio bersyukur para peserta tur di Rhema Tour memahami kondisi ini, karena di luar kemampuan dari perusahaan. Saat ini ada sebagian peserta yang setuju dengan tawaran pengalihan tujuan wisata. Namun tak sedikit pula yang pilih menunggu keberangkatan ke Yerusalem setelah ada kepastian.

Memang dampak dari kebijakan Israel menutup pintu bagi turis Indonesia ini tidak menyebabkan kerugian bagi perusahaan maupun konsumen.

“Kami merasa tidak ada yang rugi. Ditunda sambil menunggu kabar bukan suatu kerugian karena kami percaya akan dibuka kembali,” tegas Rio.

Rio mengklaim dalam setahun, Rhema bisa membawa peserta tour Israel kurang lebih sebanyak 1.800 orang. Paket yang ditawarkan oleh Rhema Tour untuk Holyland sekitar US$ 3.990 per orang.

Kendati belum ada putusan pasti akan kebijakan tersebut, pihak Rhema Tour tetap melakukan penawaran perjalanan Holyland. Rio mengaku penawaran pada konsumen masih berjalan seperti biasanya. Perjalanan yang ditawarkan bahkan hingga Maret 2019.

“Kami tetap mengakomodasi turis yang berniat mengunjungi Israel. Nanti begitu larangan dicabut, kami tidak perlu kerja lagi dari nol. Ya, sekarang ini lari-lari kecil sambil menunggu keputusan,” kata Rio.

Berbeda dengan Rhema Tour, Adinda Azzhara Tour yang sudah berpengalaman menawarkan paket wisata muslim ke Israel khususnya Yerusalem terpaksa menghentikan penawaran ke Israel sejak kebijakan pelarangan itu diumumkan.

Menurut Ega, salah satu staf Adinda Azzhara Tour, pihaknya memberangkatkan peserta ke Israel terakhir pada Maret-April 2018.

“Memang tidak banyak yang ke Yerusalem. Biasanya, kami menawarkan terpisah dengan umrah. Tapi sejak ada pengumuman itu, kami hentikan,” kata Ega. Biasanya untuk paket wisata ziarah ini diawali dari Kairo kemudian menuju Yerusalem dan Amman Yordania.

Langkah serupa juga dilakukan Panorama Group. Vice President Brand and Communication Panorama Group AB Sadewa mengatakan, setelah adanya kebijakan dari Pemerintah Israel menutup pintu bagi warga Indonesia, Panorama menghentikan penawaran perjalanan ke Holyland. Panorama terakhir kali memberangkatkan peserta tur ke Israel Mei 2018.

Menurut Sadewa, porsi perjalanan Holyland ke Israel yang mereka tawarkan tidak banyak. Karena memang tidak fokus menggarap wisata ziarah.

“Panorama punya produk Holyland tetapi paling cuma 5% dari inventory ya, bukan total transaksi. Tapi akibat kejadian yang dirugikan bukan cuma perusahaan tur, tapi juga seluruh warga Indonesia,” ujar Sadewa.

Panorama biasanya memberangkatkan tur Holyland tiga bulan sekali. Selagi Israel terutup bagi WNI, Panorama menawarkan tur ke Yordania dan ke daerah Abu Dhabi, Kairo, Betlehem, Tiberias, Petra, dan Amman. Adapun harga paketnya mulai dari Rp 28,5 juta.

Pengelola TourKita.com, Suhendro Sandi, juga menyetop penawaran tur Holyland. Padahal perusahaan ini baru mulai tahun lalu mencari peruntungan bisnis tur wisata Holyland. “Kami baru mulai tawarkan paket tur ini, dan memberangkatkan satu gup tahun lalu. Tahun ini rencananya ada dua grup tapi kami cancel,” katanya.

Tampaknya pelaku bisnis perjalanan wisata tak bisa berbuat banyak terhadap kebijakan tersebut. Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Asnawi Bahar mengatakan, sebagian pelaku industri wisata kini pilih mengalihkan fokus paket wisata ke Vatikan.

Asnawi juga berlega hati karena asosiasi perjalanan wisata Israel memiliki keluhan yang sama dengan kondisi ini. “Mereka juga memprotes kebijakan ini karena juga merugikan industri wisata Israel,” katanya.

Namun, Aldo Rinaldi Koeswara, Direktur PT Stella Kwarta Wisata, menilai, tujuan Vatikan tidak bisa menggantikan Yerusalem, terutama bagi turis Kristen yang gemar dengan ibadah di Yerusalem, Betlehem, Nazaret, Kana, dan Galilea.        ◆

Berikutnya:  Tanpa hubungan diplomatik, RI- Israel tetap melakukan aktivitas perdagangan

Artikel ini sebelumnya sudah dimuat di Laporan Utama Tabloid KONTAN edisi 25 Juni - 1 Juli  2018. Artikel berikut data dan infografis selengkapnya silakan klik link berikut:  "Lebih Bersabar agar Bisa ke Tanah Suci"




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×