kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.920
  • EMAS706.000 0,71%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%
FOKUS /

Menata strategi investasi saat rupiah lemah (2)


Rabu, 29 Agustus 2018 / 13:57 WIB

Menata strategi investasi saat rupiah lemah (2)
ILUSTRASI. Menguji Jurus Baru Membentengi Rupiah

Reksadana

Di instrumen reksadana, pilihan investasi amat bergantung pada tipikal dan horison investasi masing-masing investor. Sebab, strategi dan pilihan jenis reksadana tertentu belum tentu cocok untuk semua investor.

Dalam kondisi pasar seperti sekarang, investasi jangka pendek di bawah satu tahun lebih pas ditempatkan di instrumen reksadana pasar uang.

Maklum, dari sisi risiko jelas lebih rendah namun imbal hasilnya tetap menggiurkan. Dus, investor yang tidak ingin terpapar risiko yang lebih tinggi di tengah volatilitas pasar, juga bisa memilih reksadana ini.

Risiko yang lebih rendah lantaran keranjang investasi reksadana ini berisi deposito perbankan dan obligasi yang jatuh temponya kurang dari setahun.

Sementara imbal hasil yang menarik berasal dari bunga deposito yang menjadi instrumen dengan porsi dominan pada kebanyakan reksadana pasar uang.

Menurut Wawan Hendrayana, demi alasan likuiditas sekitar 70%-80% dari total dana kelola reksadana pasar uang ditempatkan di deposito.

Seiring tren kenaikan suku bunga acuan, tingkat bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ikut naik.

LPS-rate untuk simpanan rupiah di bank umum yang pada Januari 2018 masih di 5,75%, secara bertahap naik hingga 6,25%. Segendang sepenarian, bunga deposito perbankan juga naik dengan tingkat yang serupa.

Nah, dengan begitu, investor di reksadana pasar uang berpotensi mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi. Infovesta sendiri telah menaikkan proyeksi imbal hasil reksadana pasar uang tahun ini dari sebelumnya 4,5% menjadi 5% (net).

“Yield obligasi jangka pendek juga naik,” kata Head of Investment Research Infovesta Utama itu.

Investasi jangka pendek di reksadana berbasis saham dan obligasi dinilai kurang cocok saat ini. Pasalnya, volatilitas di pasar saham dan surat utang masih terjadi sehingga risiko yang dihadapi juga lebih besar.

Sementara bagi investor reksadana yang horison investasinya lebih panjang, peluang justru terbuka di jenis reksadana saham.

Menurut Hanif Mantiq, Direktur Avrist Asset Management, investor bisa memilih produk reksadana dengan acuan saham blue chip atau reksadana berbasis indeks.

Perlu diingat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dalam pola yang secara historis terus berulang. Yakni, setelah menembus rekor baru, indeks bakal terkoreksi untuk kemudian naik lebih tinggi lagi.

Level tertinggi baru tersebut mungkin tidak akan tercipta tahun ini. Infovesta misalnya, merevisi target IHSG dari semula 6.700 menjadi 6.400–6.500.

Nah, jika menggunakan asumsi tersebut, dari posisi IHSG per 27 Juli 2018 yang ada di 5.946,14, artinya potensi pertumbuhannya masih antara 7,6% hingga 9,3%. Infovesta pun  merevisi proyeksi imbal hasil reksadana saham tahun ini dari 10% menjadi 8%–9%.

Jadi, Anda sudah borong instrumen yang mana?       ◆

** Artikel ini sebelumnya sudah dimuat di Laporan Utama Tabloid KONTAN edisi  30 Juli  - 5 Agustus 2018. Artikel berikut data dan infografis selengkapnya silakan klik link berikut:  "Masih Ada Celah, Meski Rupiah Melemah"


Reporter: Tedy Gumilar, Wuwun Nafsiah
Editor: Mesti Sinaga
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0003 || diagnostic_api_kanan = 0.0494 || diagnostic_web = 0.2722

Close [X]
×