Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.488
  • SUN95,67 0,14%
  • EMAS659.000 0,00%
FOKUS /

Habis-habisan memagari rupiah (1)

Selasa, 28 Agustus 2018 / 17:52 WIB

Habis-habisan memagari rupiah (1)
ILUSTRASI. Menguji Jurus Baru Membentengi Rupiah

Berita Terkait

Laiknya sedang bertarung di atas ring, Bank Indonesia (BI) terus adu kuat menghadapi tekanan global yang memporak-porandakan pertahanan rupiah.

Setelah gencar mengintervensi pasar dan mengerek suku bunga acuan, bank sentral mengeluarkan jurus baru untuk menjaga nilai tukar mata uang garuda.

Maklum, rupiah masih babak belur. Sejak dua pekan lalu rupiah beberapa kali tembus di atas 14.500 per dollar Amerika serikat (AS). Padahal cadangan devisa (cadev) sudah banyak tergerus, salah satunya untuk operasi menguatkan rupiah.

Cadev yang akhir Januari lalu US$ 131,98 miliar, di akhir Juni tinggal US$ 119,8 miliar.

Itu sebabnya, meski mempertahankan suku bunga acuan, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI 19 Juli lalu mengaktifkan kembali Sertifikat Bank Indonesia (SBI) tenor 9 bulan dan 12 bulan.

“SBI bisa menambah ragam portofolio asing di pasar keuangan Indonesia,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo.

Sebagai portofolio investasi, SBI memang diperuntukkan bagi investor domestik dan asing. Beda dengan Sertifikat Deposito BI (SDBI) yang hanya untuk investor lokal.

Nah, seiring reaktivasi SBI, bank sentral menghentikan sementara penerbitan SDBI tenor 9 dan 12 bulan. “Supaya instrumen itu jadi SBI,” imbuh Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara.

BI lebih memilih SBI lantaran memang fokusnya saat ini adalah menarik kembali aliran modal dari luar negeri. Persoalan devisa dalam beberapa bulan terakhir jadi momok yang membuat rupiah rentan terhadap sentimen eksternal.

Cerita ini bermula dari devisa sektor perdagangan yang tak bisa terlalu diharapkan. Kinerja ekspor negara kita tidak sebaik yang diinginkan. Sementara di sisi lain ada lonjakan impor yang cukup signifikan.

BI dan pemerintah pun berupaya memperbaiki kondisi ini dengan menggenjot ekspor nasional. Namun, upaya membangkitkan industri dalam negeri untuk meningkatkan kinerja ekspor tidak bisa dilakukan dalam jangka pendek.

Untuk itu, butuh instrumen lain setidaknya yang bisa memasok devisa, biar rupiah mendapatkan pijakan untuk menguat. Artinya, mau tak mau, suka tak suka, kita saat ini butuh pasokan dana asing.

Terlebih, tekanan global semakin kuat. Kenaikan suku bunga bank sentral AS, The Fed memacu pembalikan dana-dana panas dari emerging market, tak terkecuali Indonesia.

Arus dana asing yang keluar deras ini membuat rupiah semakin terbenam. Bagi BI, keputusan mengaktifkan kembali SBI bisa jadi cara paling ampuh untuk mengundang asing kembali masuk ke Indonesia.


Video Pilihan

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0656 || diagnostic_web = 0.3979

Close [X]
×