kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.196
  • EMAS672.000 0,90%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%
FOKUS /

Menata strategi investasi saat rupiah lemah (2)

Rabu, 29 Agustus 2018 / 13:57 WIB

Menata strategi investasi saat rupiah lemah (2)
ILUSTRASI. Menguji Jurus Baru Membentengi Rupiah

Obligasi

Pasar surat utang juga mulai menunjukkan tanda-tanda bergairah. Ini paling tidak bisa dilihat dari akumulasi yang dilakukan oleh investor asing.

Analis Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra mencatat, pada 1 Juli-25 Juli 2018, asing sudah mencatatkan net buy sekitar Rp 5 triliun. Sementara jika diukur dari akhir tahun lalu (year-to-date/ytd), posisinya masih net sell sekitar Rp 960 miliar.

Aksi beli, terutama di minggu-minggu pertama Juli, terjadi bersamaan dengan pergerakan rupiah yang mulai anteng di Rp 14.200–Rp 14.400 per dollar AS.

Namun, saat rupiah mulai berfluktuasi dan menembus ke atas Rp 14.500 per dollar AS, investor asing ikut melepas kepemilikannya di instrumen surat utang Indonesia. Ini terkait strategi mereka mengurangi risiko.

Betul, spread antara surat utang negara (SUN) acuan 10 tahun dengan US treasury bertenor sama sudah melebar hingga 473 basis poin (bps). Selisihnya bahkan jauh lebih lebar ketimbang kondisi normal yang spread-nya sekitar 300-350 bps.

Real interest rate Indonesia juga jauh lebih menarik ketimbang AS. Menggunakan acuan SUN benchmark 10 tahun dengan yield 7,67% dengan inflasi 3,12%, artinya suku bunga riilnya mencapai 4,55%.

Sementara di AS, dengan patokan yield US treasury 10 tahun di 2,94% dan tingkat inflasi inti 2,3%, tingkat bunga riilnya cuma 0,64%.

Namun, investor asing punya pertimbangan lain yang tak kalah penting. Yakni, faktor nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Nilai tukar yang fluktuatif membuat investor asing sulit memproyeksikan keuntungan yang bisa mereka peroleh. Alih-alih meraih laba, keuntungan yang sudah di depan mata bisa terkikis akibat rugi kurs.

Nah, pertimbangan kurs jelas tidak dimiliki investor domestik. Dus, Made dan analis obligasi BNI Sekuritas Ariawan menilai, sekarang adalah saat yang tepat bagi pemain lokal untuk masuk ke instrumen surat utang.

Momentumnya, investor bisa buy on weakness saat pasar dalam tekanan yang membuat yield naik dan harga turun.

Lalu, dapat merealisasikan keuntungan ketika yield melandai dan harga obligasi naik. “Secara historis, dalam 10 tahun terakhir, yield cenderung turun di Oktober, November, dan Desember,” kata Ariawan.

Nah, investor lokal yang agresif menambah kepemilikan di surat utang adalah asuransi. Ini seiring pertumbuhan premi yang terus bertambah sehingga mereka punya alokasi dana investasi yang cukup.

Catatan Made, perusahaan asuransi sudah mengakumulasi SUN sebesar Rp 38,08 triliun, atau tumbuh 25,25% (ytd 25 Juli 2018).

Sementara akumulasi yang dilakukan manajer investasi (MI) tidak terlalu besar. Dalam rentang waktu yang sama, akumulasinya hanya sekitar Rp 8,74 triliun, atau tumbuh 8,4% (ytd).

“Pengelola reksadana nature-nya mengejar performance. Menggeser instrumen tenor panjang ke tenor pendek. Jadi akumulasi yang dilakukan juga tidak terlalu banyak,” terang Made.


Reporter: Tedy Gumilar, Wuwun Nafsiah
Editor: Mesti Sinaga
Video Pilihan

TERBARU
Rumah Pemilu
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0005 || diagnostic_api_kanan = 0.0627 || diagnostic_web = 0.7445

Close [X]
×