kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
FOKUS /

Habis-habisan memagari rupiah (1)


Selasa, 28 Agustus 2018 / 17:52 WIB
Habis-habisan memagari rupiah (1)
ILUSTRASI. Menguji Jurus Baru Membentengi Rupiah

Berita Terkait

Reporter: Havid Vebri, Merlinda Riska | Editor: Mesti Sinaga

Berpotensi Mengganggu Pasar Surat Utang Pemerintah

Keputusan Bank Indonesia (BI) menghidupkan lagi Sertifikat Bank Indonesia (SBI) memang bisa menambah amunisi bank sentral untuk melakukan langkah stabilisasi terhadap nilai tukar rupiah.

Meski begitu, kehadiran SBI berpotensi menganggu pasar surat berharga negara (SBN). Bila ini terjadi, tentu bakal menganggu pembiayaan pemerintah.

Sebab, obligasi negara kerap kali digunakan untuk menambal defisit anggaran yang digunakan untuk membiayai, misalnya, pembangunan infrastruktur, subsidi, dan bantuan sosial.

Kekhawatiran tersebut cukup beralasan. Soalnya, dalam lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada Selasa (24/7) pekan lalu, pemerintah hanya menyerap Rp 4,8 triliun dari target indikatif sebesar Rp 6 triliun.

Penawaran yang masuk juga relatif sepi, hanya senilai Rp 9,88 triliun. Sementara pada lelang 10 Juli lalu berhasil meraup dana segar Rp 8 triliun, dua kali lipat dari target indikatif.

Tak bisa dipungkiri, sepinya lelang obligasi pemerintah ada hubungannya dengan SBI. Sebab, lelang SBI berlangsung satu hari sebelum lelang SBN.

Bila SBN relatif kurang memuaskan, maka tidak demikian dengan lelang SBI. Bank sentral berhasil menyerap sebanyak Rp 5,97 triliun dari lelang lelang SBI tenor 9 bulan dan 12 bulan, dengan total penawaran yang masuk mencapai Rp 14,24 triliun.  Angka tersebut, jauh lebih tinggi dari penyerapan lelang SBSN.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudistira mengatakan, lelang SBN relatif sepi lantaran sebagian dana investor sudah terlebih dahulu masuk ke instrumen bank sentral.

Jika terus menerus terjadi seperti ini, bukan tidak mungkin pasar pemerintah akan terganggu. “Ini tidak sehat, nanti terjadi rebutan dana antara BI dan pemerintah,” ujarnya.

Tapi, Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah menyatakan, bank sentral sudah mengantisipasi agar rebutan dana itu tidak terjadi. Karena lelang SBI dijadwalkan setiap bulan,  maka BI akan terus berkoordinasi dengan pemerintah, supaya tanggal pelaksanaan lelang SBN tidak berdekatan.

Selain jadwal berbeda, karakteristik SBI dan SBN juga berbeda. SBN merupakan instrumen jangka panjang dan biasanya karakteristik investor SBN tidak memperhatikan gejolak ekonomi.

“Sementara SBI instrumen jangka pendek dan tipe investor yang selalu memperhatikan gejolak ekonomi domestik dan global,” ucap Nanang.                                         

Berikutnya:  Menata strategi investasi saat rupiah lemah

Artikel ini sebelumnya sudah dimuat di Laporan Utama Tabloid KONTAN edisi  30 Juli  - 5 Agustus 2018. Artikel berikut data dan infografis selengkapnya silakan klik link berikut:  "Habis-habisan Memagari Rupiah"



Video Pilihan

TERBARU

×