kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45714,01   11,59   1.65%
  • EMAS931.000 -0,32%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%
FOKUS /

Dampak perang dagang oleh Trump: Neraca perdagangan kita meradang (1)


Rabu, 08 Agustus 2018 / 14:27 WIB
Dampak perang dagang oleh Trump: Neraca perdagangan kita meradang (1)
ILUSTRASI. Menakar Dampak Perang Dagang

Berita Terkait

Reporter: Adinda Ade Mustami, Havid Vebri, Merlinda Riska, Ragil Nugroho | Editor: Mesti Sinaga

 ◆ Stimulus Belum Cukup, Butuh Dukungan Lain Juga

Genderang perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China sudah ditabuh.

Perseteruan dua raksasa ekonomi dunia ini bisa membuat defisit neraca perdagangan Indonesia semakin melebar. Untuk menekan defisit agar tidak makin lebar, pemerintah perlu memberikan stimulus untuk mendorong ekspor.

Ekonom BCA David Sumual mengatakan, stimulus tersebut bisa dalam bentuk pemberian subsidi kredit. Di luar negeri, ada fasilitas kredit ekspor yang ditunjang oleh pemerintahnya.

“Biasanya, ekspor dibiayai bank-bank di luar negeri. Nah, produk unggulan kita juga harus didukung bank-bank pemerintah. Ini momentum yang tepat untuk kembali mendorong itu,” imbuh David.

Pemerintah memiliki Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atawa Indonesia Eximbank. Alhasil, pemerintah tinggal membuat regulasi saja untuk mendorong pembiayaan berbunga rendah.

“Ini perlu peran pemerintah termasuk dari Kementerian Keuangan. Ekspor apa yang diberikan subsidi bunga, subsektor, syarat dan ketentuannya, serta negaranya, perlu panduan untuk ini,” ucap David.

Menurut Wakil Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia Shinta Widjaja Kamdani, kalau pemerintah merealisasikan stimulus tersebut itu merupakan inisiatif yang sangat baik.

Pengusaha membutuhkan pembiayaan berbunga rendah terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor makanan dan minuman serta kerajinan. “Tentunya sangat baik inisiatif itu,” kata dia.

Untuk itu, pemerintah perlu kembali memetakan produk-produk ekspor unggulan. Saat ini, produk yang diprioritaskan untuk ekspor, misalnya, minyak kelapa sawit, tekstil, dan alas kaki.

Namun, Shinta mengingatkan, pembiayaan bukan satu-satunya masalah dalam kegiatan ekspor. Perlu juga dukungan berupa pengembangan produk dan promosi untuk penetrasi pasar.

Sebelumnya, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, untuk mendorong peningkatan ekspor, pemerintah akan mengoptimalkan National Interest Account (NIA).

Ini adalah penugasan khusus pemerintah kepada LPEI untuk menyediakan pembiayaan ekspor atas transaksi atau proyek yang dianggap perlu, tapi secara komersial sulit dilaksanakan.

Bentuknya, bisa pembiayaan, penjaminan, dan asuransi ekspor. “Untuk membantu eksportir guna menerobos pasar ekspor yang baru,” ujarnya.       

Berikutnya: Indonesia di ambang perang dagang dengan AS? (2)

Artikel ini sebelumnya sudah dimuat di Laporan Utama Tabloid KONTAN edisi 16 Juli- 22 Juli  2018. Artikel berikut data dan infografis selengkapnya silakan klik link berikut: "Perang Dagang, Neraca Meradang"

 




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×