kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.586
  • EMAS594.906 0,17%
FOKUS /

Indonesia di Ambang Perang Dagang? (2)

Kamis, 09 Agustus 2018 / 16:11 WIB

Indonesia di Ambang Perang Dagang? (2)
ILUSTRASI. Menakar Dampak Perang Dagang




Sebelumnya: Dampak perang dagang oleh Trump: Neraca perdagangan kita meradang (1)

 

Dalam acara halalbihalal Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Kamis, (5/7) pekan lalu, kabar mengagetkan itu berembus.

Di hadapan pengurus Apindo dan pelaku usaha, Ketua Tim Ahli Wakil Presiden Sofjan Wanandi mengungkapkan, bahwa Amerika Serikat (AS) berencana menabuh genderang perang dagang dengan Indonesia.

Peringatan itu keluar tak lama setelah negeri uak Sam resmi memukul genderang perang dagang dengan China.

Dan tak main-main, Presiden AS Donald Trump yang mengeluarkan ancaman tersebut belum lama ini. Sebabnya sama dengan China, ekspor kita lebih besar dibanding barang AS yang masuk ke Indonesia.

Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan, defisit neraca ekspor impor AS dan Indonesia tahun lalu mencapai US$ 9,5 miliar.

Sementara defisit dengan China mengukir rekor tertinggi, dengan nilai lebih dari US$ 375 miliar. Meski jauh lebih kecil dibanding China, buat Trump, defisit dengan Indonesia tetap harus diakhiri agar berubah jadi surplus.

Peringatan dari Trump itu, Sofjan mengungkapkan, dia dengar langsung saat berkunjung ke AS beberapa waktu lalu. Untuk memastikan, saat itu juga ia bertanya langsung ke sejumlah orang hingga petinggi di AS. “Jadi, Trump sudah memberi warning untuk mencabut perlakuan khusus terhadap Indonesia di bidang perdagangan,” ungkap Sofjan.

Selama ini, AS memberikan keringanan tarif bea masuk terhadap barang ekspor dari Indonesia. Fasilitas itu mengalir lewat Sistem Tarif Preferensi atawa Generalized System of Preferences (GSP). Melalui GSP, AS memotong bea masuk impor terhadap sejumlah produk Indonesia.

Tindakan tegas

Nah, fasilitas ini yang sekarang sedang dikaji ulang oleh AS, apakah diteruskan atau dihentikan. Ada sekitar 124 produk dan sektor yang saat ini sedang dievaluasi, termasuk tripleks (plywood), kapas, tekstil, dan beberapa hasil perikanan, seperti udang dan kepiting.

Hasil evaluasi atas GSP tersebut baru keluar akhir tahun ini. “Kita harus benar-benar siap. AS tak main main dalam persoalan ini,” tegas Sofjan.

Jika AS menyetop fasilitas itu, tentu produk ekspor Indonesia bakal kena bea masuk dengan tarif normal. Alhasil, harga jual ke konsumen di AS bakal naik, yang bisa berefek ke permintaan.

Tarif bea masuk yang normal ini akan melemahkan daya saing produk Indonesia di pasar AS. Kalau ekspor turun, jelas memengaruhi posisi neraca perdagangan.

Tak pelak, pemerintah langsung bereaksi atas rencana AS tersebut. Pemerintah pun membentuk tim khusus untuk melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat.

Tim ini beranggotakan Kementerian Perdagangan (Kemdag), Kementerian Luar Negeri (Kemlu), dan beberapa kementerian terkait lain.

Oke Nurwan, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemdag, mengatakan, Indonesia akan segera terbang ke Amerika untuk menemui Pemerintah AS melalui United State Trade Representative (USTR).

Ini merupakan lembaga yang bertanggungjawab untuk mengembangkan dan merekomendasikan kebijakan perdagangan ke Presiden AS. “Rencananya tanggal 17 Juli nanti kami bertemu membahas masalah ini,” katanya.


Reporter: Havid Vebri, Lamgiat Siringoringo
Editor: Mesti Sinaga

PERANG DAGANG GLOBAL

TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0008 || diagnostic_api_kanan = 0.0449 || diagnostic_web = 0.2456

Close [X]
×