kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.920
  • EMAS706.000 0,71%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%
FOKUS /

Asa membangkitkan rupiah yang luruh: Bauran kebijakan demi keamanan (1)


Selasa, 02 Oktober 2018 / 16:52 WIB

Asa membangkitkan rupiah yang luruh: Bauran kebijakan demi keamanan (1)
ILUSTRASI. Asa Membangkitkan Rupiah yang Luruh

Meski dipercaya bisa mengurangi tekanan terhadap rupiah dan defisit, dampak kebijakan tarif PPh impor terhadap 1.147 barang konsumsi tersebut tidak terlalu signifikan.

Pasalnya, kata Bhima, kontribusi barang konsumsi terhadap total impor hanya sekitar 9%.

Sementara, pos impor non-migas terbesar masih dikuasai oleh bahan baku dan barang-barang keperluan industri. Cuma, meski bisa mempengaruhi neraca ekspor-impor secara signifikan, dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi bakal lebih besar.

Demi menyelamatkan rupiah, beberapa cara sebetulnya juga ditempuh pemerintah. Misalnya, menunda proyek pembangunan pembangkit listrik.

Dari 35.000 megawatt (MW) yang direncanakan, pemerintah memutuskan menunda 15.200 MW untuk jangka waktu setahun. Nilai investasi proyek pembangkit listrik yang ditunda ini mencapai US$ 25 miliar.

Antara 60% hingga 80% kebutuhan proyek listrik masih harus diimpor. Dus, perhitungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dengan penundaan ini, beban impor berkurang antara US$ 8 miliar hingga US$ 10 miliar. Dengan asumsi kurs Rp 14.900 per dollar AS, nilainya setara dengan sekitar Rp 149 triliun.

Jurus menahan impor lain melalui program B20, alias pencampuran 20% biodiesel dengan solar subsidi dan non-subsidi mulai bulan ini.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebut, program B20 bisa mengurangi impor solar hingga 4,5 juta kiloliter setahun.

Walhasil, devisa yang bisa dihemat mencapai US$ 5,5 miliar (lebih lanjut baca halaman 16–17)

Menarik DHE

Salah satu cara yang dinilai paling ampuh dalam meredakan tekanan atas rupiah adalah menarik pulang Devisa Hasil Ekspor (DHE).

Urgensinya makin tinggi, lantaran kondisi likuiditas dollar AS yang mengetat di tanah air. Jika pasokan dollar AS bertambah, otomatis tekanan akibat konversi dari rupiah ke dollar AS bisa berkurang. Tentu, efeknya akan jauh lebih signifikan saat DHE dikonversi jadi rupiah.

Potensi DHE yang bisa menjadi cadangan devisa Indonesia terbilang besar. Berdasar data BI, sepanjang kuartal II 2018, para eksportir menghasilkan DHE US$ 34,7 miliar.

Sebanyak US$ 32,1 miliar di antaranya, setara 92,4% dari total DHE masuk ke perbankan di Indonesia. Persoalannya, dari US$ 32,1 miliar yang disimpan di perbankan domestik, hanya US$ 4,4 miliar yang dikonversi menjadi rupiah.

Padahal, jika setengahnya saja yang dikonversi ke rupiah, cadev Indonesia bakal menggemuk. Dengan begitu, likuiditas dollar AS di dalam negeri bakal lebih longgar.

Secara psikologis, tambahan pasokan valas memberi sinyal positif bagi investor, terutama asing.

Agar eksportir kian tertarik, sejak jauh-jauh hari pemerintah menawarkan gimmick yang diakomodasi lewat diskon Pajak Penghasilan (PPh) atas bunga deposito.

Besaran diskon yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 26/PMK.010/2016, itu tergantung mata uang dan durasi mengendap dana tersebut di perbankan.

Jika DHE disimpan dalam dolar AS di bank dalam negeri selama satu bulan, PPh atas bunga deposito dipangkas dari tarif normal 20% menjadi 10%.

Atas bunga deposito dollar AS berjangka tiga, enam, dan satu tahun masing-masing dikenai PPh 7,5%, 2,5 %, dan 0%.

Insentif lebih besar diberikan jika dana dikonversi ke rupiah. Atas deposito hasil konversi DHE ke rupiah berjangka satu bulan dikenai PPh 7,5% dan deposito tenor enam bulan kena 5%.

Sementara untuk tenor enam bulan ke atas dibebaskan dari PPh atas bunga deposito.

Sayangnya, insentif tersebut kurang diminati eksportir yang  tampaknya lebih nyaman memegang dollar AS. Soal ini pengusaha punya beberapa alasan.

Misalnya, sebagian produk yang diekspor dihasilkan lewat bahan baku impor. Perusahaan yang memiliki utang berdenominasi dollar AS juga butuh the greenback untuk membayar kewajibannya.

Dus, dengan rupiah yang berfluktuasi, pengusaha menghadapi risiko rugi selisih kurs jika tidak menggenggam dollar AS sejak awal.

Cuma, risiko kerugian akibat fluktuasi kurs, sebetulnya bisa dikendalikan sejak awal jika perusahaan menerapkan hedging. Dengan ketidakpastian yang masih menghantui ekonomi global, hedging bisa menjadi instrumen yang efektif.

Sayangnya, tidak semua pengusaha paham soal mekanisme dan cara kerja hedging. Dalam sebuah diskusi soal DHE pertengahan bulan lalu, Wakil Ketua Umum Kadin Benny Soetrisno menyebut, sekitar 10%–15% anggota Kadin belum mengetahui cara hedging.

Ini tanggungjawab asosiasi pengusaha dan pemerintah untuk melakukan sosialisasi agar hedging menjadi praktik yang lumrah di korporasi.


Reporter: Tedy Gumilar, Wuwun Nafsiah
Editor: Mesti Sinaga
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0476 || diagnostic_web = 0.2684

Close [X]
×