Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.488
  • SUN95,67 0,14%
  • EMAS659.000 0,00%
FOKUS /

Asa membangkitkan rupiah yang luruh: Bauran kebijakan demi keamanan (1)

Selasa, 02 Oktober 2018 / 16:52 WIB

Asa membangkitkan rupiah yang luruh: Bauran kebijakan demi keamanan (1)
ILUSTRASI. Asa Membangkitkan Rupiah yang Luruh

Tekanan bertubi-tubi yang dihadapi rupiah tidak bisa diselesaikan dengan satu strategi saja. Bauran kebijakan dan sinergi antara otoritas moneter serta fiskal bisa menjadi obat kuat bagi rupiah.

Bank Indonesia (BI) sudah lebih dulu mengambil langkah untuk meredakan tekanan terhadap rupiah, mulai menaikkan suku bunga acuan hingga melakukan pendalaman pasar demi meraup lebih banyak valas.

Sayangnya, kata Bhima Yudhistira, ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef), justru pemerintah yang terkesan terlambat memberikan respons.

Setelah otoritas moneter berulangkali menyesuaikan suku bunga hingga 125 bps dan rupiah menembus serangkaian level psikologis, baru muncul kebijakan di sisi fiskal.

Awal September menjadi penanda beberapa kebijakan pemerintah untuk mengatasi tekanan atas rupiah. “Koordinasi fiskal dan moneter yang harus ditekankan,” tandasnya.

Namun, terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Apa strategi yang telah dan bisa diambil pemerintah dan BI? Apa saja tantangannya? Simak ulasan berikut.

Kebijakan impor

Current account balance yang defisit dianggap menjadi salah satu sentimen negatif Indonesia di mata investor asing. Dus, pemerintah mengambil berbagai cara agar tak terus-menerus didera defisit, minimal levelnya bisa lebih rendah dari posisi saat ini.

Salah satunya dengan menaikkan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 terhadap 1.147 barang konsumsi impor, mulai September 2018.

Selain bisa menurunkan current account deficit (CAD), langkah ini juga meredakan tekanan terhadap rupiah secara langsung. Sebab, kebutuhan terhadap dollar AS untuk mengimpor barang tersebut diharapkan bisa menurun.

Tahun lalu, nilai impor 1.147 barang konsumsi tersebut mencapai US$ 6,6 miliar. Tahun ini, hingga bulan Agustus saja, nilainya sudah mencapai US$ 5 miliar.

Dari 1.147 barang, terbagi dalam tiga pos tarif. Pertama, kenaikan PPh dari 7,5% menjadi 10% untuk 210 item komoditas, seperti mobil mewah.

Kedua, kenaikan tarif PPh 22 dari 2,5% menjadi 10% untuk barang konsumsi yang sebagian besar bisa diproduksi di dalam negeri. Misalnya, peralatan elektronik hingga kosmetik.

Ketiga, pos tarif PPh 22 atas 719 barang yang naik dari 2,5% menjadi 7,5%. Di antaranya bahan bangunan, ban, dan produk tekstil.


Video Pilihan

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.1601 || diagnostic_web = 0.4489

Close [X]
×