: WIB    —   
indikator  I  
FOKUS /

Siap-siap, properti menanti musim semi (2)

Siap-siap, properti menanti musim semi (2)

Sebelumnya: Siap-siap, properti menanti musim semi (1)

Ini Bukan Semata Soal Suku Bunga

Jika properti residensial mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan, lain halnya dengan kondisi di properti komersial. Secara umum, pasar properti di segmen ini nampaknya masih tiarap dan membutuhkan waktu lebih lama untuk bangkit.

Maklum, perkembangan properti komersial tidak hanya terkait urusan suku bunga dan pertimbangan kondisi politik. Faktor kondisi ekonomi nasional ikut berpengaruh terhadap maju atau mundurnya bisnis di segmen ini.

Sebagai gambaran, kondisi properti komersial yang belum stabil bisa dilihat dari riset yang digelar oleh Bank Indonesia (BI) dan perusahaan konsultan properti. Data bank sentral misalnya menunjukkan, perlambatan di properti komersial terjadi mulai dari sisi harga, pasokan, dan permintaan.

Lihat saja, indeks harga properti komersial pada triwulan II 2017 cuma tumbuh 0,03% (quartal-to-quartal/qtq). Padahal triwulan I 2017 pertumbuhannya masih bisa mencapai 3,04%.

Di sisi pasokan dan permintaan, kondisinya pun segendang sepenarian. Indeks pasokan properti komersial cuma tumbuh 0,10% (qtq) berbanding 0,59% (qtq) di triwulan sebelumnya. Sementara permintaan hanya bisa meningkat 0,23% (qtq), berbanding triwulan sebelumnya yang 0,40% (qtq).

Relasi properti komersial dengan kondisi perekonomian yang paling erat bisa dilihat dari pasar ruang perkantoran di kawasan ibukota. Jakarta bisa menjadi tolak ukur lantaran kota ini menjadi pusat industri keuangan dan bisnis di tanah air.

Pangsa pasarnya menyasar korporasi yang memiliki perhitungan bisnis relatif lebih ketat. Misalnya, dibanding pasar properti residensial yang kebanyakan menyasar konsumen perorangan.

Ditambah lagi, pasokan ruang perkantoran saat ini boleh dibilang membludak. Ketika booming properti hingga 2013–2014 silam, para pengembang berbondong-bondong membangun gedung perkantoran.

Namun kondisi berubah seiring ekonomi Indonesia yang melemah didorong turunnya harga komoditas. “Sekarang suplai yang mau masuk ke pasar dibayang-bayangi penyerapan yang sulit,” kata Anton Sitorus, Head of Research and Consultancy PT Savills Consultants Indonesia.

Gambarannya bisa dilongok dari riset Colliers International Indonesia. Hingga kuartal II 2017, tingkat okupansi ruang kantor di kawasan Central Business District (CBD) Sudirman, Jakarta ada di kisaran 83,9%.

Di sisi lain, jika penyelesaian proyeknya sesuai rencana, akan ada tambahan pasokan ruang sebanyak 512.537 meter persegi (m²).

Alhasil, tingkat okupansi ruang kantor di CBD akan merosot ke bawah 80% hingga akhir tahun. Kondisi yang tidak jauh berbeda juga bisa dijumpai untuk pasar ruang perkantoran di luar kawasan CBD Jakarta.


Reporter Arsy Ani Sucianingsih, Ragil Nugroho, Tedy Gumilar
Editor Mesti Sinaga

INDUSTRI PROPERTI

Feedback   ↑ x
Close [X]