kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.552
  • SUN103,81 -0,11%
  • EMAS609.032 0,84%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%
FOKUS /

Pembatasan impor tembakau justru jadi kompor (1)

Selasa, 16 Januari 2018 / 14:18 WIB

Pembatasan impor tembakau justru jadi kompor (1)
ILUSTRASI. Harga tembakau Madura

Komitmen tersebut berlaku untuk satu tahun dalam besaran tertentu. Sehingga importir juga bisa mulai mengimpor dalam besaran tertentu. “Kalau butuhnya (tembakau impor) 5 kilogram dan harus membeli (tembakau lokal) 5 kilogram. Tapi lokalnya hanya ada 3 kilogram, masak dia harus nurunin belinya,” kata Oke.

Nah, seperti apa formula volume tembakau lokal yang harus diserap untuk bisa mengimpor dalam volume tertentu, belum juga ada keputusannya. “Masih belum final, gambarannya antara 80%–100%. Masih didiskusikan dan masih belum menemukan kata sepakat,” kata seorang pejabat di Kementerian Pertanian.

Bikin bingung
Tak urung, soal kewajiban menyerap tembakau lokal, ini membingungkan asosiasi petani tembakau. Dalam beberapa kesempatan, Mendag Enggartiasto Lukita menyebut tembakau lokal harus terserap dulu 100%. Baru kemudian pabrikan boleh mengimpor tembakau.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno mengaku tidak paham dengan maksud pemerintah. Ia mengakui, memang tidak semua tembakau lokal berkualitas baik. Namun, seluruh produksi tembakau nasional masih bisa diserap oleh industri pengguna.

Dus, pembatasan impor sebetulnya bukan hal yang terpenting bagi petani tembakau. “Sekitar 40% hingga 50% tembakau diserap oleh industri pengolahan tembakau skala besar. Sisanya diserap oleh industri pengolahan tembakau skala kecil,” kata Soeseno.

Soal koordinasi antar kementerian juga masih menjadi penghambat sehingga implementasi aturan ini terkesan minim persiapan. Contoh paling kentara adalah soal jenis tembakau yang impornya dibatasi.

Kementerian Pertanian yang sebetulnya paling paham soal ini, malah mengaku sedang mengomunikasikannya dengan Kementerian Perdagangan.

Merujuk pada lampiran Permendag 84/2017, ada tiga jenis tembakau yang terkena aturan ini. Yakni tembakau jenis virginia, burley, dan oriental. Produksi tembakau virginia dan burley di Indonesia sangat sedikit dan tidak bisa memenuhi kebutuhan nasional.

Produksi tembakau virginia misalnya, hanya sekitar 38.371 ton per tahun. Sementara kebutuhannya mencapai 80.000 ton per tahun. Bahkan, untuk tembakau oriental samasekali tidak diproduksi di Indonesia.

Padahal kata Ketua Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gaprindo) Muhaimin Moeftie, jenis-jenis tembakau yang terkena pembatasan impor itu sangat diperlukan sebagai bahan baku campuran dalam produksi rokok. “Intinya impor masih tetap diperlukan dan aturan ini harus dikaji ulang,” pintanya.


Reporter Abdul Basith, Arsy Ani Sucianingsih, Ragil Nugroho, Tedy Gumilar
Editor : Mesti Sinaga

TEMBAKAU

Berita terbaru Fokus

Tag
Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hotel Santika Hayam Wuruk
07 March 2018 - 08 March 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy
Close [X]