: WIB    —   
indikator  I  
FOKUS /

Pangkas massal anak cucu BUMN (2)

Pangkas massal anak cucu BUMN (2)

Menurutnya, gesekan antara pengusaha swasta dengan anak dan cucu BUMN di lapangan cukup tinggi. Penyebabnya, bagian pekerjaan yang harusnya sudah diserahkan BUMN ke swasta masih digarap anak dan cucu BUMN tersebut.

Masalah bukan pada ketidakmampuan perusahaan swasta, melainkan keengganan BUMN untuk berbagi dengan entitas luar.

Namun, untuk mengatasi permasalahan tersebut, penjualan perusahaan-perusahaan yang didirikan oleh BUMN bukanlah prioritas. “Prinsipnya penjualan itu opsi terakhir. Kalau bisa dimerger, ya, dimerger. Kan, ada anak cucu yang sama (bidang usahanya) tuh,” tukas Bahlil.

Cara lain

Kementerian BUMN sendiri rupanya punya cara lain mengatasi banyaknya perusahaan yang dibikin oleh BUMN. Bukan langsung lewat likuidasi atau merger.

Merger dan likuidasi hanya salah satu dari sekian banyak pola restrukturisasi yang tersedia. “Satu yang ditekankan Menteri BUMN, jangan sampai mengganggu struktur manajemen dulu. Jangan menciptakan keresahan di SDM. Kalau bicara merger, sudah diartikan nightmare,” kata Sekretaris Kementerian BUMN Imam Apriyanto Putro.

Saat ini ada sekitar 1 juta orang yang bekerja di BUMN. Ini belum termasuk pekerja yang secara tidak langsung terkait dengan BUMN. Dari sisi usia, rata-rata pegawai itu masih dalam usia produktif.

“Holding itu harus menjadi pilihan yang bagus. Proses bisnisnya yang kita sentuh terlebih dahulu. Nanti SDM-nya menyesuaikan,” imbuh Imam.

Holding BUMN akan merapikan entitas-entitas yang ada dalam satu sektor tertentu. Misal, saat ini BUMN-BUMN karya memiliki anak usaha di bidang properti. Ada Waskita Realty, WIKA Realty, dan PP Property. Adhi Karya hingga Pegadaian juga memiliki anak usaha di bidang properti.

Nah, perusahaan-perusahaan yang bisnisnya serupa ini akan dikelompokkan dalam satu pengelolaan oleh induk perusahaan BUMN.

Pengelompokan lewat holding juga diterapkan di sektor lain. Misalnya, rumah sakit yang dimiliki oleh BUMN. Saat ini sudah terbentuk holding rumah sakit BUMN. Yang berperan sebagai holding adalah PT Pertamedika Indonesia Healthcare Corporation (IHC).

Proses streamlining ini dinilai bisa membuat BUMN lebih efisien sehingga produk yang dihasilkan akan lebih kompetitif.  Struktur permodalan holding bakal lebih kuat. Pasar yang bisa dijangkau pun menjadi lebih luas. Demikian pula,  pasokan bahan baku bisa lebih termonitor dengan harga yang kompetitif.

Ambil contoh soal pengadaan obat-obatan yang merupakan komponen besar di bisnis rumah sakit. Jika dikelola holding, harga bisa lebih murah lantaran pembelian dilakukan dalam partai besar. Selain itu, standardisasi pelayanan rumah sakit dan tenaga medis juga bisa diterapkan sehingga memberi keuntungan bagi pasien.

Setelah terbentuknya holding, Kementerian BUMN bisa melakukan kajian untuk meningkatkan nilai dari induk usaha. Misalnya, dengan memilah dan mengkaji mana anak-anak atau cucu BUMN yang lebih bermanfaat dalam bentuk cash atau memberikan nilai tambah dalam bentuk bisnis.

“Kelak partisipasi masyarakat bisa dalam bentuk penguasaan penuh atau kami melakukan tawaran untuk melakukan penyertaan sebagian melalui IPO,” ujar Imam.


Reporter Agus Triyono, Arsy Ani Sucianingsih, Ragil Nugroho, Tedy Gumilar
Editor Mesti Sinaga

HOLDING BUMN

Feedback   ↑ x
Close [X]