: WIB    —   
indikator  I  
FOKUS /

Pangkas massal anak cucu BUMN (2)

Pangkas massal anak cucu BUMN (2)

Sebelumnya: Pangkas massal anak cucu BUMN (1)

Ada Opsi yang Tidak Bikin Gaduh

Usai bertemu Presiden Jokowi dan 10 menteri di Istana Negara Jakarta, 26 Oktober lalu, Rosan Roeslani memberi kabar mengejutkan. Jokowi, kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) itu, setuju untuk menjual perusahaan-perusahaan yang didirikan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Anak dan cucu perusahaan milik negara yang akan dijual  adalah yang tidak berhubungan dengan core bisnis induknya. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai 600 perusahaan.

“Tadi Presiden katakan, akan merger, jual BUMN yang tidak berhubungan dengan bisnis inti mereka, sehingga anak cucu BUMN bisa dikurangi dari 800 jadi 200,” kata Rosan.

Rosan menyatakan, pengusaha nasional siap membeli perusahaan-perusahaan tersebut. Sumber pendanaan tidak akan sulit dicari, sebab anak dan cucu BUMN itu sudah beroperasi dan kondisi keuangannya juga bisa diketahui.

Sebelumnya, Jokowi memang mengaku sudah menyampaikan amanat kepada para menterinya saat rapat kabinet paripurna. Dia memerintahkan, agar 800 perusahaan yang didirikan BUMN dimerger atau dijual.

Namun, perintah Jokowi dan dorongan dari pengusaha tampaknya tidak bakal berjalan mulus. Bukan apa-apa, risiko yang mesti ditanggung tidak bisa dianggap remeh.

Yang paling dekat dengan pelupuk mata tentu risiko politik. Memang penjualan anak dan cucu usaha, bahkan BUMN induknya sekalipun, bukanlah kebijakan yang haram.

Sebab, privatisasi BUMN memang dimungkinkan secara regulasi setelah lebih dulu meminta restu Dewan Perwakilan Rakyat.Namun, risiko politiknya bakal menjadi pemberat langkah Jokowi mempertahankan kekuasaannya.


Reporter Agus Triyono, Arsy Ani Sucianingsih, Ragil Nugroho, Tedy Gumilar
Editor Mesti Sinaga

HOLDING BUMN

Feedback   ↑ x
Close [X]