kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.907
  • SUN102,00 -0,22%
  • EMAS614.076 0,00%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%
FOKUS /

Menyoal kelayakan alat berat konstruksi (2)

Selasa, 10 April 2018 / 14:16 WIB

Menyoal kelayakan alat berat konstruksi (2)
ILUSTRASI. Alat Berat PT Intraco Penta Prima Servis (IPPS)
Berita Terkait

Belum ada data pasti

Selain impor bekas, pengusaha alat berat khusus konstruksi tak punya pilihan selain membeli baru. Namun, kata Sjahrial, alat berat baru yang ada di pasaran itu pun sumbernya impor juga. Maklum, alat berat konstruksi hasil rakitan dalam negeri terbatas beberapa produk saja, seperti buldoser dan eskavator.

Sementara untuk crane, loader dan alat khusus lainnya, hampir semuanya harus didatangkan dari luar negeri.

Sjahrial berharap agar crane serta alat berat konstruksi lainnya bisa diproduksi di dalam negeri. Namun sejauh ini belum ada investor yang tertarik masuk ke bisnis ini karena tak ada data pasar crane di Indonesia. “Ini jadi persoalan, tak ada data yang bisa menjadi acuan bisnis,” katanya.

Sampai saat ini, ujar  Sjahrial, pemerintah belum mengetahui jumlah pasti perusahaan penyedia jasa sewa alat berat berikut jumlah alatnya.

“Selama ini alat berat tidak wajib punya nomor kendaraan seperti kendaraan bermotor,” jelas Sjahrial yang juga duduk sebagai Ketua Komite Daya Saing, Dukungan Daya Saing & Kerjasama Luar Negeri, Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional.

Untuk mengatasi masalah ini, Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) membuat kebijakan registrasi alat berat mulai awal 2018.

Namun hingga saat ini baru 168 perusahaan yang berpartisipasi. “Karena aturan tidak tegas, tidak ada paksaan,” ujar Sjahrial.
Tanpa data yang akurat, tentu pemerintah akan kesulitan membuat kebijakan  untuk menata industri ini. 

◆ Mulai Kewalahan Saat Permintaan Makin Berlimpah

Produksi alat berat kembali sumringah dalam dua tahun terakhir. Setelah melorot hingga 31% dari periode 2014-2015, pada 2015-2016 lalu,  produksi sudah naik sekitar 5%. Kemudian pada periode 2016-2017 terjadi lonjakan hingga 52%.

Tahun ini, produsen alat berat optimistis, produksi alat berat tahun ini akan terus tumbuh hingga mencapai 7.000 unit, jauh di atas produksi tahun lalu (lihat Infografis).

Namun, meskipun produksi dilakukan optimal, pasokan alat berat baru ini tak cukup, lantaran perkiraan kebutuhan mencapai 10.000 unit.

Salah satu pemicu lonjakan produksi alat berat ini adalah harga batubara di pasar global yang mulai menghangat.  Ditambah lagi dengan melonjaknya harga minyak kelapa sawit mentah alias crude palm oil (CPO).

“Harga batubara semakin bagus, perusahaan tambang mulai menggali. Kontraktor mulai pesan lagi,” kata Managing Director PT Intraco Penta Prima Servis (IPPS) George Setiadi.

Pada tahun 2017, papar George, penjualan alat berat  IPPS sudah naik tinggi, yakni 30% sampai 40% dibandingkan dengan 2016. IPPS optimistis, tahun ini penjualannya masih bisa tumbuh tinggi lagi, yakni di atas 30%.

Keyakinan IPPS itu ada dasarnya. Harga batubara yang masih tinggi di level US$ 80 per metrik ton, membuat produsen batubara bersemangat untuk mengeruk lahan tambang mereka. Ditambah lagi dengan siklus lima tahunan, di mana kontraktor pertambangan biasanya melakukan pembaruan alat berat.

Agar penjualan lebih bergairah, Intraco Penta menyiasati bisnis dengan cara menambah varian produk alat berat. Jika sebelumnya hanya menjual Volvo dan SDLG, kini mereka mulai menjual alat berat jenis rigid dumb truk merek Terex.

Produsen lain, PT United Tractors Tbk (UT) tahun ini pasang target penjualan alat berat secara keseluruhan sebesar 10%. Tahun lalu, penjualan alat berat perusahaan ini mencapai 3.800 unit, dari angka tersebut, penjualan alat berat untuk pertambangan sekitar 40%.

“Pemilik tambang lebih percaya diri melakukan perencanaan produksi sejak harga batubara naik. Karena itulah mereka membutuhkan tambahan alat. Nah mulai saat itu mereka mulai melakukan komunikasi dengan kami, sebagian sudah order mulai semester II tahun lalu,” ujar Sara K. Loebis Sekretaris Perusahaan United Tractor.

Ketua Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi) Jamaluddin mengatakan, meskipun permintaan tahun ini terbilang naik tinggi dalam lima tahun terakhir, tapi sejatinya belum setinggi permintaan tahun 2011 yang mencapai 17.000 unit. Pada periode tersebut produksi alat berat dalam negeri hanya 8.000 unit.

Namun, permintaan alat berat yang besar tahun ini tak bisa dipenuhi secara serta merta oleh produsen. Sebab mereka tak mampu mendongkrak kapasitas produksi dalam waktu cepat.

“Kemampuan supply dan kecepatan delivery menjadi tantangan bagi kami. Praktis costumer kan maunya cepat, semua maunya kuartal satu. Tapi faktanya, kami harus mengatur supaya aliran logistik rapi,” ujar Iman Nurwahyu, Direktur Sales Operation UT.  

Intraco Penta pun sepakat dengan kondisi ini. Sebab lesunya industri selama beberapa tahun terakhir, membuat para produsen belum percaya diri. “Sekarang banyak yang minta, ya, mau tak mau harus mengantre dulu,” ujar George.

Sebagai gambaran, industri alat berat yang mati suri cukup lama  membuat banyak mesin produksi tak beroperasi. Walhasil produksi lambat, meski permintaan naik.

Jamalludin menambahkan, ketersediaan sumber daya manusia untuk merakit alat berat juga terbatas. Maklum, saat industri alat berat lesu, jumlah karyawan di industri ini yang semula mencapai 17.000 karyawan menyusut jadi tinggal 13.000 karyawan. “Sekarang baru mulai nambah,” ujarnya.

Industri ini juga mengalami kesulitan memenuhi pasokan suku cadang. Hanya saja, para produsen alat berat yakin, kendala ini segera bisa diatasi.
Iman  Nurwahyu mengatakan, saat ini semua prinsipal mendukung upaya meningkatkan produksi.  “Kami bisa memenuhi, hanya saja tidak bisa semuanya,” katanya.

Artikel ini sebelumnya sudah dimuat di Laporan Utama Tabloid KONTAN edisi 5 Maret - 11 Maret 2018. Artikel berikut data dan infografis selengkapnya silakan klik link berikut: "Berebut Menyewakan Alat Berat"


Reporter: Adinda Ade Mustami, Asnil Bambani Amri, Fransiska Firlana
Editor: Mesti Sinaga

PROYEK INFRASTRUKTUR

Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hotel Santika Premiere Slipi Jakarta
14 May 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy
Close [X]
×