| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.473
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS600.960 -0,17%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%
FOKUS /

Menyoal kelayakan alat berat konstruksi (1)

Senin, 09 April 2018 / 18:13 WIB

Menyoal kelayakan alat berat konstruksi (1)
ILUSTRASI. CRANE PROYEK DDT ROBOH
Berita Terkait

 

Menilik Kelayakan Operasional Alat Berat

Sederet peristiwa mengenaskan terkait pengerjaan konstruksi telah mewarnai proyek infrastruktur di era pemerintahan Presiden Joko Widodo ini. Terjadi belasan kecelakaan pengerjaan konstruksi dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir.

Namun, dari banyak asumsi kecelakaan, faktor kelalaian pekerja cenderung menjadi asumsi banyak pihak. Ambil contoh, ambruknya crane pengangkut beton proyek double-double track (DDT) di Jatinegara, Jakarta Timur yang mengakibatkan empat orang tewas.

Dalam peristiwa naas itu, kepolisian membuat kesimpulan, ada potensi kelalaian dari pekerja konstruksinya. Dari penelusuran KONTAN, belum ada pihak yang secara serius mempertanyakan faktor kelayakan operasional dari alat berat yang digunakan operator.

Padahal, alat berat yang digunakan untuk proyek tersebut berpeluang menimbulkan masalah. Terlebih, jika alat berat yang dipakai tak layak dioperasikan.

Seperti layaknya perangkat lain, banyak alat berat yang direkondisi atau dipaksa tetap dioperasikan, meski sudah renta dimakan usia. Ini mungkin terjadi, sebab pemerintah Indonesia telah membuka keran impor alat berat bekas rekondisi sejak tahun 2015 (lihat tabel). 

Hak impor alat bekas rekondisi itu diberikan pada perusahaan kontraktor atau pengguna langsung, juga kepada perusahaan yang fokus di bisnis alat berat.

Namun, adanya asumsi kecelakaan akibat adanya penggunaan alat bekas atau rekondisi itu dibantah oleh Benny Kurniajaya, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Rekondisi Indonesia (Aparati).

Menurut Benny, kecelakaan alat konstruksi muncul karena ada pengabaian faktor keselamatan dalam pelaksanaan proyek. “Semuanya diuber waktu, sehingga banyak pekerja tidak fokus dan tidak profesional,” kata Benny.

Kemungkinan lain, ujar Benny adalah, pelaksana proyek abai menggunakan alat berat tersebut di luar batas kemampuannya. Benny memberikan contoh, crane yang digunakan memiliki kemampuan angkat 150 ton, tetapi dipaksa mengangkat beban lebih dari itu. “Mau crane apapun, ya bisa tumbanglah,” kata Benny.

Untuk itu, Benny mengingatkan agar standar prosedur pelaksanaan proyek mesti di review lagi. Penggunaan alat-alat berat juga harus sesuai dengan kapasitas atau daya angkutnya. “Jika sesuai SOP (standard operating procedure) itu (alat) tak ada masalah,” tegas Benny.

Dugaan kecelakaan karena abai dalam pemilihan alat berat pernah dibantah Basuki Hadimuljono, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Pada satu kesempatan, Basuki bilang, kecelakaan konstruksi fasilitas perkeretaapian jalur Manggarai–Jatinegara double-double track di Jatinegara justru menggunakan alat berat yang masih baru bernama launcher gantry.

Adapun Sjahrial Ong, Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pengusaha dan Pemilik Alat Konstruksi Indonesia (Appakasi) menilai, alat berat bisa berperan dalam kecelakaan konstruksi.

Tak peduli itu alat baru maupun alat berat rekondisi. Jika prosedur penggunaan alat salah, mau pakai alat baru atau bekas, ujungnya bisa fatal.
“Sementara di Indonesia tak ada badan yang mengawasi standar operasi alat-alat berat tersebut,” kata Sjahrial.


Reporter: Adinda Ade Mustami, Asnil Bambani Amri, Fransiska Firlana
Editor: Mesti Sinaga

PROYEK INFRASTRUKTUR

TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.5210 || diagnostic_web = 0.6885

×