: WIB    —   
indikator  I  
FOKUS /

Menata usaha di dunia maya (2)

Menata usaha di dunia maya (2)

Pajak masih polemik

Persoalan krusial dan sering menjadi polemik di industri e-commerce adalah soal perpajakan. Bagi aparat pajak, tidak ada perbedaan antara transaksi di dunia maya dengan transaksi di dunia nyata. Dengan begitu, perlakuan perpajakannya pun harus setara demi keadilan.

Iwan Djuniardi, Direktur Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi Direktorat Jenderal Pajak, mengatakan, pengelola e-commerce lokal relatif tak memiliki masalah perpajakan. Persoalan ada di tenant atau pelapak yang berdagang di e-commerce tersebut.

Cuma, karena tidak hadir secara fisik, aparat pajak mengaku kesulitan menyasar potensi perpajakan dari mereka. Nah, Iwan berharap paling tidak bisa menarik penerimaan dari sisi pajak pertambahan nilai (PPN). “Transaksi yang non tunai kami minta perbankan untuk menambah langsung PPN. Tapi saat ini belum ada regulasinya,” ujar Iwan.

Keinginan ini jelas ditentang pelaku di industri e-commerce. Aulia Ersyah Marinto menyebut, sekarang bukan waktu yang tepat untuk memajaki transaksi di e-commerce.

Alasannya, industri e-commerce baru mulai berkembang. Tambahan kewajiban perpajakan dikhawatirkan malah menjadi disinsentif bagi pelaku industri. “Kalau aturannya dibuat sekarang, silakan. Tapi pemberlakuannya nanti saja,” kata Aulia.

Sayangnya, perdebatan yang sudah berlangsung beberapa tahun terakhir ini tidak diputuskan oleh pemerintah di peta jalan yang mereka buat. Dan, aparat pajak masih keukeuh menggali penerimaan dari sektor ini.

Tahun ini Ditjen Pajak akan menggelar ujicoba Kartu Indonesia 1 atau Kartin1 kepada seluruh karyawannya. Kartin1 sudah diperkenalkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati penghujung Maret lalu.

Kartu sakti yang terintegrasi ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai layanan transaksi keuangan. Seperti pembayaran iuran Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan Ketenagakerjaan, kartu ATM, e-toll, SIM, dan NPWP.

Berikutnya, Ditjen Pajak akan membuat Kartin1 online sebagai identitas digital. Iwan berharap pemerintah akan mendorong Kartin1 online digunakan untuk menggunakan akun di e-commerce. Jadi, pengguna e-commerce baik konsumen maupun penjual saat hendak log in ke akunnya akan bisa menggunakan fitur ini.

“Jadi biasanya kalau login di e-commerce kami sisipkan log in by Kartini. Sekarang kan pilihannya baru log in by Google, log in by Facebook, dan lain-lain,” terang Iwan.

Cara ini dinilai ampuh untuk menangkap lalu-lintas transaksi di e-commerce. Ujicoba Kartin1 online akan dimulai tahun depan. Diharapkan pada tahun 2020 sudah bisa diimplementasikan di e-commerce.


SUMBER : Tabloid Kontan
Editor Mesti Sinaga

E-COMMERCE

Feedback   ↑ x
Close [X]