: WIB    —   
indikator  I  
FOKUS /

Menata usaha di dunia maya (1)

Menata usaha di dunia maya (1)

Ambil contoh di Ralali.com yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT Raksasa Laju Lintang. Joseph Aditya, Founder dan Chief Executive Officer (CEO) Ralali.com menyebut, hingga akhir tahun 2017, nilai transaksi mereka ditargetkan meningkat lima kali lipat dibandingkan akhir tahun 2016.

Sampai akhir semester I-2017, Ralali.com telah mencapai 60% dari target  tersebut. Kalau dihitung sejak awal tahun nilai transaksinya melonjak lebih dari 300%.

Meski begitu, bukan berarti pengelola e-commerce sama sekali alergi berbagi data. Kini, Bank Indonesia tengah menggaet e-commerce untuk kepentingan big data.

Yati Kurniati, Direktur Eksekutif Departemen Statistik BI bilang, hingga kini ada delapan gabungan dari perusahaan dan e-commerce yang telah setuju untuk memberikan informasi transaksi mereka untuk big data. Tokopedia dan Bukalapak adalah dua di antaranya.

Bagi bank sentral, data yang tersedia bisa memperkuat pengambil keputusan, baik untuk kepentingan moneter, pasar keuangan, Stabilitas Sistem Keuangan (SSK), Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah (SP-PUR) (baca boks)

Upaya “menangkap” data transaksi e-commerce juga terekam dalam Peraturan Presiden tentang roadmap e-commerce.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyebut, transaksi di e-commerce bakal terhubung dengan National Payment Gateway (NPG) yang digagas Bank Indonesia.

Berdasar perpres yang dokumennya dimiliki KONTAN, implementasi kebijakan ini akan diterapkan secara bertahap mulai tahun ini hingga 2019 mendatang. (bacaMenata Usaha di Dunia Maya (2)

Aditya sendiri menilai, langkah BI cukup positif dan bakal bermanfaat buat pengelola e-commerce. Pertama, data tersebut bisa memberikan insight tersendiri bagi para pelaku e-commerce untuk membaca gambaran pasar mengenai tren yang ada.

“Juga memberikan kepercayaan diri lebih bagi para investor untuk memberikan investasi kepada para tech start-up potensial di Indonesia,” ujar Aditya.

Respons serupa juga datang dari Aulia Ersyah Marinto. Cuma, Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA/Indonesian E-Commerce Association) memberikan catatan, pendataan baik oleh BI maupun lembaga pemerintah, mesti berdasarkan mekanisme yang baku.

“Sekarang belum ada mekanismenya. Ini harus ada regulasinya, jaminan keamanan datanya seperti apa,” tukas Aulia.

Gubernur BI paham betul dengan kekhawatiran semacam ini. Maka dari itu, Agus menjamin, bakal ada non-disclosure agreement antara pihak pemberi data dengan BI.

Intinya, BI menjamin, data yang akan dirilis nantinya bersifat umum. “Kami tidak akan membuat informasi individu bocor ke pihak lain,” janji Agus.

Biar semua pihak bisa merasa nyaman, ya,

Selanjutnya:  "Menata usaha di dunia maya (2);  Peta Jalan Demi Kemaslahatan"

* Artikel ini sebelumnya sudah dimuat di Laporan Utama Tabloid KONTAN edisi 14 Agustus 2017. Selengkapnya silakan klik link berikut: "Data Tiada Jadinya Meraba-raba"


Reporter Arsy Ani Sucianingsih, Choirun Nisa, Ramadhani Prihatini, Tedy Gumilar
Editor Mesti Sinaga

E-COMMERCE

Feedback   ↑ x
Close [X]