: WIB    —   
indikator  I  
FOKUS /

Menata usaha di dunia maya (1)

Menata usaha di dunia maya (1)

Data Tiada Jadinya Meraba-raba

KONTAN.CO.ID - Peralihan penggunaan saluran transaksi dari offline ke online meluas di kalangan konsumen Indonesia. Hal ini juga terjadi pada Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro dan beberapa anggota keluarganya.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, itu berkisah, bahkan untuk membeli baju saja, salah seorang saudaranya tidak pernah lagi datang ke mal. Beberapa waktu terakhir, saudaranya yang tidak disebutkan namanya oleh Bambang itu, lebih senang berkelana dan menjajal satu toko daring ke toko daring lainnya.

Perubahan ini bisa dipahami, apalagi bagi masyarakat di kota besar seperti Jakarta. Kondisi jalanan yang hampir tidak pernah lepas dari kemacetan membuat berbelanja secara daring terasa jauh lebih praktis. “Kalau bentuk badannya normal, tidak seperti saya, ya, beli bajunya melalui online saja,” ujar mantan menteri keuangan itu.

Kini, lanjutnya, dari 150 juta pengguna internet di Indonesia, 50 juta di antaranya sudah terbiasa berbelanja secara daring. “Saya termasuk (di dalam) 50 juta (orang) itu. Tetapi saya tidak untuk beli baju tapi pesan makanan pakai Go-Food,” kata Bambang sembari tersenyum.

Kisah di atas disampaikan Bambang saat menyampaikan sambutan kunci (keynote speech) di seminar soal big data yang digelar Bank Indonesia. Hajatan bertajuk “Globalisasi Digital: Optimalisasi Pemanfaatan Big Data untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi” itu digelar pada Rabu, 9 Agustus 2017 di Jakarta.

Cuma, data yang disebutkan Bambang berbeda dengan yang disampaikan Agus Martowardjojo. Dalam acara yang sama, Gubernur Bank Indonesia itu melansir hasil riset Statista.

Datanya, pada tahun 2016 jumlah pengguna internet Indonesia yang berbelanja secara online mencapai 24,74 juta orang.

Setiap konsumen tersebut rata-rata menghabiskan uang Rp 3 juta per tahun. Dus, tahun lalu para konsumen daring Indonesia telah membelanjakan uang sekitar US$ 5,6 miliar atau sekitar Rp 75 triliun di berbagai e-commerce.

Bisa ngawur

Data-data yang disampaikan kedua pejabat tinggi negara ini paling tidak menunjukkan dua hal.

Pertama, betapa pun perbedaannya cukup signifikan, pasar e-commerce (e-dagang) di Indonesia yang demikian besar makin tergambarkan.

Kedua, industri yang terus berkembang dengan cepat ini ternyata tidak terlacak dengan baik. Dus, para pengambil kebijakan tidak memiliki dan menggunakan panduan yang sama soal industri ini. Lantas, bagaimana pemerintah bisa mengambil kebijakan yang tepat jika soal data saja masih berselisih?


Reporter Arsy Ani Sucianingsih, Choirun Nisa, Ramadhani Prihatini, Tedy Gumilar
Editor Mesti Sinaga

E-COMMERCE

Feedback   ↑ x
Close [X]