: WIB    —   
indikator  I  
FOKUS /

Antara janji, mimpi dan realisasi Jokowi (2)

Antara janji, mimpi dan realisasi Jokowi (2)

III. Aksesibilitas Pinjaman Masih Menjadi Persoalan

Pengembangan usaha kikro, kecil, dan menengah (UMKM) merupakan salah satu fokus pemerintahan Jokowi-JK. Maklum, jumlah unit UMKM sekitar 60 juta. Tingkat penyerapan tenaga kerjanya sekitar 97% dari total tenaga kerja nasional. Kontribusinya ke produk domestik bruto (PDB) juga signifikan, sekitar 61,41%.

Maka tak aneh jika dalam janji kampanyenya sebagai presiden dan wakil presiden, Jokowi-JK menyebut akan memberikan prioritas akses modal bagi UMKM. Program yang menjadi unggulan adalah kredit usaha rakyat (KUR).

Sebagai perbandingan, dalam tempo tujuh tahun sejak program ini digelar pada 2007 hingga 2014, total realisasi penyaluran KUR sebesar Rp 178,84 triliun.

Di masa Jokowi-JK, sejak KUR mulai disalurkan pada Agustus 2015 hingga 31 Agustus 2017 atau dalam dua tahun, realisasi penyaluran KUR sudah mencapai Rp 178,24 triliun.

Bunga pinjaman yang mesti dipikul pelaku usaha juga jauh lebih ringan. Bunga KUR yang di 2014 sebesar 22, berangsur-angsur turun menjadi 9% di saat ini. Tahun depan, Menteri Koordinator Bidang Perekono-mian Darmin Nasution menjanjikan suku bunga KUR akan kembali dipangkas menjadi 7%.

Selain KUR, pemerintah Jokowi-JK masih memiliki sederet program kredit bagi usaha kecil. Misalnya KUR Berbasis Ekspor (KURBE) dengan bunga 9% dan plafon hingga Rp 50 miliar.

Lalu ada kredit ultra mikro dengan plafon maksimal Rp 10 juta dan bunga antara 2% hingga 4%. Berbeda dengan KUR dan KURBE, kredit ultra mikro tidak mensyaratkan kehadiran jaminan berupa aset.

Sementara Kementerian Koperasi dan UKM juga punya program Wirausaha Pemula dengan bantuan dana hingga Rp 13 juta.

Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram bilang, bagi UMKM di perkotaan persoalan umum terkait pendanaan ada di sisi bunga dan kolateral.

Sementara UMKM di daerah lebih bermasalah dengan urusan aksesibilitas. “Faktor jarak dari lokasi usaha ke kantor bank penyalur mempengaruhi aksesibilitas. Ini ujungnya ke penyerapan pembiayaan,” tandas Agus.

Dus, pemerintah mencoba menggandeng lembaga nonperbankan. Untuk kredit ultra mikro, Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga menyatakan,  pemerintah akan menggandeng Badan Layanan Umum Pengelola Dana dan koperasi.

Sejak tahun ini Koperasi Kospin Jasa yang berbasis di Pekalongan, Jawa Tengah juga mulai menyalurkan KUR.

Dalam pandangan Ikhsan Ingratubun, lembaga penyalur kredit ini memang masih menjadi salah satu pekerjaan rumah dalam pembiayaan UMKM.

Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) itu menyebut, selama ini perbankan masih menjadi andalan sebagai penyalur kredit program pemerintah. Padahal, daya jangkau kebanyakan bank penyalur terbilang rendah. Praktis cuma Bank BRI yang memiliki jaringan paling mengakar di Indonesia.

Dampaknya, sebagian besar KUR di BRI bisa disalurkan ke usaha mikro. Namun di banyak bank penyalur lain, kredit lebih besar disalurkan ke sektor ritel. Ini membuat keberadaan KUR saat ini lebih dinikmati para pedagang ketimbang pelaku industri.

“Harusnya peran koperasi yang lebih didorong untuk menyalurkan program kredit pemerintah,” kata Ikhsan. Koperasi dianggap lebih bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Daya jangkaunya juga lebih menghunjam ke pelosok-pelosok daerah. “Daripada lewat LPDB yang cuma ada di pusat. orang semua antre di situ,” imbuhnya.

Ke depan, Ikhsan berharap pemerintah lebih fokus ke usaha mikro dengan menambah nomenklatur mikro di Kementerian Koperasi dan UKM.

Lantas, pemerintah bisa membentuk semacam satuan manajemen satu atap di kementerian ini untuk mengkoordinir 23 kementerian dan lembaga yang memiliki program terkait UMKM. Pemerintah juga perlu melibatkan pemerintah daerah, sehingga pengembangan sektor ini lebih terarah, efektif, dan efisien.     

Artikel ini berikut seluruh artikel terkait sebelumnya sudah dimuat di Tabloid KONTAN, pada Rubrik Laporan Utama edisi 16 Oktober 2017. Selengkapnya silakan klik link berikut: "Dari Pinggiran, Demi Orang Kebanyakan"

 

 


Reporter Arsy Ani Sucianingsih, Ragil Nugroho, Tedy Gumilar
Editor Mesti Sinaga

EVALUASI KINERJA JOKOWI

Feedback   ↑ x
Close [X]