: WIB    —   
indikator  I  
FOKUS /

Antara janji, mimpi dan realisasi Jokowi (1)

Antara janji, mimpi dan realisasi Jokowi (1)

Kendala dana

Meski sudah membuat skala prioritas, tetap saja kebutuhan dana yang begitu besar tidak bisa dipenuhi pemerintah. Nah, guna menarik minat investor, pemerintah menggelar Regional Investment Forum (RIF) 2017 di Padang, Sumatera Barat (Sumbar) pada 15-17 Oktober 2017. Forum promosi investasi ini bertajuk Showcasing Investment Opportunities in the Indonesian Tourism Industry.

Sesuai namanya, pemerintah menawarkan investasi di berbagai kawasan wisata. Ada enam destinasi pariwisata prioritas, mulai dari Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu & Kota Tua, Borobudur, dan Bromo-Tengger-Semeru. Lalu, ada dua kawasan pariwisata terpadu Mandeh dan Gunung Padang di Sumbar.

Selain tantangan investasi yang masih harus dikejar pemerintah, faktor keamanan dan politik juga bisa menjadi penghambat sektor pariwisata. Tahun depan digelar 171 pemilihan kepala daerah (pilkada).

Perinciannya ada ada 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten yang akan memilih pemimpin masing-masing. Tahun terakhir pemerintahan Jokowi-JK, giliran pemilihan umum anggota legislatif dan presiden yang bakal dilangsungkan.

Hajatan politik semacam ini kerap kali dihantui kekhawatiran soal stabilitas keamanan di Indonesia. Dus, turis, terutama mancanegara berpotensi menahan diri melancong ke nusantara hingga pemilu berakhir.

Hiramsyah mengakui tantangan ini. Namun, seiring perjalanan waktu, demokrasi di Indonesia mulai beranjak dewasa. Lagipula, persoalan keamanan terjadi di banyak negara dunia.

Belakangan aksi terorisme dengan skala kerusakan yang lebih besar malah terjadi di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris.

Persoalan lainnya, kondisi Indonesia yang rawan bencana juga bisa berpengaruh terhadap pencapaian target kunjungan wisatawan. Ancaman letusan Gunung Agung misalnya, membuat tingkat pembatalan kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali mencapai 25%.

Bersama Jakarta dan Kepulauan Riau, Bali menyumbang 90% dari total kunjungan wisatawan asing ke Indonesia. Untungnya, hingga semester I 2017, kunjungan wisatawan asing ke Indonesia sudah lebih dari 8 juta.

Artinya sudah lebih dari separuh target sepanjang tahun yang 15 juta kunjungan. Ibaratnya, sudah ada celengan yang akan membantu pencapaian target tersebut.

Pengamat Pariwisata Azril Azhari melihat beberapa bolong-bolong di pengembangan sektor pariwisata Indonesia. Menurut- nya, persoalan lainnya, pemerintah hingga saat ini belum memiliki perencanaan Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata kita. Fokus saat ini lebih banyak ke urusan branding, promosi dan pembenahan infrastruktur penunjang.

Fokus pemerintah mengembangkan 10 destinasi wisata prioritas juga tidak lepas dari pengamatan Azril. Bukan apa-apa, sejak tahun 2010 tren pariwisata sudah bergeser dari 3S (sun, sand, and sea) menjadi serenity, spirituality, and sustainability.

Tapi Indonesia masih mempromosikan wisata alam. “Kita dapat award di mana-mana itu kan karena voting. Karena voting, kerahkan saja pegawai pasti lah menang. Yang harusnya menilai itu wisatawannya,” tandasnya.

Bersambung: Dari Pinggiran, Demi Orang Kebanyakan

** Artikel ini berikut seluruh artikel terkait sebelumnya sudah dimuat di Tabloid KONTAN, pada Rubrik Laporan Utama edisi 16 Oktober 2017. Selengkapnya silakan klik link berikut: "Antara Janji, Mimpi dan Realisasi"

 


Reporter Arsy Ani Sucianingsih, Ragil Nugroho, Tedy Gumilar
Editor Mesti Sinaga

EVALUASI KINERJA JOKOWI

Feedback   ↑ x
Close [X]