kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45952,80   9,76   1.04%
  • EMAS1.029.000 -1,25%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%
FOKUS /

The Fed dan krisis kredibilitas


Kamis, 22 September 2016 / 06:07 WIB
The Fed dan krisis kredibilitas


Sumber: money.cnn,CNBC,Bloomberg | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

NEW YORK. The Federal Reserve masih ragu-ragu untuk mengerek suku bunga acuannya. Pada rapat yang dihelat selama dua hari dan berakhir Rabu (21/9), The Fed yang dipimpin oleh Janet Yellen, memutuskan untuk menahan suku bunga acuan.

Alasannya, The Fed memilih untuk menunggu bukti-bukti lanjutan yang positif untuk mendukung tujuan dan target mereka. Di sisi lain, The Fed juga memproyeksikan adanya kemungkinan suku bunga AS tetap akan dikerek sebelum akhir tahun ini.

"Risiko jangka pendek terhadap outlook perekonomian tampaknya cukup seimbang. Anggota komite menilai kondisi ini sudah cukup menjadi alasan untuk menaikkan suku bunga. Namun, akhirnya memutuskan untuk menunggu sementara waktu data-data yang mendukung kebijakan tersebut secara objektif," demikian pernyataan resmi The Fed pasca pertemuan kemarin.

Dengan demikian, langkah The Fed menahan suku bunga acuan sudah berlangsung selama enam kali berturut-turut. Kebijakan ini juga mengindikasikan kecemasan bank sentral AS akan risiko global dan sinyal penguatan ekonomi yang tidak konsisten.

Saat ini, fokus market akan beralih pada pertemuan bank sentral bulan Desember. Sebab, bulan tersebut merupakan kesempatan terakhir The Fed untuk menaikkan suku bunga di tahun 2016.

Keputusan menahan suku bunga acuan ini bukan tanpa tentangan. Setidaknya, ada tiga anggota The Fed yang berbeda pendapat. Ini merupakan jumlah perbedaan pendapat terbanyak sejak Desember 2014 lalu. Esther George, president of Kansas City Fed, memlih untuk menentang keputusan tersebut.

Dua anggota lain yang juga melakukan aksi serupa adalah Cleveland Fed President Loretta Mester dan head of the Boston Fed Eric Rosengren.

Kendati demikian, Pimpinan The Fed Janet Yellen menegaskan, keputusan The Fed untuk tidak mengubah suku bunga acuan tidak merefleksikan minimnya kepercayaan mereka terhadap ekonomi AS.

Komite juga memangkas ekspektasi untuk pertumbuhan ekonomi dan inflasi tahun ini. Untuk pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS tahun ini, The Fed memprediksi hanya akan mencapai 1,8%, turun dari prediksi Juni sebesar 2%.

Sedangkan tingkat pengangguran diproyeksikan akan berada di level 4,8%, sedikit lebih tinggi dari prediksi Juni 4,7%. Adapun tingkat inflasi -termasuk harga pangan dan energi- diestimasi di level 1,3%, turun dari proyeksi Juni di level 1,4%.

"Pasar tenaga kerja terus menguat dan aktivitas pertumbuhan ekonomi semakin meningkat dari pertumbuhan yang moderat pada paruh pertama tahun ini," kata The Fed.

Komite menambahkan, "Kendati tingkat pengangguran tak banyak mengalami perubahan dalam beberapa bulan terakhir, kenaikan tenaga kerja cukup solid secara rata-rata. Anggaran belanja rumah tangga tumbuh kuat, namun aktivitas bisnis fixed income masih tetap lemah."

Apa yang dinanti The Fed?

Sebenarnya, keputusan The Fed ini sudah diramal oleh sejumlah analis dan ekonom di Amerika. Sebelum dirilisnya keputusan The Fed, banyak analis yang memprediksi bank sentral AS itu tidak akan mendongrak suku bunga acuannya bulan ini.

Yang menjadi alasannya adalah data lapangan kerja Agustus yang tidak terlalu memuaskan. Pasar tenaga kerja AS pada bulan lalu hanya menyerap sebanyak 151.000 tenahga kerja. Angka tersebut di bawah ekspektas 200.000 lapangan kerja.

Padahal, jika melihat gambaran secara luas lagi: ekonomi AS sudah pulih. Meski belum sempurna, namun secara nasional tingkat pengangguran berada di level 5%. Para konsumen tampak bahagia dan anggaran belanja cukup baik. Dan, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan tumbuh 1,8%. Meski tidak terlalu spektakuler, namun target tersebut cukup stabil.

Hanya saja, The Fed masih tetap mempertahankan suku bunga acuannya di level rendah. Bahkan, mereka menegaskan alasannya, yakni perekonomian masih dalam kondisi krisis.

Di sisi lain, alasan untuk mempertahankan suku bunga semakin menipis. Tahun lalu, alasannya adalah perekonomian China. Lalu, di awal 2016, saat tidak ada gangguan berarti, pasar saham melorot. Baru kemudian muncul Brexit.

Satu-satunya alasan yang menjadi pegangan The Fed dan masih bisa diterima market adalah tingkat inflasi yang masih rendah. Padahal, The Fed menargetkan inflasi di level 2%.

The Fed dan masalah kredibilitas

Kondisi inilah yang kemudian memicu kritik mengenai kredibilitas The Fed. Banyak pihak yang menilai, dengan menahan suku bunga acuan, bank sentral malah menyebabkan permasalahan ekonomi baru.

Apalagi, para pimpinan The Fed seringkali muncul mengeluarkan pernyataan yang berbeda. Jika hari ini ada pimpinan The Fed yang mendukung kenaikan suku bunga, lalu beberapa hari kemudian, salah seorang anggota The Fed berbicara mengenai penurunan suku bunga.

Sebagai contoh, pada akhir Agustus lalu, presiden The Fed Boston Eric Rosengren dan presiden The Fed Chicago Charles Evans menyatakan bahwa The Fed harus menaikkan suku bunga secepatnya.

Lalu, tiga hari kemudian, Gubernur Fed Lael Brainard menyampaikan penolakannya untuk menaikkan suku bunga acuan.

Menurut pakar ekonomi, pesan yang saling bertetangan dari pimpinan teratas The Fed ini yang menyebabkan hilangnya kepercayaan publik terhadap The Fed.

"Hal ini merupakan musibah dalam hal kredibilitas. Investor menilai tidak ada lagi pernyataan yang kredibel dari The Fed karena banyak sekali yang mengeluarkan pernyataan," jelas Dan North, chief US economist Euler Hermes.

Ed Yardeni, chief investment strategist Yardeni Research bahkan membuat parodi mengenai kepanjangan FOMC sebagai "Federal Open Mouth Committee".

"Kredibilitas The Fed menjadi tantangan terbesar saat ini," kata Sylvia Maxfield, dean of the Providence College School of Business di Rhode Island. Dia menyarankan, agar The Fed langsung saja mengerek suku bunganya saat ini.

Dalam pernyataannya semalam, The Fed masih menegaskan bahwa suku bunga acuan akan naik secara bertahap dan akan dilakukan sebelum akhir tahun ini. Spekulasi pun berkembang.

Sejumlah ekonom memandang, Desember menjadi waktu yang tepat bagi The Fed untuk mengerek suku bunga acuannya. Pasalnya, pertemuan November FOMC dilakukan hanya selang sepekan menjelang pemilu presiden AS. Bahkan Yellen tidak dijadwalkan akan menggelar konfrensi pers pasca pertemuan.

Tak hanya itu, The Fed juga merevisi nilai tengah proyeksi suku bunga acuan jangka panjang menjadi 2,9% dari sebelumnya 3% pada Juni. Estimasi ini menunjukkan menunjukkan seberapa tinggi suku bunga acuan bisa mendaki.

"The Fed harus menyelamatkan muka dengan menaikkan bunga setidaknya satu kali tahun ini," kata Christopher Veccio, currency analyst Daily FX.

 

 

 

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×