kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

IHSG berpotensi moncer pada 2020 setelah tertekan dalam dua tahun terakhir


Rabu, 18 Desember 2019 / 04:25 WIB
IHSG berpotensi moncer pada 2020 setelah tertekan dalam dua tahun terakhir
ILUSTRASI.

Reporter: Akhmad Suryahadi, Dupla Kartini, Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju kencang mengejar ketertinggalan di bulan terakhir 2019. Setelah tercatat turun 2,95% dari awal tahun hingga akhir November 2019, IHSG cenderung berbalik arah dalam dua setengah pekan terakhir.

Dengan kenaikan ini, IHSG akhirnya berbalik arah ke zona hijau. Secara year to date hingga Selasa (17/12), IHSG mencatat penguatan 0,80% ke 6.244,35. Kinerja ini masih lebih baik ketimbang IHSG tahun lalu yang turun 2,53%. Tapi sangat jauh jika dibandingkan tahun 2017 yang melesat 19,99%.

Meski menguat jelang akhir tahun, kinerja IHSG ini masih kalah jika dibandingkan dengan bursa-bursa saham lain. Di kawasan Asia Tenggara, IHSG masih lebih baik ketimbang FTSE Bursa Malaysia yang turun 6,72% dan SETi Thailand yang turun 1,12% secara year to date.

Bursa saham kedua negara tersebut turun karena masalah politik yang menimbulkan ketidakpastian. Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menyebutkan bahwa dia bisa tetap menjabat hingga setelah 2020. Pernyataan yang muncul pada 14 Desember 2019 ini berkebalikan dengan rencana awal ketika dia akan menunjuk Anwar Ibrahim sebagai penggantinya. Anwar Ibrahim justru tengah menghadapi tuduhan baru pelecehan seksual. Sementara ibu kota Thailand menghadapi protes terbesar sejak kudeta 2014. Protes ini terjadi setelah otoritas melarang partai oposisi.

Tapi, kinerja IHSG ini masih tertinggal jika dibandingkan dengan misalnya tiga indeks utama bursa Amerika Serikat (AS) yang mencapai rekor tertinggi. Indeks Dow Jones sudah melaju 21,04% sejak awal tahun hingga Senin (16/12). Sedangkan indeks S&P 500 melejit 27,31%. Bahkan, Nasdaq Composite melesat 32,84%. Di Asia bursa Taiwan melaju 24,36%. Indeks Nikkei 225 di Jepang naik 20,24%. Sedangkan indeks Shanghai naik 21,19%.

Baca Juga: Tutup defisit APBN 2020, pemerintah tarik utang Rp 735,52 triliun tahun depan

Kesepakatan awal perdagangan antara AS dan China yang diumumkan pada pekan kedua Desember menjadi tenaga bagi pasar saham global untuk menguat jelang tutup tahun. Meski demikian, kesepakatan ini masih dalam tahap penyusunan. Kedua negara menargetkan kesepakatan fase satu akan diteken pada bulan Januari 2020.

Dalam Market Outlook 2020, Kepala Riset Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma mengatakan, ada sejumlah hal positif bagi IHSG pada tahun depan, yakni:

  1. Perbaikan harga CPO yang juga berpotensi meningkatkan permintaan kredit dari sektor agribisnis
  2. Bantuan sosial pemerintah yang dapat meningkatkan konsumsi domestik
  3. Perkiraan penurunan defisit migas dengan adanya program B30
  4. Penerapan Omnibus Law yang diharapkan dapat memperbaiki iklim usaha.

Baca Juga: IHSG turun 5 hari berturut-turut, begini proyeksinya pada perdagangan Kamis (28/11)

Suria pun menilai ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan investor seperti:

  1. Harga CPO yang lebih rendah daripada ekspektasi
  2. Masih lemahnya permintaan kredit dari sektor-sektor utama
  3. Perlambatan ekonomi yang lebih buruk daripada ekspektasi
  4. Berdasarkan perkiraan Bank Dunia, setiap pelemahan 1% poin produk domestik bruto (PDB) di China akan menurunkan laju pertumbuhan PDB Indonesia sebesar 0,3%

Baca Juga: Tiga indeks utama Wall Street tancap gas ke rekor tertinggi

Target IHSG...




TERBARU

Close [X]
×