kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Sudah rogoh modal, produk kreatif justru dibajak


Selasa, 12 November 2019 / 09:10 WIB
Sudah rogoh modal, produk kreatif justru dibajak

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sudah pukul 04.00 petang, Gudang Buku Gramedia di bilangan Palmerah Barat pada 25 Oktober 2019 masih saja ramai pengunjung. Padahal satu jam setelahnya, tempat itu akan segera tutup. Pengunjung masih terlihat sibuk berkeliling mengacak-acak buku di ruangan berukuran sekitar 10 x 15 meter itu.

Diskon 50%. Tulisan itu terpampang nyata di dinding ruangan. Program diskon inilah rupanya yang bikin gudang ini dikerumuni banyak orang, mayoritas anak-anak muda. Beragam judul buku dijual dengan harga miring. Tumpukan novel dan komik terlihat paling banyak dikelilingi pengunjung.

Di beberapa tumpukan buku diberi penanda dengan tulisan special price: Harga 15.000 & 20.000. Murah sekali. Seorang pengunjung, Teresa sedikit mengaku sedikit kecewa.

Mahasiswi di salah satu universitas swasta itu datang untuk berburu buku kuliah berbau manajemen. Rupanya dia tak menemukan apa yang dicari. "Kirain buku kuliah ada yang diskon juga," ujarnya.

Meski begitu, Teresa tak ingin pulang dengan tangan hampa. Dia borong lima novel untuk stok bacaannya dalam dua bulan ke depan tanpa merogoh kocek terlalu dalam. Harganya cuma Rp 110.000.

Sepuluh hari sebelumnya, Tere Liye di akun facebooknya menuliskan telah terjadi proses pembunuhan massal. Tentu yang dimaksudkan penulis novel ternama ini bukan pembunuhan secara fisik. Tulisan itu dia kemukakan sebagai gambaran atas maraknya penjualan buku bajakan lewat berbagai market place saat ini.

Dalam tulisannya, dia melampirkan satu cuplikan layar dimana penjual buku bajakan di market place yang menjual 4 buku Tere Liye dengan harga hanya Rp 76.000. Statistik penjualan tertera ada 400 kali pengiriman untuk 4 buku itu, artinya telah terjual 1.600 buku.

Padahal kalau di cek di toko buku Gramedia, tidak banyak yang bisa menjual 1.600 buku untuk empat judul dalam hitungan bulan. Miris, penjual buku bajakan bisa jualan lebih kencang dibanding toko resmi.

Itu baru satu lapak saja. Jika dibuka di berbagai marketplace, ada ribuan lapak yang menjual berbagai judul buku bajakan. Sebetulnya Tere Liye tidak terlalu peduli dengan kondisi itu jika hanya buku miliknya saja yang dibajak.

Dia dibikin geram lantaran buku penulis lain yang menggantungkan hidup dari royalti juga tak luput dari pembajakan. Padahal penjualan buku mereka per tahun belum tentu besar. Inilah yang dia sebut sebuah pembunuhan massal terhadap literasi.

Persoalan yang dihadapi para penulis buku saat ini masih sangat besar. Kasus-kasus di atas hanya sebagian saja. Sementara sebelum menghasilkan satu buku, penulis tentu mengeluarkan modal. Mulai dari biaya kebutuhan riset, membeli buku referensi, biaya ngopi, dan sebagainya.

Barangkali modal menulis buku fiksi ringan memang tidak terlalu besar. Beda halnya dengan buku non fiksi atau novel-novel ilmiah yang membutuhkan penelitian panjang atau riset mendalam, tentu biayanya tidaklah sedikit.

Padahal belum ada jaminan buku yang akan dibuat itu akan meledak di pasar. Kemudian diintip tukang bajak pula. Sesudah itu masuk dalam bursa diskon.

Lantas bagaimana para penulis mendapatkan modal sebelum hasil karyanya terjual? Penulis muda, Veronica Gabrielala (23) mengaku mengandalkan kantong sendiri untuk biaya proses riset dalam menerbitkan buku. Kebetulan, buku yang dia tulis selama ini kebanyakan buku fiksi sehingga tidak perl biaya terlalu jumbo untuk riset.

Di samping itu, Vero juga memilih menerbitkan buku secara mayor. Lewat sistem ini, penerbit yang melakukan pencetakan untuk buku ditulis dan dia akan mendapatkan imbalan royalti dari penjualan. Dengan begitu, modal untuk editing, percetakan, marketing, penjualan , dan lain-lain ditanggung oleh penerbit.

Menurut perempuan yang sudah menulis buku sejak tahu 2014 ini, modal yang diperlukan penulis akan besar apabila penerbitan buku dilakukan secara indie. Dengan cara ini semua proses yang dikerjakan penerbit jika dilakukan secara mayor harus dilalui sendiri oleh penulis. Untuk penjualan juga harus dilakukan secara sendiri. Royalti yang diperoleh lewat mekanisme ini bisa 40%-60%.

Sepengetahuan Vero, belum ada selama ini lembaga keuangan yang memberikan permodalan bagi penulis independen dalam menghasilkan produk kreatif. Kalaupun ada penulis yang dibiayai sebuah institusi, itu lantaran buku yang akan ditulis memang atas permintaan dari lembaga tersebut.

Senada, penulis senior Dee Lestari menyebut kebutuhan permodalan menjadi sangat penting jika buku yang ditulis diterbitkan sendiri. Apalagi seluruh proses dikerjakan sendiri dan tidak menggandeng sponsor atau mitra.

Dee ketika pertama kali menerbitkan buku memilih menempuh jalur indi. Kala itu, dia masih buta terkait industri perbukuan. Lagi pula tujuan awalnya memang bukan aspek bisnis, tapi untuk menghasilkan karya saja.

Dari pengalaman itu dia merasakan bahwa modal yang dibutuhkan itu memang besar. Untuk percetakan awal, Dee merogoh tabungannya sebagai modal.




TERBARU

×