kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.791
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS614.076 0,00%

Sinyal redup BI menaikkan suku bunga acuan

Kamis, 03 Mei 2018 / 21:30 WIB

Sinyal redup BI menaikkan suku bunga acuan
ILUSTRASI.



Bunga kredit yang kurang rendah

Salah satu alasan BI selama ini enggan mengerek bunga acuan adalah untuk menekan bunga kredit dan pinjaman, sehingga mendorong ekonomi. Mengutip data BI, rata-rata suku bunga kredit bank pada Maret 2018 masih di posisi 11,18%.

BI pun tak ingin menghilangkan momentum bank mengejar penguatan kredit di periode kuartal II, setelah penyaluran kredit lesu di bulan Januari-Maret lalu. Apalagi, di pertengahan tahun ini ada momen Lebaran yang memicu konsumsi masyarakat.

Berdasarkan survei perbankan, BI menyebut, bank akan menjaga kebijakannya longgar untuk menggaet kredit baru, meski tak selonggar pada kuartal I lalu.

"Pada triwulan II 2018, responden (perbankan) berencana untuk menurunkan suku bunga kredit dan mengurangi biaya persetujuan kredit. Namun di sisi lain, responden juga akan mengurangi plafon kredit dan menambah premi pada kredit yang berisiko," tulis bank sentral, dalam survei perbankan yang dirilis April lalu.

Masih dari survei tersebut, rata-rata suku bunga kredit modal kerja bank akan turun 3 basis poin (bps) menjadi 11,78%, dan suku bunga kredit konsumsi masih punya ruang untuk turun sebesar 8 bps menjadi 14,5%, sedangkan untuk kredit investasi diproyeksi naik 6 bps menjadi 12,18%.

Pengusaha sejatinya tak ingin ada pengetatan moneter. Pasalnya, kenaikan bunga acuan pasti direspons cepat oleh bank. Ujungnya, bunga kredit naik lagi.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perdagangan Benny Soetrisno mengatakan, bunga kredit perbankan baru turun tipis, setelah BI menahan bunga acuan cukup lama.

Andai bunga acuan BI naik, dia berharap, bank tak buru-buru menaikkan bunga kredit. Dalam kondisi tekanan, Benny berharap, semua pihak termasuk bank ikut berkorban. Apalagi, margin keuntungan bank yang sekitar 5% masih dianggap cukup.

 

Bank menghitung ongkos dana

Bank saat ini tak bisa menjanjikan banyak penurunan bunga. Ada, tapi tak banyak. Mereka beralasan selama ini pun sudah memangkas bunga.

Direktur Resiko, Strategi dan Kepatuhan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Mahelan Prabantarikso menilai, masih ada ruang penurunan bunga kredit masih ada di kuartal II, bahkan sampai kuartal IV tahun ini. Hanya saja, hal tersebut sangat bergantung pada bunga BI.

Di tengah tekanan ini, bank hanya bisa berjanji, tak grusukan menaikkan bunga kredit, andai BI jadi menaikkan bunganya. Tapi, ada beberapa produk yang mengalami kenaikan bunga, demi menjaga cost of fund atau biaya dana agar tak terlalu melukai margin.

"Kami tidak akan selalu naik (jika bunga naik), tergantung komposisi cost of fund kami untuk jadi lebih baik. Masih ada kemungkinan untuk turun, minimal satu dua produk turun khususnya di kredit modal kerja dan kredit investasi," ujarnya.

Handayani, Direktur Konsumer PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mengakui, kenaikan bunga BI akan berdampak pada bank.  “Mungkin akan naik di segmen kredit tertentu. Tentu akan ada yang naik,” katanya.

Menurutnya, hal ini akan tergantung kepada risiko dari setiap segmen bisnis, cost of fund, performance serta cost of credit. BRI akan melakukan efisiensi agar tingkat suku bunga dapat dijaga di level terbaik.

Sedangkan Frenky Tirtowijoyo, Direktur Utama Bank Sinarmas mengatakan, secara umum, kondisi likuiditas akan menentukan tingkat suku bunga perbankan. Jika nanti BI menaikkan bunga acuan 7DRR rate, Frenky bilang tidak serta merta bank akan menaikkan bunga deposito atau kredit. "Saat ini kondisi likuiditas cukup tersedia atau likuid," kata Frenky, Rabu (2/5).

Direktur Treasuri PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Darmawan Junaidi menilai kenaikan tersebut tidak serta-merta akan membuat bank menaikkan bunga kreditnya. Suku bunga kredit masih berpotensi untuk ditahan lantaran dalam pemberian fasilitas kredit bank kepada nasabah, pihak perbankan telah lebih dulu meneliti faktor-faktor pendukungnya.

Bank Mandiri juga akan menjaga kualitas kredit agar risiko tak sensitif begitu terjadi kenaikan bunga. "Risiko kredit sangat kecil dampaknya dari tingkat bunga apabila proses pemberian kredit dilakukan secara prudent dan dievaluasi dengan cermat. Baik dari sisi bisnis maupun pertimbangan risikonya," kata Darmawan.


Reporter: Adinda Ade Mustami, Galvan Yudistira, Ghina Ghaliya Quddus, Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang, Sanny Cicilia
Editor: Sanny Cicilia

Bank Indonesia / BI

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0008 || diagnostic_api_kanan = 0.0520 || diagnostic_web = 0.2996

Close [X]
×