kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.791
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS614.076 0,00%

Sinyal redup BI menaikkan suku bunga acuan

Kamis, 03 Mei 2018 / 21:30 WIB

Sinyal redup BI menaikkan suku bunga acuan
ILUSTRASI.



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Alasan  Bank Indonesia (BI) menaikkan bunga acuan makin banyak. Salah satunya yang tengah membuat resah pasar, yaitu pelemahan rupiah.

Mengutip Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dipublikasikan BI, rupiah Kamis (3/5) ini berada di posisi Rp 13.965 per dollar AS. Ini merupakan level terlemah rupiah sejak tahun 2015 lalu.

Alasan lainnya, bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve masih akan mengerek bunga acuannya. Langkah Paman Sam ini mendorong dollar AS kembali pulang kampung ke AS dan memacu bank sentral global ikut melakukan pengetatan moneter.

Tak dipungkiri, Indonesia juga terkena imbas. Arus dana asing keluar melemahkan kurs rupiah. Bulan April lalu, arus dana asing keluar dari pasar saham saja lebih dari Rp 10 triliun, dan dilanjutkan bulan Mei ini sudah sekitar Rp 1,2 triliun.

Tekanan dari The Fed belum akan berhenti karena bunga AS masih akan naik dua kali, bahkan ada yang memperkirakan tiga kali lagi di tahun ini.

Sebagai perbandingan tren pergerakan bunga bank sentral kita dan AS, BI menahan bunga acuan 7-day (Reverse) Repo Rate di posisi 4,25% sejak September 2017. Dalam rentang waktu yang sama, The Fed sudah dua kali menaikkan bunga, yaitu Desember 2017 dan Maret 2018 ke posisi 1,5%-1,75%.

The Fed diperkirakan pasar akan mengerek bunga lagi pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) 13 Juni mendatang. Mengutip tools CME Group, ada kesempatan 95% bagi The Fed menaikkan bunganya Juni mendatang ke level 1,75%-2%.

Alhasil, kenaikan bunga, salah satu obat untuk menahan dana asing tetap betah di dalam negeri, disebut-sebut agar segera ditenggak oleh BI.

"Kenaikan tingkat bunga acuan perlu dilaksanakan karena bisa mengurangi ketidakpastian,"  kata Febrio N. Kacaribu, Kepala Kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI). Dia bilang, BI butuh kebijakan lain selain intervensi pasar untuk menahan rupiah. Aktivitas ekspor, impor, pembayaran dengan valuta asing pun membutuhkan kurs yang relatif bisa diprediksi.

 

Sinyal BI

Bank Indonesia pun akhirnya memberi jawaban terkait bunga, selain janjinya menjaga pasar dengan cara intervensi. Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan pada akhir April lalu, BI tidak akan ragu untuk melakukan penyesuaian suku bunga, jika pergerakan nilai tukar mempengaruhi stabilitas sistem keuangan. Pernyataan Agus ini melegakan pasar sejenak.

Tapi, BI mengingatkan, akan mengambil langkah kebijakan penyesuaian bunga dengan hati-hati dan terukur. Apalagi, indikator ekonomi yang menjadi acuan BI juga masih dalam rentang aman. Inflasi masih sesuai dengan target pada kisaran 3,5% plus minus 1%. Defisit transaksi berjalan juga di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

BI pada umumnya akan menaikkan BI rate apabila inflasi ke depan diperkirakan melampaui sasaran yang telah ditetapkan. Sebaliknya, Bank Indonesia akan menurunkan BI rate apabila inflasi ke depan diperkirakan berada di bawah sasaran yang telah ditetapkan.

Pelemahan rupiah hari ini yang hampir menembus Rp 14.000 per dollar AS, menurut BI juga ikut disebabkan kewajiban pembayaran luar negeri yang cukup besar. BI mengindikasikan, tren pembayaran ini wajar. "Di kuartal kedua setiap tahun ada kewajiban membayar ke luar negeri yang cukup besar, baik itu bunga, dividen, ataupun bentuk bentuk kewajiban dunia usaha lainnya," kata Agus di Gedung BI, Kamis (3/5).

Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat, BI menunjukkan bahwa pelemahan rupiah saat ini bersifat sementara. Dia memperkirakan, BI belum akan melakukan penyesuaian kebijakan suku bunga hingga akhir tahun 2018.

"Paling cepat, BI lakukan penyesuaian di semester pertama tahun depan," tambah Josua. Di semester II nanti, menurut dia, gejolak arus dana keluar sudah tidak banyak karena sudah semakin jelasnya arah kebijakan suku bunga The Fed.

Apalagi, inflasi juga masih diperkirakan rendah di tahun ini. Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, angka inflasi bulanan tahun ini (Januari-April) yang selalu lebih rendah ketimbang tahun lalu adalah pertanda dorongan harga dari sisi permintaan masyarakat masih lemah.

Mei ini, dia memperkirakan, inflasi inti di posisi 0,19%, naik tipis ketimbang bulan April yang sebesar 0,15%.

Baca selanjutnya: Andai bunga BI naik, apakah bank segera menaikkan bunga kredit?


Reporter: Adinda Ade Mustami, Galvan Yudistira, Ghina Ghaliya Quddus, Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang, Sanny Cicilia
Editor: Sanny Cicilia

Bank Indonesia / BI

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0707 || diagnostic_web = 0.3279

Close [X]
×