kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
FOKUS /

Mata uang Asia melemah, apakah krisis 1997 kembali?


Sabtu, 28 Juli 2018 / 08:00 WIB

Mata uang Asia melemah, apakah krisis 1997 kembali?
ILUSTRASI.

Apa saja kebijakan pemerintah untuk menahan pelemahan rupiah lebih lanjut?

Tak hanya BI yang berupaya mengangkat nilai rupiah. Pemerintah merilis berbagai kebijakan untuk menopang kurs mata uang Garuda.

"Problem utama pelemahan rupiah itu kan supply dan demand dollar yang tidak imbang. Urusan sentimen global, BI sudah antisipasi dengan suku bunga. Sekarang, urusan struktural ekspor impor jadi bagian pemerintah," ujar Juniman.

Ia menilai, penguatan rupiah yang cepat dan signifikan serta terjaga stabil dalam jangka pkanjang hanya dapat terjadi jika CAD bisa kembali surplus. Kendati demikian, setidaknya hingga akhir kuartal ketiga, ia memproyeksi rupiah masih akan dirundung berbagai tekanan eksternal sehingga sulit pulih.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, BI dan pemerintah masing-masing sudah mengambil kebijakan sendiri. “BI mengambil langkah, pemerintah ngambil, seperti kebijakan biodiesel,” kata dia.

Pekan lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan untuk mempercepat pelaksanaan mandatori biodiesel. Darmin mengatakan, implementasi kebijakan ini secara penuh bisa menghemat devisa yang digunakan untuk mengimpor solar hingga US$ 5,5 miliar per tahun, dengan mengacu pada kebutuhan impor solar saat ini yang mencapai US$ 21 juta per hari.

“Kalau sudah full B20 (pemakaian biodiesel sebesar 20%), dalam waktu yang tidak akan lama, beberapa bulan lagi bisa menghemat US$ 5,5 miliar,” ujar Darmin.

Presiden Joko Widodo pun meminta pengusaha untuk menarik devisa hasil ekspor ke dalam negeri. Menurut catatan BI, hanya 15%-25% devisa hasil ekspor yang dikonversi ke rupiah. Padahal, lebih dari 90% devisa hasil ekspor sudah masuk ke Indonesia.

Pemerintah tidak mengeluarkan aturan baru untuk devisa hasil ekspor ini. Tapi, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, pemerintah bersama BI akan memperkuat penegakan hukum atas kewajiban laporan valas hasil ekspor yang direpatriasi.

Paling baru, Jumat (27/7), pemerintah menyiapkan aturan untuk menghapus kewajiban memasok batubara dalam negeri alias domestic market obligation (DMO) batubara. Kebijakan ini diambil untuk memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan.

Sebagai gantinya, pemerintah akan memungut dana US$ 2-US$ 3 per ton ke para pengusaha batubara. Pencabutan DMO ini diyakini bisa mendatangkan devisa hingga US$ 5 miliar dalam setahun. “Berdampak baik terhadap CAD kita. Jadi nanti kalau diperbaiki biodisel juga digunakan PSO dan non PSO, kita juga akan dapat US$ 15 miliar. Jadi, CAD tidak defisit dan rupiah stabil,” kata Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, kemarin.

Ke mana arah rupiah?

Setelah berbagai upaya otoritas, ke mana arah rupiah selanjutnya?

"Pasar menanti tanggal 10 Agustus, di mana calon presiden dan wakilnya yang akan maju dalam Pemilu ditentukan. Sampai saat itu, investor akan cenderung memilih memegang dollar AS ketimbang rupiah yang berisiko," ujar Juniman.

Kedua, ketidakpastian yang besar juga datang dari perang dagang yang masih bergulir, terutama antara AS dan China. Tekanan akan kian menguat jelang pertemuan pejabat The Fed atau FOMC meeting pada September. "Tekanan bukan dari ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga tahun ini, tapi dari penantian pasar terhadap proyeksi kebijakan The Fed di tahun 2019," kata Juniman.

Melihat paduan sentimen tersebut, Juniman memproyeksi rupiah masih akan bergerak melemah dalam rentang Rp 14.200-Rp 14.700 per dollar AS.

Head of Economic & Research UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja, memprediksi di akhir kuartal III-2018 rupiah akan berada pada level Rp 14.600 per dollar AS. Faktor yang menurutnya akan paling berpengaruh pada rupiah antara lain pengetatan moneter AS dan konflik perang dagang yang menjadi-jadi.

"Dalam kondisi seperti ini, level (rupiah) berapapun bisa terjadi. Pemerintah dan BI harus lebih cermat melihat trigger dan dampak pelemahan rupiah supaya langkah intervensi yang dilakukan tepat. Kalau tidak, hanya akan jadi seperti menabur garam di air laut," kata Enrico, Jumat (20/7).

Untuk akhir tahun, Enrico bahkan telah merevisi target nilai tukar rupiah dari sebelumnya Rp 14.000 menjadi Rp 14.700 per dollar AS. Ia memproyeksi, pengetatan moneter AS masih akan menjadi pemicu utama pelemahan rupiah, bahkan hingga pertengahan tahun depan.

Juniman lebih optimistis melihat posisi rupiah di akhir tahun. Ia memperkirakan, rupiah bisa kembali menguat pasca berakhirnya hajatan The Fed di tahun ini, serta ketidakpastian politik dalam negeri cenderung mereda.

"Akhir tahun, harusnya rupiah bisa kembali menguat ke level Rp 13.700 hingga Rp 14.000 per dollar AS," imbuh Juniman.

Juniman juga berharap, penguatan rupiah di akhir tahun juga bisa disorong oleh neraca dagang yang terjaga surplus. Sebab, kebijakan menaikkan suku bunga pada akhirnya hanya bersifat temporer dan berpotensi memberatkan laju pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Lana menambahkan, faktor eksternal masih menjadi penentu arah rupiah selanjutnya. “Ada potensi bunga naik kalau sentimen luar negeri masih ada. The Fed masih dua kali lagi menaikkan suku bunga. Kita tidak bisa menghindari hal ini, kata Lana.

Lana memperkirakan, di angka optimistis, rupiah bisa menguat ke Rp 14.300 per dollar AS pada akhir tahun dengan batas atas antara Rp 14.600-Rp 14.700 per dollar AS.

Darmin menyatakan bahwa pelemahan rupiah tampaknya masih akan berlanjut. Hal ini disebabkan oleh normalisasi kebijakan moneter The Fed. “Saya sering ditanya rupiah melemah lagi. Memang belum berhenti proses masih berjalan,” kata Darmin, Selasa (24/7).

“Tahun ini saja rencananya The Fed akan menaikkan tingkat bunga dua kali lagi. Ya, mesti naik lagi. Tingkat bunga dia. Bank sentral kita juga pasti akan naikkan tingkat bunga,” lanjutnya.


Reporter: Adinda Ade Mustami, Ghina Ghaliya Quddus, Grace Olivia, Sinar Putri S.Utami, Wahyu Tri Rahmawati
Editor: Wahyu Rahmawati
Video Pilihan

Tag

Close [X]
×