kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR15.192
  • EMAS622.149 -0,48%
FOKUS /

Mata uang Asia melemah, apakah krisis 1997 kembali?

Sabtu, 28 Juli 2018 / 08:00 WIB

Mata uang Asia melemah, apakah krisis 1997 kembali?
ILUSTRASI.



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kedigdayaan mata uang dollar Amerika Serikat (AS) makin terasa. Nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) naik ketika bank sentral AS Federal Reserve mulai menaikkan suku bunga acuan. Suku bunga yang tinggi menyebabkan investasi di AS menjadi lebih menarik.

Kenaikan suku bunga ini sebenarnya adalah normalisasi kebijakan sebelumnya. AS memiliki bunga hampir nol persen setelah krisis ekonomi tahun 2008. Bank sentral menurunkan suku bunga untuk menggerakkan ekonomi dan memaksa likuiditas mengalir.

Setelah bank sentral menganggap ekonomi Paman Sam mulai membaik, suku bunga mulai naik. Kenaikan suku bunga makin agresif terjadi sejak tahun lalu. Tahun ini, kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) sudah dua kali. Gubernur The Fed Jerome Powell mengirim sinyal akan menaikkan suku bunga hingga dua kali lagi, setelah kenaikan di bulan Maret dan Juni lalu.

Data terbaru yang dirilis kemarin menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS di kuartal kedua mencapai 4,1% secara kuartalan. Dengan laju pertumbuhan ekonomi yang makin kencang, bank sentral AS akan perlu mengerek bunga agar ekonomi tidak overheating.

Belakangan, nilai tukar dollar AS semakin kuat seiring sentimen negatif berupa perang dagang. Perang yang diawali rencana proteksionisme AS ini makin gencar, terutama menghadapi China yang mencatat surplus perdagangan besar terhadap AS. Presiden AS Donald Trump menaikkan tarif impor atas baja dan aluminium pada awal tahun. Aksi ini diikuti berbagai rencana pengenaan tarif impor untuk mendorong produksi dalam negeri dan memperbaiki neraca perdagangan.

Perang dagang yang muncul sejak awal tahun ini menimbulkan perang mata uang. Banyak negara memilih mata uang yang lebih lemah agar nilai ekspor tetap tinggi di tengah penurunan volume. Hal inilah yang memicu komentar Presiden AS Donald Trump soal pelemahan mata uang yuan dan euro.

Menurut pengamat pasar, penguatan dollar AS yang terjadi belakangan merupakan sinyal pengalihan aset dari emerging market yang berisiko ke aset aman. Aset yang dianggap paling aman sejauh ini adalah dollar AS. Emas sebagai safe haven lain sudah nyaris ditinggalkan. Ini tampak dari harga emas yang terus menurun.

Sementara yen pun tertekan suku bunga yang tak kunjung naik. Investasi di Jepang tidak menghasilkan yield setinggi keinginan investor. Sementara AS menawarkan suku bunga yang makin tinggi. Inilah salah satu hal yang memicu investasi dollar yang makin tinggi.

Jumat (27/7) pukul 18.01 WIB, indeks dollar berada di angka 94,91. Indeks yang mencerminkan nilai tukar dollar AS terhadap mata uang utama dunia, seperti euro, yen, dan poundsterling ini bergerak makin tinggi sejak awal tahun. Penguatan dollar AS semakin terasa di Asia.

Hampir seluruh mata uang negara Asia melemah terhadap dollar AS. Sejak awal tahun hingga Jumat, hanya mata uang yen yang masih menguat 1,34% terhadap dollar AS.

India, Filipina, dan Indonesia menjadi tiga negara Asia dengan pelemahan mata uang terbesar. Nilai tukar rupee terhadap dollar AS melemah 7,07% sejak awal tahun. Pelemahan peso Filipina mencapai 6,53% pada periode yang sama. Sedangkan rupiah sudah melemah 5,98% secara year to date.

Nilai tukar rupiah Jumat ditutup pada Rp 14.417 per dollar AS. Kurs rupiah terhadap dollar AS ini menguat dalam tiga hari berturut-turut setelah menyentuh level terendah sejak Oktober 2015. Rupiah menembus Rp 14.500 per dollar AS pada Selasa pekan ini.

Dari seluruh mata uang kawasan Asia, ada beberapa mata uang yang makin melemah dalam tiga bulan terakhir. Terutama mata uang yuan, baik offshore maupun onshore. Nilai tukar yuan tercatat melemah 4,87% jika dihitung sejak awal tahun. Tapi, pelemahan yuan mencapai 7,72% dalam tiga bulan terakhir. Pada periode ini, yuan mencatat pelemahan paling dalam di Asia, diikuti oleh baht Thailand 5,87% dan won Korea 3,7%.

Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman menjelaskan, pelemahan rupiah dipicu oleh melemahnya mata uang yuan China. “Melemahnya yuan membuat mata uang emerging market ikut terseret. Jadi tidak hanya rupiah, tapi juga mata uang lainnya kompak melemah,” ujar Juniman beberapa waktu lalu.


Kurs Rupiah

Tag
TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0016 || diagnostic_api_kanan = 0.1240 || diagnostic_web = 1.6676

Close [X]
×