kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
FOKUS /

Rupiah terus anjlok, pengusaha siap naikkan harga jual produk (1)


Selasa, 24 Juli 2018 / 16:25 WIB

Rupiah terus anjlok, pengusaha siap naikkan harga jual produk (1)
ILUSTRASI. Pengunjung Berbelanja di Pusat Belanja Ritel


Efek kenaikan harga makanan dan minuman tidak akan langsung dirasakan konsumen. Sebab, sebelum menaikkan harga jual, pelaku industri biasanya memberikan kesempatan bagi distributor atau agen membeli produk dengan harga lama. “Kenaikan harga baru akan terasa sampai ke pasar dua bulan setelah kenaikan,” ujarnya.

Kenaikan harga produk makanan dan minuman tak hanya karena kenaikan harga bahan baku impor, tapi juga karena kenaikan biaya produksi akibat naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi serta kenaikan harga kemasan.

Industri manufaktur lainnya, seperti industru tekstil juga berpotensi menaikkan harga jual. Sebab bahan bakunya, seperti fiber sintetis memakai patokan harga dalam dollar AS.

Ditambah lagi, pada saat bersamaan harga minyak bumi juga meningkat. Alhasil, seperti dikatakan Redma Gita Wirawasta, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), fiber sintetis berasal dari minyak dunia.

Alhasil, harganya mengekor harga minyak bumi. “Saat harga bahan baku tekstil naik, maka biaya produksi juga ikutan naik,” terang Redma.

Dengan kenaikan biaya produksi, pilihan yang dilakukan industri tekstil adalah mengurangi produksi. Apalagi kondisi pasar saat ini masih sepi karena pasca Lebaran.

Kondisinya semakin rumit saat impor bahan baku tekstil melenggang masuk ke Indonesia dengan harga lebih murah. “Penjualan bahan baku tekstil kami bulan Juni sudah turun 10%,” ujar Redma.

Revisi proyek pemerintah

Selain membuat susah pelaku industri manufaktur, terpuruknya kurs rupiah, juga membuat pusing pelaku bisnis jasa kontraktor dan perdagangan.

Betapa tidak, semula nilai proyek dipatok saat dollar AS bertengger Rp 13.300 per dollar AS. Kini nilai proyek itu membengkak karena rupiah melemah sampai Rp 14.400 per dollar AS.

“Yang paling pusing, kontraktor yang mengerjakan proyek besar dan menggunakan material yang riskan gejolak pelemahan rupiah,” ujar Errika Ferdinata, Wakil Sekretaris Jenderal II Gabungan Pelaksana Konstruksi Indonesia (Gapensi).

Ada banyak pengeluaran kontraktor yang terpengaruh nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Mulai dari pemakaian material konstruksi yang masih impor, seperti rangka baja, pipa baja, sampai dengan sewa alat berat yang dipatok dengan tarif dalam mata uang dollar AS.


Reporter: Asnil Bambani Amri, Francisca Bertha Vistika
Editor: Mesti Sinaga

Video Pilihan


Close [X]
×