Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.488
  • SUN95,67 0,14%
  • EMAS659.000 0,00%
FOKUS /

Rupiah buntung, utang menggunung (2)

Rabu, 25 Juli 2018 / 17:35 WIB

Rupiah buntung, utang menggunung (2)
ILUSTRASI.

Sebelumnya: Rupiah terus anjlok, pengusaha siap naikkan harga jual produk (1)



Mereka Murung Saat Rupiah Buntung

Perang dagang antara Amerika Serikat melawan China dan akan menyeret Uni Eropa, menjadi petaka seluruh pelosok negeri, tak terkecuali Indonesia. Meskipun AS belum resmi menabuh genderang perang dagang dengan Indonesia, sepak terjang Presiden AS Donald Trump sudah bikin susah pengusaha.

Kondisi perekonomian dunia saat ini seperti pepatah gajah bertarung melawan gajah, pelanduk mati di tengah. Bagaimana tidak, akibat ulah Trump dollar AS menguat tak terkira, dan sebaliknya rupiah terjungkal merana. Rupiah saat ini terus terpuruk di dasar Rp 14.000 sejak pertengahan Juni 2018.

Menguatnya dollar AS jelas merepotkan pengusaha yang punya kewajiban dollar AS. Maklum saat ini sebagian besar perusahaan Indonesia mengandalkan impor bahan baku dari luar yang musti dibayar pakai dolar. Tak hanya itu pendanaan untuk investasi maupun modal kerja sebagian juga berasal dari lembaga keuangan asing.

Tak ayal pengusaha musti menyiapkan dollar saban bulan untuk menutupi kewajiban. Nah sayangnya, sebagian besar penghasilan mereka, didapat dengan mata uang rupiah.

Dalam catatan Statistik Utang Publik di Bank Indonesia, tercatat total utang valuta asing atawa Valas perusahaan Badan Usaha milik Negara (BUMN) non lembaga keuangan per akhir Maret 2018 mencapai US$  27.717 juta atau setara dengan Rp 369,26 triliun dengan perhitungan kurs saat itu Rp 13.756/dollar AS.

Sementara posisi utang valas lembaga keuangan publik secara bruto mencapai pada periode yang sama mencapai  US$ 43.577 juta, setara Rp 554,79 triliun (kurs Rp 13.756).

Ya, utang valas korporasi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir memang melonjak tajam (lihat Tabel). Salah satunya dari BUMN yang mendapatkan tugas pemerintah untuk membangun proyek infrastruktur.

Misalnya PT PLN yang mendapat beban merealisasikan janji proyek setrum 35.000 megawatt. PLN Dalam paparan manajemen PLN, per September 2017 lalu total utang valas PLN mencapai US$ 22,092  miliar atau 64% dari total utang mereka.

Sedangkan rupiahnya mencapai Rp 298,06 triliun. “Suka tidak suka, ini jadi beban buat kami karena sebagian pembayaran kami memakai dollar AS,” kata Sofyan Basir Direktur Utama PT PLN. Ia pun berharap gejolak nilai tukar ini tidak berlangsung lama.

Menurut Direktur Keuangan PLN, Sarwono Sudarto melemahnya rupiah membuat biaya pembelian atau impor komponen pembangkit listrik. Beruntung, beberapa waktu lalu PLN sudah melakukan lindung nilai senilai US$ 30 juta di tiga bank.

Selain PT PLN, perusahaan berbiaya dolar tapi mayoritas penghasilan dalam rupiah seperti PT Garuda Indonesia Tbk juga kelimpungan dengan kondisi ini. Helmi Imam Satriyono, Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia Tbk menyebut, saat ini sekitar 75%–80% pendapatan Garuda dalam bentuk rupiah.


Video Pilihan

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0009 || diagnostic_api_kanan = 0.0640 || diagnostic_web = 0.3248

Close [X]
×