| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.473
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS600.960 -0,17%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%
FOKUS /

Peta konglomerasi pasca 20 tahun reformasi (2): Munculnya para taipan baru

Rabu, 04 Juli 2018 / 16:34 WIB

Peta konglomerasi pasca 20 tahun reformasi (2): Munculnya para taipan baru
ILUSTRASI. Pengusaha Chairul Tanjung

Sebelumnya:  Peta konglomerasi pasca 20 tahun reformasi (1): Cakar bisnis naga kian menancap


Merintis Pra Krismon, Kini Memetik Hasil

Mengapa terjadi krisis ekonomi dua dasawarsa silam? “Konglomerasi tahun 1998 itu rata-rata konglomerasi tidak tahu diri. Karena mereka tidak memikirkan neraca,” ujar Dato’ Sri Tahir, Pendiri Mayapada Group ketika mengawali wawancara dengan KONTAN.

Konglomerat di era sebelum 1998 hanya memikirkan bagaimana bisa pinjam uang sebanyak mungkin, dan sebesar mungkin untuk menjalankan usahanya.

Apapun mereka halalkan, yaitu utang dari berbagai lembaga keuangan dan perbankan dalam negeri, juga menumpuk utang dari luar negeri.

Akibat polah mereka, perbankan dalam negeri pun kena getahnya. Likuiditas ketat, tak mampu hadapi krisis moneter yang terjadi saat itu.

Setelah peristiwa itu, konglomerat baru tersadar bahwa bisnis itu tidak bisa dikembangkan tanpa batasan. Harus ada regulasinya. “Konglomerasi pun menjadi lebih pintar dan cerdik, regulasi dibuat, pengawasan pun berjalan,” kata Tahir.

Pasca krisis moneter, satu per satu pengusaha yang sudah merintis bisnis sejak tahun 1980-an pun akhirnya bisa mencatatkan diri sebagai konglomerasi. Misalnya, konglomerasi Mayapada Group milik Tahir.

Bisnis Tahir yang berawal  dari Bank Mayapada tahun 1990 terus menggurita. Bisnis keuangannya makin berkembang di lini pembiayaan dan asuransi. Lantas banyak pengusaha masuk ke bisnis ritel khusus, kesehatan, properti, dan media.

Lalu ada Group Emtek milik Eddy Kusnadi Sariatmadja. Tahun 1983 Eddy memulai bisnis penyediaan layanan komputer pribadi dengan bendera PT Elang Mahkota Teknologi (Emtek).

Lantas bisnisnya berkembang menjadi kelompok usaha yang memiliki bisnis media, telekomunikasi dan solusi TI, serta konektivitas.

Konglomerasi lain yang mulai berkibar tahun 2000-an adalah CT Corp. Group milik pengusaha Chairul Tanjung ini sudah dirintis sejak tahun 1980-an dengan bisnis  industri pembuatan sepatu.

Tahun 90-an, mereka masuk ke bisnis pembiayaan, lalu ke bisnis perbankan, hingga moncer di dunia media dan ritel.
Lantas strategi apa yang akan mereka lakukan untuk terus menumbuhkan bisnisnya? Adakah bisnis baru atau sekadar menyirami bisnis lama?  


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk, Fransiska Firlana
Editor: Mesti Sinaga

KONGLOMERASI

TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0384 || diagnostic_web = 0.2215

×