kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45709,09   6,67   0.95%
  • EMAS931.000 -0,32%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

ORI016 hanya menawarkan kupon 6,80%, apakah layak beli?


Sabtu, 05 Oktober 2019 / 00:01 WIB
ORI016 hanya menawarkan kupon 6,80%, apakah layak beli?
ILUSTRASI. Pemerintah mematok target indikatif Rp 9 triliun pada penjualan ORI016.

Reporter: Dimas Andi, Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah memulai masa penawaran obligasi negara ritel (ORI) seri ORI016 sejak 2 Oktober 2019 lalu hingga 24 Oktober atau hampir tiga pekan lagi. Kali ini, pemerintah menawarkan kupon sebesar 6,80% per tahun.

Ini adalah penawaran kupon terendah surat utang ritel yang ditawarkan pemerintah tahun ini. Tapi, surat utang ritel yang terbit sejak awal tahun adalah saving bond retail (SBR) dan sukuk tabungan (ST) yang tidak dapat diperdagangkan di pasar. Sementara ORI dan sukuk ritel merupakan dua instrumen investasi ritel yang dapat diperdagangkan di pasar.

Namun, seiring dengan penurunan suku bunga acuan, penawaran kupon surat utang ritel yang diterbitkan pemerintah pun semakin menciut. Saving bond retail (SBR) yang terbit bulan lalu seri SBR008 menawarkan kupon dengan floating floor 7,20%. Surat utang yang tidak dapat diperdagangkan ini bertenor dua tahun dan mencapai total nilai Rp 1,89 triliun.

Sementara ORI016 memiliki tenor tiga tahun dan dapat diperdagangkan di pasar sekunder setelah periode tahan hingga pembayaran kupon pertama pada 15 Desember 2019.

Baca Juga: Mahathir: Carrie Lam sebaiknya mundur dari posisi pemimpin Hong Kong

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan bahwa pemerintah menetapkan target indikatif Rp 9 triliun. Target ini ditetapkan berdasarkan masukan dari 23 mitra distribusi yang dipilih oleh pemerintah. "Minat investor masih akan tinggi karena ORI016 bersifat tradable dan pembayarannya dijamin oleh pemerintah," kata Luky pada peluncuran ORI016, Rabu (2/10) lalu.

Pada penerbitan awal tahun, pemerintah mematok imbalan 8,05% untuk sukuk ritel seri SR0011. Ketika itu, pemerintah mencatat penjualan sukuk ritel Rp 21,13 triliun. Berikut penerbitan surat utang ritel sepanjang tahun 2019:

Seri SBN Ritel Nilai Penawaran Kupon
SBR005 Rp 4,01 triliun 8,15% (floating floor)
ST003 Rp 3,13 triliun 8,15% (floating floor)
SR011 Rp 21,12 triliun 8,05% (fixed rate)
SBR006 Rp 2,26 triliun 7,95% (floating floor)
ST004 Rp 2,63 triliun 7,95% (floating floor)
SBR007 Rp 3,22 triliun 7,50% (floating floor)
ST005 Rp 1,97 triliun 7,40% (floating floor)
SBR008 Rp 1,89 triliun 7,20% (floating floor)
ORI016 Rp 9 triliun 6,80% (fixed rate)

Ekonom Pefindo Fikri C. Permana melihat, kupon ORI016 masih sangat menarik pagi investor ritel jika dibandingkan dengan instrumen lain. Misalnya saja, surat utang negara (SUN) seri FR0035 bertenor tiga tahun yang memiliki yield 6,47% pada Jumat (4/10). "ORI016 juga memiliki sistem pembayaran kupon bulanan dan bisa diperdagangkan di pasar sekunder,"  kata Fikri.

Sementara Head of Research & Consulting Infovesta Utama Edbert Suryajaya mengatakan, ORI016 masih dapat menjadi pilihan menarik bagi investor ritel. Suku bunga yang masih berpeluang turun menyebabkan kupon penerbitan selanjutnya akan lebih rendah.

Baca Juga: Bank Mandiri targetkan penjualan ORI016 sebanyak Rp 800 miliar

Edbert menambahkan, fitur dapat diperdagangkan di pasar sekunder menjadi daya tarik tersendiri bagi ORI. Investor ritel biasanya jarang memperdagangkan ORI di pasar sekunder. Tapi, investor bisa melepas ORI yang dimiliki kapan saja tanpa harus menunggu periode early redemption.

"Adanya fitur transaksi di pasar sekunder menyebabkan investor bisa meraih untung, tapi juga bisa merugi," kata Edbert. Oleh karena itu, dia menyarankan investor untuk mempertimbangkan alokasi dana untuk ORI016.

Kinerja ORI di pasar sekunder

Kinerja ORI di pasar sekunder

Saat ini, ada tiga seri ORI yang masih beredar di pasar. ORI013 akan jatuh tempo pada tanggal 15 Oktober 2019 atau dua pekan lagi. ORI014 akan jatuh tempo pada 15 Oktober 2020. Sedangkan ORI015 jatuh tempo pada 15 Oktober 2021.

ORI014 dan ORI015 memiliki kinerja yang berkebalikan. Asal tahu, ORI014 menawarkan kupon yang lebih rendah daripada ORI016 yang akan terbit tahun ini. 

ORI014 memiliki kupon 5,85%. Kupon yang rendah menyebabkan penjualan ORI014 hanya mencapai Rp 8,95 triliun. Sedangkan ORI015 menawarkan kupon 8,25% pada penerbitan perdana. ORI015 mencatat penjualan hingga Rp 23,38 triliun.

Pada perdagangan kemarin, harga ORI014 turun menjadi 99,63 dari harga par 100. Alhasil, imbal hasil instrumen ritel ini meningkat menjadi 6,22%. Jika investor ORI014 menjual portofolionya, maka dia akan mencatatkan capital loss alias kerugian dari nilai investasi akibat penurunan harga.

Jika membeli ORI014 di pasar sekunder saat ini, maka Anda akan mendapatkan imbal hasil 6,22% per bulan hingga jatuh tempo tahun depan. Angka imbal hasil ini lebih rendah ketimbang penawaran ORI baru seri ORI016.

Sementara harga ORI015 justru naik menjadi 103,32 dari harga par 100 saat penerbitan. Jika investor ORI015 menjual portofolionya, dia akan mencatat capital gain atawa keuntungan investasi dari kenaikan harga.

Pada penutupan perdagangan kemarin, surat utang ritel yang akan jatuh tempo dua tahun lagi ini mencatat yield terakhir 6,49%. Yield di pasar sekunder ini pun lebih rendah daripada ORI seri baru.

Kenaikan harga yang terjadi pada seri ORI015 menunjukkan bahwa obligasi negara ritel ini diburu investor, baik individu maupun institusi. Karena ORI bisa dibeli oleh investor institusi jika sudah masuk ke pasar sekunder.

Penawaran suku bunga pada saat penerbitan yang tinggi, yakni 8,25% menyebabkan SUN ritel ini menarik di mata investor. Tapi, semakin tinggi harga ORI di pasar maka porsi yield alias tingkat pembayaran bunga per bulan akan turun.

Kupon masih lebih besar ketimbang deposito

Kupon masih lebih besar ketimbang deposito

Meski terkesan kecil, kupon ORI016 masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan hampir seluruh penawaran bunga deposito perbankan. Berdasarkan data PIPU yang diperoleh Kontan.co.id, hanya dua deposito yang menawarkan bunga lebih tinggi ketimbang ORI016.

Data bunga deposito ini adalah bunga deposito dari 23 bank. Berdasarkan data PIPU kemarin, suku bunga yang lebih tinggi daripada ORI terbaru adalah deposito Bank Mega bertenor 12 bulan yang menawarkan bunga 7,3% dan deposito Bank Mayora 6 bulan yang menawarkan bunga 7%.

Sementara bunga deposito rata-rata perbankan hanya mencapai 6%.

Tertarik membeli?

Ada 23 mitra distribusi yang menjual ORI016 hingga 24 Oktober mendatang. Berikut adalah 23 mitra distribusi ORI tahun ini:

  1. BCA
  2. Bank Mandiri
  3. BNI
  4. Bank Permata
  5. BRI
  6. BTN
  7. Maybank
  8. Bank CIMB Niaga
  9. Bank OCBC NISP
  10. Bank Panin
  11. Bank DBS Indonesia
  12. Bank HSBC Indonesia
  13. Bank UOB Indonesia
  14. Bank Commonwealth
  15. Trimegah Sekuritas
  16. Danareksa Sekuritas
  17. Bahana Sekuritas
  18. Mandiri Sekuritas
  19. Bareksa Portal Investasi
  20. Star Mercato Capitale (Tanamduit)
  21. Nusantara Sejahtera Investama (Invisee)
  22. Investree Radhika Jaya
  23. Mitrausaha Indonesia Grup (Modalku)

Penawaran ORI tahun ini dilakukan secara online untuk pertama kalinya di pasar primer untuk pertama kalinya. Investor bisa membeli dengan minimal investasi Rp 1 juta dan maksimal Rp 3 miliar.

Investor yang memesan ORI016 dapat membayar atau melunasi dana melalui ATM atau mobile banking, e-commerce, pos, hingga virtual account.




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×