kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45935,34   -28,38   -2.95%
  • EMAS1.321.000 0,46%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%
FOKUS /

Optimisme ekonomi melaju pasca kado dari S&P


Sabtu, 20 Mei 2017 / 07:41 WIB
Optimisme ekonomi melaju pasca kado dari S&P


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Penantian yang telah ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Akhir pekan ini, Jumat (19/5), lembaga pemeringkat Standard & Poor's (S&P) mengumumkan kenaikan rating surat utang Indonesia menjadi layak investasi (investment grade).

Mengikuti jejak yang telah lebih dahulu disematkan oleh Fitch dan Moody's pada tahun lalu. S&P menaikkan rating menjadi BBB- atau stable outlook, level investment grade terendah, naik dari status BB+. "Ini sudah waktunya," kata Wellian Wiranto, ekonom OCBC Singapura dikutip dari Reuters.

Kabar ini pun langsung disambut gembira oleh pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melonjak 3,2 % menembus rekor 5.825,2, memperpanjang kenaikan tahun ini menjadi hampir 10%. Rupiah menguat sebanyak 0,3 %.

Sebelum panjang lebar, tidak salahnya memahami kembali apa yang dimaksud rating itu? dan apa implikasinya ke investasi?.

Rudiyanto, Direktur PT Panin Asset Management dalam catatan rudiyanto.blog.kontan.co.id menuliskan, rating adalah suatu penilaian yang terstandarisasi terhadap kemampuan suatu negara atau perusahaan dalam membayar utang-utangnya.

Terstandarisasi ini artinya rating suatu perusahaan atau negara dapat dibandingkan dengan perusahaan atau negara yang lain sehingga dapat dibedakan siapa yang mempunyai kemampuan lebih baik, siapa yang kurang

Rating ini diberikan oleh perusahaan pemeringkat. Di Indonesia, ada PT Pefindo, Fitch Rating Indonesia, dan ICRA (Indonesia Credit Rating Agency). Umumnya perusahaan yang mendapat izin dari pemerintah Indonesia hanya memeringkat perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia.

Sementara, rating terhadap kemampuan membayar utang suatu negara dilakukan oleh perusahaan pemeringkat yang mendapatkan pengakuan internasional. Setidaknya ada tiga pemain besar seperti S&P, Moody's, dan Fitch Rating.

Suatu rating terdiri dari 2 bagian Rating dan Outlook. Rating adalah kemampuan membayar hutang sedangkan Outlook adalah pandangan dari perusahaan pemeringkat apakah Rating akan naik, turun atau tetap pada periode penilaian berikutnya.

Nah, lalu apa investment garde?, kategori bahwa suatu perusahaan atau negara dianggap memiliki kemampuan yang cukup dalam melunasi hutangnya. Sehingga bagi investor yang mencari investasi yang aman, umumnya mereka memilih rating investment grade.

Non Investment Grade adalah kategori bahwa suatu perusahaan atau negara dianggap memiliki kemampuan yang meragukan dalam memenuhi kewajibannya. Perusahaan yang masuk kategori ini biasanya cenderung sulit memperoleh pendanaan.

Supaya bisa berhasil umumnya mereka memberikan kupon atau imbal hasil yang tinggi sehingga disebut juga dengan high yield bond. Investor yang memilih jenis obligasi ini biasanya cenderung memiliki sifat spekulatif.

Selanjutnya, Rudiyanto menjelaskan rating dalam hal ini terhadap Indonesia memiliki implikasi signifikan terhadap investasi. Di antaranya, investor asing akan mengganggap negara Indonesia menjadi negara yang layak investasi (investment grade) dibandingkan negara yang hanya menjadi tujuan spekulasi saja.

Dengan masuknya investasi, maka dana yang masuk tidak melulu hanya dana hot money yang bisa keluar setiap saat akan tetapi bisa jadi merupakan dana investasi yang sifatnya lebih jangka panjang.

Masuknya dana asing diharapkan dapat mendongkrak harga saham dan obligasi sehingga pada akhirnya juga meningkatkan tingkat pengembalian instrumen reksadana.

Fundamental ekonomi

S&P mengungkapkan alasan mengapa peringkat utang Indonesia naik. S&P menilai Indonesia mampu mengurangi risiko fiskalnya. Fokus pemerintah atas bujet yang lebih realistis mengurangi risiko shortfall atas penerimaan pajak.

Rating S&P ini bisa dikatakan mengikuti kesuksesan dari program amnesti pajak yang digulirkan pemerintah Indonesia, mampu menghasilkan pendapatn lebih dari US$ 11 miliar. Membantu mengurangi tekanan pada anggaran dan biaya proyek infrastruktur. Pulihnya ekspor dan kuatnya belanja konsumen turut mendukung laju ekonomi.

Gundy Cahyadi, ekonom DSB Singapura mengatakan rating investment grade yang diraih Indonesia merupakan indikasi yang jelas mengenai fundamental ekonomi yang membaik dalam beberapa tahun terakhir dan pengakuan investor.

S&P juga mengapresiasi otoritas moneter Bank Indonesia (BI) yang dinilai dapat menjaga laju pertumbuhan ekonomi, dengan mengurangi dampak dari gejolak ekonomi dan keuangan global kepada stabilitas makroekonomi Indonesia.

Inflasi di Indonesia, menurut S&P, dapat dijaga dan sejalan dengan negara mitra dagang utama. Selain itu, independensi BI dalam menjaga pencapaian target kebijakan moneter. Penggunaan instrumen berbasis pasar dalam implementasi kebijakan moneter semakin besar, disertai penerapan fleksibilitas nilai tukar Rupiah yang semakin meningkat.

Menyikapi kajian S&P, Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan Indonesia semakin diakui oleh dunia internasional terkait keberhasilan dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

"Optimisme terhadap perkembangan ekonomi Indonesia ini juga dirasakan oleh pelaku pasar dan pemangku kepentingan lainnya. Untuk itu, BI akan terus menjaga stabilitas makroekonomi guna mendukung berlanjutnya upaya reformasi struktural Pemerintah dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif." kata Agus.

Proyeksi ekonomi

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan penilaian yang diberikan S&P dalam memberikan peringkat layak investasi tersebut telah sesuai dengan upaya yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kinerja pelaksanaan kebijakan fiskal.

"Kebijakan fiskal Indonesia dianggap telah mengalami perbaikan signifikan dengan langkah yang dilakukan pemerintah dari sisi belanja maupun penerimaan," ungkapnya.

Dari sisi belanja, kata dia, pemerintah telah fokus memberikan alokasi kepada belanja kepada sektor prioritas dan produktif seperti infrastruktur, pendidikan dan kesehatan, untuk memperbaiki efisiensi ekonomi.

Sedangkan dari sisi penerimaan negara, pemerintah secara konsisten telah melakukan reformasi dalam bidang perpajakan, untuk memberikan stabilitas dalam pengelolaan APBN.

"Upaya pemerintah memperbaiki penerimaan perpajakan telah dilakukan melalui amnesti pajak, serta sinergi otoritas pajak dan bea cukai, untuk mendapatkan penerimaan tanpa kondisi ekonomi mengalami tekanan," kata Sri Mulyani.

Ia menambahkan S&P juga melihat desain APBN saat ini jauh lebih realistis karena telah menjadi instrumen yang kredibel dan efektif bagi tujuan pembangunan serta defisit anggaran yang lebih terjaga.

"Indonesia bisa selangkah mencapai tujuan pembangunan, mengurangi angka kemiskinan, menekan kesenjangan, dan menciptakan kesempatan kerja, tanpa harus APBN mengalami situasi yang tidak 'sustain'," kata Sri Mulyani

Selain itu, ia memastikan proyeksi perekonomian dari S&P terhadap Indonesia juga sejalan dengan prediksi pemerintah di 2017 yaitu pertumbuhan ekonomi 5,3 %, inflasi 4,7 % dan defisit anggaran 2,4 persen terhadap PDB. Selain itu, dapat membantu Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi 5,4 - 6,1 % pada tahun 2018.

Tembus level 6.000

Direktur Utama BEI Tito Sulisto optimistis setelah rating S&P ini maka dana asing akan meskin deras masuk ke dalam negeri. "Saya pernah ketemu dengan manajer investasi Jepang. Dia bilang belum bisa masuk ke suatu negara kalau tidak investment grade," ujar Tito Sulistio dikutip dari Antara.

Ia menambahkan bahwa dengan kenaikan peringkat itu juga dapat mendorong suku bunga menurun yang akhirnya dapat memicu investor menempatkan dananya ke pasar saham. Ketika saham diburu maka harga saham naik. "Di mana-mana, ketika suku bunga turun, pasar modal akan naik," kata Tito Sulistio.

Setelah kenaikan peringkat itu, lanjut Tito Sulistio, BEI memiliki tugas tambahan yakni menambah jumlah instrumen investasi di pasar modal. Salah satu instrumen yang menjadi perhatiannya yakni produk derivatif structured warrant.

"Sekarang tugas kita menambah produk derivatif, yakni structured warrant," katanya.

Sementara itu, Rudiyanto mengatakan bahwa setelah kenaikan peringkat Indonesia oleh S&P, maka indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI diproyeksikan menembus level 6.000 poin dalam waktu dekat ini.

"Valuasi kami, jika S&P tidak menaikan peringkat harga wajar IHSG berada di level 6.000 poin. Jika naik maka akan menembus level itu," katanya.

Nada optimisme juga disampaikan oleh analis Bahana Sekuritas Harry Su. IHSG bakal menembus level 6.000 sampai 6.300 pasca kenaikan rating ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×