kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45709,09   6,67   0.95%
  • EMAS931.000 -0,32%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Musim mencukur suku bunga masih berlanjut, seberapa ampuh dorong pertumbuhan ekonomi?


Sabtu, 26 Oktober 2019 / 10:15 WIB
Musim mencukur suku bunga masih berlanjut, seberapa ampuh dorong pertumbuhan ekonomi?

Reporter: Bidara Pink, Grace Olivia, Tendi Mahadi, Yusuf Imam Santoso | Editor: Tendi Mahadi

Meski begitu, di kuartal IV-2019 ia optimistis geliat ekonomi akan jauh lebih baik sehingga penyaluran maupun permintaan kredit bisa meningkat. “Survei dunia usaha menunjukkan kegiatan investasi oleh sejumlah korporasi akan meningkat karena sudah mempunyai rencana investasi dan pembiayaan yang belum direalisasikan,” kata dia.

Di sisi lain, ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai penurunan suku bunga acuan oleh BI memang masih dibutuhkan dalam rangka memastikan geliat konsumsi domestik terjaga. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai akhir tahun hanya bertumpu pada konsumsi dan belum dapat mengandalkan investasi apalagi ekspor. 

“Kalau tidak ada respons lagi dari kebijakan moneter, (pertumbuhan) malah bisa lebih buruk karena sampai saat ini kebijakan fiskal belum benar-benar ekspansif di tengah penerimaan pajak yang lebih berat tahu ini,” tutur Josua.

Namun ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan, penurunan suku bunga acuan ini bukan sebagai langkah untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi, melainkan hanya sebagai langkah stabilitas. "Saya kira BI sudah mulai berubah. Bukan mendorong, tapi menjaga agar tidak terjadi perlambatan ekonomi. Jadi stabilitas dari sisi makronya," kata Lana.

Untuk ke depannya, Lana melihat masih ada ruang bagi BI menurunkan kembali suku bunga acuan, bahkan hingga 4,75% hingga akhir tahun. Hal ini disebut sebagai langkah pre-emptive dari keputusan Bank Sentral AS (The Fed) yang masih memiliki peluang untuk menurunkan suku bunga acuan. Selain itu, juga sebagai langkah antisipasi penurunan ekonomi akibat kondisi ekonomi global.

Baca Juga: China tak pangkas suku bunga seperti negara lain, salah satu alasannya karena babi

Bahkan ekonom BCA David Sumual menilai efek pelonggaran moneter ini tidak bisa langsung dirasakan, apalagi dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi. "Moneter itu perlu waktu yang lama. 6 bulan-12 bulan, baru kelihatan dampaknya. Dan itu pun perlu dikombinasikan dengan kebijakan makroprudensial," kata David.

Namun, menurut David pelonggaran moneter ini bisa menjadi langkah pre-emptive dari BI, apalagi dengan melihat bank sentral Amerika Serikat memiliki kecenderungan untuk kembali menurunkan suku bunga acuan akibat perang dagang dan China yang masih memanas.

David melihat bahwa memang kebijakan moneter ini sebagai langkah penuntun. Keputusan akhirnya ada di tangan pihak-pihak terkait. "Jadi ibaratkan pelonggaran moneter sebagai upaya menggiring domba ke tepian danau. Namun, domba ingin meminum atau tidak, keputusan ada di tangan sang domba," tambah David.

Oleh karena itu, untuk menggenjot pertumbuhan kredit, memang perlu dikombinasi bauran kebijakan bukan hanya dari sisi moneter saja, tetapi dari sisi fiskal juga dan kebijakan pemerintah. Apalagi dengan adanya kabinet baru dan paket kebijakan baru.

Langkah bank sentral memangkas suku bunga memang harus diikuti berbagai kebijakan lanjutan dari para pemangku kepentingan agar bisa membopong geliat ekonomi yang tengah lesu. Kita tunggu saja.




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×