kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45709,09   6,67   0.95%
  • EMAS931.000 -0,32%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Musim mencukur suku bunga masih berlanjut, seberapa ampuh dorong pertumbuhan ekonomi?


Sabtu, 26 Oktober 2019 / 10:15 WIB
Musim mencukur suku bunga masih berlanjut, seberapa ampuh dorong pertumbuhan ekonomi?

Reporter: Bidara Pink, Grace Olivia, Tendi Mahadi, Yusuf Imam Santoso | Editor: Tendi Mahadi

Gubernur BI Perry Warjiyo beralasan, kebijakan bank sentral untuk menurunkan suku bunga sejalan dengan prakiraan inflasi yang terkendali dan imbal hasil investasi keuangan domestik yang masih menarik. Selain itu, BI juga melanjutkan kebijakan pre-emptive untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah perekonomian global yang melambat. 

Namun lagi-lagi potensi pelemahan ekonomi global, terutama dari ketegangan Washington dengan Beijing masih jadi pusat perhatian BI.

“Ke depan, berbagai ketidakpastian dari ketegangan hubungan dagang AS dan Tiongkok, serta risiko geopolitik lain tetap dicermati karena dapat mempengaruhi upaya mendorong pertumbuhan ekonomi domestik dan menjaga arus masuk modal asing sebagai penopang stabilitas eksternal,” kata Perry, Kamis (24/10). 

Bila membaca proyeksi pertumbuhan ekonomi yang diajukan sejumlah ekonom, memang bank sentral di sejumlah negara nampaknya tak boleh tinggal diam. Untuk kesekian kalinya, sejumlah lembaga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun ini maupun tahun depan.

International Monetary Fund (IMF) misalnya memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global di 2019 ini menjadi 3% dari sebelumnya 3,2%. Tahun 2020, IMF memproyeksi ekonomi global tumbuh lebih baik yaitu 3,4%. Namun tetap saja, proyeksi tersebut turun 0,1% dari sebelumnya pada Juli lalu.

 Baca Juga: Bank of Japan (BOJ) peringatkan perbankan akan risiko biaya kredit

Lantas, apakah langkah sejumlah bank sentral termasuk BI untuk memangkas suku bunga bisa efektif menyelamatkan ekonomi?

Pasalnya, meski BI getol memangkas suku bunga sejak Juli lalu, namun penyaluran kredit perbankan justru masih melambat hingga menyentuh 8,59% secara year-on-year per Agustus 2019. Padahal pada Juli 2019 masih bisa menyentuh 9,58%.

Perry beralasan, perlambatan kredit perbankan ini dipengaruhi oleh masih lambatnya transmisi kebijakan penurunan suku bunga acuan terhadap suku bunga kredit.

“Suku bunga deposito baru turun sebesar 26 bps sepanjang Juli-September 2019. Suku bunga kredit turun lebih kecil lagi, yaitu hanya 8 bps. Ruang penurunan masih banyak dengan sekarang BI sudah turunkan 100 bps,” tutur Perry.

Perry juga menilai lambatnya penyaluran kredit juga dipengaruhi faktor permintaan yang belum kuat. Sepanjang tahun ini, dunia usaha cenderung menahan ekspansi dan investasi lantaran tingginya ketidakpastian dari eksternal maupun di dalam negeri.




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×