kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.791
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS614.076 0,00%
FOKUS /

Minimarket kian berderet (2): Para raksasa yang ikut tergoda

Selasa, 15 Mei 2018 / 16:10 WIB

Minimarket kian berderet (2): Para raksasa yang ikut tergoda
ILUSTRASI. Persaingan minimarket



Jangan Sampai Ada Toko yang Bangkrut

Konsep bisnis dalam program kemitraan yang ditawarkan oleh Lotte dan Super Indo memang berbeda satu sama lain.  Namun,  program kemitraan tersebut bisa memajukan perdagangan ritel di Indonesia, khususnya peritel kecil.

Ketua Umum Aprindo Roy Nicholas Mandey menuturkan, program kemitraan yang ditawarkan Lotte maupun Super Indo bisa menggaet mitra dari berbagai elemen seperti warung, usaha kecil menengah (UMK), koperasi, juga pesantren.

Dengan membuat standar pelayanan atawa SOP, mereka yang selama berbisnis dengan cara tradisional bisa menjalankan bisnis lebih maju dan modern. Sementara bagi mereka yang baru mulai bisnis ritel, bisa memulainya dengan konsep modern.

Selain itu, menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta, Super Indo dan Lotte sejatinya memiliki fokus bisnis yang berbeda, sehingga kemitraan yang mereka tawarkan berbeda konsep.

Tutum melihat, Lotte awalnya toko grosir yang masuk ke supermarket dan kini mulai masuk skala lebih kecil.  Karena itu, Lotte punya gudang yang siap memasok barang ke ritelnya.

Di sisi lain, Super Indo justru masuk dari ritel. Peritel ini tidak diatur untuk bisnis grosir skala besar. “Hal ini sah-sah saja. Karena memang tidak semua ritel turun dari bisnis grosir,” ujar Tutum.

Untuk mengukur keberhasilan dari Lotte, Super Indo maupun perusahaan lainnya dalam mengembangkan ritel modern,  lanjut Tutum tak hanya dilihat dari jumlah warung.

Sebab, bisa jadi warung yang ada itu skalanya mengecil sehingga tidak bisa dianggap berhasil. Ia menilai program ini dianggap berhasil apabila jumlahnya tidak bertambah, tapi gerainya juga tidak ada yang mati, melainkan terus membesar.

Dalam catatan Tutum, biasanya seseorang membuka warung karena baru terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Nah, ia bilang, warung-warung baru seperti ini yang perlu mendapatkan bantuan dari peritel modern agar mereka bisa bertahan dan berkembang.

Sementara itu, Pengamat Manajemen Daniel Saputro bilang, model bisnis seperti yang diterapkan Super Indo dan Lotte bisa melebarkan distribusi penjualan mereka, sekaligus bagus untuk unsur corporate social responsibility (CSR).

Agar mitra bisa bertahan, Daniel menyarankan Lotte maupun Super Indo menentukan standar bagi manajemen.  Misalnya dalam mengelola keuangan. Cara ini jelas tak membutuhkan ongkos gede bagi pemilik waralaba, lantaran dalam pengembangan bisnis mereka tidak keluar duit untuk menyewa tempat.

Selain itu, pewaralaba wajib melakukan pengawasan. Sebab, meskipun mitra tak menggunakan nama dari perusahaan, khususnya untuk Lotte, tapi jika banyak ritel yang rugi lalu tutup, tak akan banyak pengusaha yang tertarik bermitra.              ◆

Artikel ini sebelumnya sudah dimuat di Laporan Utama Tabloid KONTAN edisi  23 April - 29 April 2018. Artikel berikut data dan infografis selengkapnya silakan klik link berikut: "Para Raksasa yang Ikut Tergoda"


Reporter: Francisca Bertha Vistika, Fransiska Firlana
Editor: Mesti Sinaga

RITEL

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0007 || diagnostic_api_kanan = 0.0732 || diagnostic_web = 0.3707

Close [X]
×