kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Menyoroti gagal bayar Duniatex, jadi lampu kuning pinjaman korporasi?


Sabtu, 19 Oktober 2019 / 05:30 WIB

Menyoroti gagal bayar Duniatex, jadi lampu kuning pinjaman korporasi?


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kesulitan keuangan yang dialami Duniatex Group ternyata berbuntut panjang. Bermula dari salah satu entitas usahanya yakni PT Delta Dunia Sandang Textile (DDST) yang  gagal membayar bunga kredit pinjaman sindikasi senilai US$ 13,4 juta dari 14 bank, dengan total utang US$ 260 juta pada 10 Juli lalu, kini masalah keuangan Duniatex Group semakin keruh.

Melalui Direktur AJCapital Adisory Fransiscus Alip yang ditunjuk sebagai konsultan keuangan, Duniatex Group menyatakan kesulitan keuangan yang dialami grup perusahaan tekstil terbesar di Solo ini salah satunya lantaran perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang berimbas pada penurunan margin perusahaan.

Dari laporan Debtwire pada 25 Juli 2019, marjin lini penenunan (weaving) Duniatex Group melalui PT Delta Erlin Dunia Textile (DMDT) memang tergerus pada awal tahun 2019.

Pada kuartal I-2019 marjin DMDT sebesar 15,3% pada kuartal I-2019. Nilai tersebut turun 29 bps dibandingkan marjin yang diperoleh pada akhir 2018 sebesar 18,2%. 

Selain itu, biaya produksi yang besar dibandingkan kompetitor juga jadi salah satu alasan seretnya likuiditas perusahaan.

Tak menunggu lama, kasus kesulitan keuangan yang dialami salah satu anak usaha Duniatex Group terus menjalar ke lini usaha lainnya. 

Mengutip Debtwire, kegagalan tersebut kemudian merembet ke PT Delta Merlin Dunia Textile (DMDT), yang menerbitkan obligasi global senilai US$ 300 juta pada 12 Maret lalu gagal membayar bunga pertamanya senilai US$ 12,9 juta pada 12 September 2019. Total nilai obligasi tersebut US$ 300 juta dengan bunga sebesar 8,635% dan dibayar per semester.

Padahal dalam prospektusnya, DMDT punya kewajiban untuk menyisihkan pembayaran bunga pertama dari hasil penjualan bersih obligasinya tersebut.

Head of Finance Delta Merlin Teguh Handoko dalam keterbukaan informasi di Bursa Singapura, Kamis (12/9) menyatakan, perusahaan tak memiliki kemampuan untuk membayar bunga pertamanya tersebut.

Selain DMDT, kesulitan keuangan juga dialami oleh lima anak usaha Duniatex Group lainnya yakni  PT Delta Dunia Textile (DDT), PT Delta Dunia Sandang Textile (DDST), PT Delta Merlin Sandang Textile (DMST), PT Dunia Setia Sandang Asli Textile (DSSAT), dan PT Perusahaan Dagang dan Perindustrian Damai alias Damaitex.

Per Agustus, enam entitas anak Duniatex Group tersebut punya nilai utang hingga US$ 1,51 miliar. Perinciannya US$ 948,3 juta berasal dari kreditur asal Indonesia, sementara sisa US$ 562,3 juta berasal dari kreditur asing.

Nilai pinjaman tersebut diberikan oleh 48 bank, dimana 22 di antaranya memberikan pinjaman kepada lebih dari satu entitas Duniatex dan memiliki tagihan yang telah jatuh tempo hingga 81,6% dari total nilai utangnya.

Lantaran semakin banyak kewajiban yang belum dipenuhi, akhirnya enam entitas anak Duniatex ini dimohonkan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) oleh salah satu pemasoknya, PT Shine Golden Bridge. Perkara terdaftar dengan nomor 22/Pdt.Sus-PKPU/2019/PN Niaga Smg di Pengadilan Niaga Semarang Rabu (11/9).


Reporter: Anggar Septiadi, Grace Olivia, Yuwono Triatmodjo
Editor: Herlina Kartika

Video Pilihan


Close [X]
×