kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR15.197
  • EMAS622.149 -0,48%
FOKUS /

Menguak masalah gas industri yang masih mahal (2)

Kamis, 14 Desember 2017 / 19:35 WIB

Menguak masalah gas industri yang masih mahal (2)



Berita Terkait

Terkait soal penerimaan negara, Khayam rupanya punya cerita menarik. Dulu, ia pernah berkarier di Badan Pelaksana (BP) Migas, sekarang bersulih nama menjadi Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas.

Pada tahun 2003, seorang pejabat di BP Migas bercerita soal lapangan gas di Natuna Barat yang dioperatori oleh Conocophillips. Gas tersebut lalu dialirkan melalui pipa ke Malaysia dan dibeli oleh Petronas.

Pada tahun 2003, harga beli Petronas saat itu US$ 2,3 MMBTU. Namun, Petronas menjual gas ke industri dalam negeri Malaysia hanya US$ 1,5 MMBTU. Menelan rugi di muka, namun pemerintah Malaysia meraih pendapatan pajak berkali-kali lipat lantaran industri dalam negerinya maju pesat.

Dugaan berikutnya soal lambatnya keputusan pemerintah memangkas harga gas datang dari Fahmy. Ia pernah menjadi anggota tim reformasi tata kelola sektor migas yang dibentuk pemerintah pada tahun 2014. Tim yang lebih dikenal dengan nama Satgas Anti Mafia Migas ini bertujuan untuk memberantas mafia migas.

Saat masih di satgas, mereka menemukan praktik pemburuan rente di sektor gas. Banyak trader yang tidak memiliki infrastruktur pipa bisa mendapat jatah dari lelang yang dilakukan SKK Migas.

Setahun lalu, trader non-pipa ini masih ada sekitar 72 perusahaan. “Pemburuan rente tumbuh karena lemahnya tata-kelola dan kedekatan dengan penguasa,” tandasnya.

Dus, ia mendorong revisi UU Migas Nomor 22 tahun 2001 segera dirampungkan. Nah, revisi UU Migas mesti memperketat syarat pihak yang bisa terlibat dalam sektor gas. Dengan begitu, peran para pemburu rente bisa disapu.

Jika tidak diakomodasi di UU Migas, sulit bagi pemerintah untuk menekan harga jual gas di Indonesia. “Kalau sampai akhir tahun ini tidak selesai di DPR, Presiden bisa berinisiatif membuat Perpu,” sarannya.

Trader terjepit

Namun, Anggota Komite Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas Jugi Prajogio menyebut, trader non-pipa saat ini sedang dalam posisi terjepit. Pasalnya, harga gas di pasar sudah terbentuk. Pengguna gas juga sudah pintar dan tahu berapa harga wajar gas yang ditawarkan padanya.

Sudah sulit bagi trader bertingkat ini untuk mencari untung besar. Di Jawa Timur misalnya, harga pasaran di sekitar US$ 8 per MMBTU dan di Jawa Barat harganya sekitar US$ 9 per MMBTU.

“Mereka memang menyumbang ke kenaikan harga gas. Tapi keuntungannya paling sen-senan dollar. Nggak ada lagi yang bisa dapet untung di atas US$ 1 per MMBTU,” ujar  Jugi.

Dus, penghapusan peran para trader bertingkat ini tidak lagi urgen di matanya. BPH Migas lebih memilih strategi merasionalisasi toll fee demi memangkas harga gas.

Penghujung Agustus tahun ini ada satu ruas pipa yang toll fee-nya direvisi BPH Migas, yakni di ruas transmisi Arun hingga Belawan. Toll fee yang tadinya US$ 2,53 per mscf (seribu standar kaki kubik) diturunkan menjadi US$ 1,546 per mscf.

“Arun-Belawan ini turun drastis, mohon maaf, karena capex yang dulu terlalu berlebihan. Sehingga waktu di-review ulang harganya langsung turun,” tandas Jugi.

Berikutnya, revisi toll fee akan dilakukan terhadap ruas pipa PT Majuko Utama di Cilegon. Perusahaan ini melayani 10 konsumen industri. Penetapan toll fee yang baru, tinggal menunggu ketok palu di sidang komite BPH Migas.

Sebelum tahun 2017 berakhir, BPH Migas juga akan menyelesaikan review toll fee pipa transmisi South Sumatera—West Java 1 (SSWJ 1) dan SSWJ 2 milik PGN. Ia menyebut, volume gas dari Conocophillips cukup bagus dan penggunanya juga banyak. Sehingga revisi harga akan terasa dampaknya ke industri pengguna gas.

Berapa toll fee Majuko, SSWJ 1, dan SSWJ 2 yang akan ditetapkan BPH Migas, Jugi belum mau buka suara. “Satu lagi yang enggak keburu tahun ini dan akan diputuskan tahun depan adalah revisi ruas pipa Pertagas yang ada di Jawa Barat. Tahun depan harapan saya 5–10 ruas pipa yang bisa di-review toll fee-nya,” imbuh Jugi.

Hatim Ilwan, Manajer Humas Pertagas menyebut, pihaknya mendukung apapun keputusan pemerintah. Baik terkait revisi toll fee jaringan pipa gas maupun revisi Permen 19/2009 menyangkut pembatasan margin.

Pembatasan margin memang bakal berpengaruh ke pendapatan perusahaan. Namun, tujuan pemerintah untuk menciptakan tata niaga gas yang lebih baik mesti didukung. Lagipula, perubahan ketentuan tersebut sudah melalui pembicaraan dengan pemangku kepentingan, termasuk Pertagas.

Aturan ini akan membuat harga gas lebih kompetitif dan transparan. “Kalau banyak industri tertarik menggunakan gas karena dari sisi harga bisa lebih murah dan ramah lingkungan, otomatis akan membuat volume naik,” tandasnya.

Meski begitu, upaya pemangkasan harga gas sebaiknya tidak berhenti hanya sampai di situ. Sebab, komponen harga juga ditentukan oleh harga gas di hulu dan keuntungan di niaga. Review secara menyeluruh terhadap ketiga sisi ini bisa memberikan gambaran yang utuh soal harga gas.

Mahal tidaknya harga gas juga tidak bisa dibandingkan satu daerah dengan daerah lain. Sebab akan sangat tergantung dengan jarak antara pengguna gas dengan sumber gas.

Daerah yang dekat dengan sumber gas harganya akan lebih murah. Tapi jika jaraknya terlalu jauh dan sukar dijangkau dengan pipa, harganya bakal lebih mahal. Sebab, gas mesti dikompres dulu menjadi LNG lalu dikapalkan.

Begitu sampai di daerah tujuan, di-regasifikasi dan baru disalurkan ke pengguna. Setiap rantai proses ini akan berkontribusi terhadap harga gas.
Benahi seluruhnya, ya!

* Artikel ini sebelumnya sudah dimuat di Laporan Utama Tabloid KONTAN edisi 27 November - 3 Desember  2017. Artikel selengkapnya berikut data dan infografis selengkapnya silakan klik link berikut:  "Mengerem Laju Harga Gas"


GAS INDUSTRI

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0006 || diagnostic_api_kanan = 0.0903 || diagnostic_web = 1.4849

Close [X]
×