kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR15.190
  • EMAS622.149 -0,48%
FOKUS /

Menguak masalah gas industri yang masih mahal (2)

Kamis, 14 Desember 2017 / 19:35 WIB

Menguak masalah gas industri yang masih mahal (2)



Berita Terkait

Fanshurullah Asa, Kepala Badan Pengatur Hulu Minyak dan Gas (BPH Migas) menyebut, badan usaha yang jaringannya paling luas dan produksinya paling tinggi akan menjadi pusat jalur distribusi.

Dus, bisa disimpulkan, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk-lah yang bakal diuntungkan dari ketentuan ini. Sebab, sebagai pionir penguasaan jaringan pipa gas PGN paling besar di di Indonesia.

Saat ini, PGN telah mengoperasikan 7450 km, setara dengan 80% pipa gas bumi hilir nasional. Pipa sepanjang ini sudah termasuk tambahan sepanjang lebih dari 175 km yang ditorehkan pada kuartal III-2017.

Ketentuan ini akan membuat praktik pembangunan jaringan pipa gas yang tumpang-tindih di wilayah tertentu bisa dibatasi. Fahmy Radhi, pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebut, persoalan ini  juga bisa diatasi lewat merger antara PGN dan Pertagas.

Dengan begitu, keduanya bisa berbagi peran membangun jaringan pipa gas. Tidak lagi hanya jor-joran membangun jaringan di Jawa, sehingga acapkali terjadi persilangan jaringan pipa gas.

Pangkas margin

Poin revisi kedua yang tidak kalah pentingnya adalah soal pipa dedicated hilir. Ini adalah pipa gas bumi yang dibangun dan dimanfaatkan oleh badan usaha untuk mengangkut gas bumi milik sendiri.

Nantinya, tidak akan ada lagi izin baru untuk pembangunan pipa dedicated hilir. Langkah ini dilakukan agar harga gas yang dialirkan lewat pipa itu lebih transparan dan murah.

Selain itu, pemerintah menetapkan batas margin sebesar 7% bagi penjual gas. Lalu angka pengembalian investasi (internal rate of return/IRR) juga dibatasi sebesar 11% bagi badan usaha pengantar gas untuk pipa dedicated hilir.

“Dengan permen hilir migas ini paling enggak bisa mengendalikan harga gas. Mungkin tetap mahal tapi enggak semahal yang sekarnag,” tukas Khayam.

Namun, lagi-lagi nasib revisi permen ini juga masih digantung. Bahkan, draftnya sempat mandek di Kementerian Koordinator Bidang Maritim hampir dua bulan, sebelum diambil-alih kembali oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan. KONTAN menanyakan hal ini ke pihak Kementerian ESDM. Namun hingga berita ini naik cetak belum mendapat respon.

Beragam dugaan mencuat soal alasan susahnya harga gas diturunkan. Seorang pelaku di industri gas yang tidak ingin disebutkan namanya bilang, harga gas yang tidak kunjung turun tak lepas dari keengganan pemerintah kehilangan pendapatan negara.

Jika harga gas diturunkan atau margin pemilik pipa dibatasi, otomatis penerimaan negara dari sektor ini juga turun. “Penerimaan negara ini juga menjadi KPI mereka.

Padahal, kalau sekarang hilang Rp 30 triliun, nanti akan diganti lebih banyak kalau industri pengguna gas juga lebih berkembang,” jelas sang sumber.


GAS INDUSTRI

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0006 || diagnostic_api_kanan = 0.1332 || diagnostic_web = 0.8015

Close [X]
×