kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45709,09   6,67   0.95%
  • EMAS931.000 -0,32%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Mengatur siasat supaya selamat menghadapi jurus mabuk Trump


Senin, 23 Juli 2018 / 13:55 WIB
Mengatur siasat supaya selamat menghadapi jurus mabuk Trump
ILUSTRASI. Presiden AS Donald Trump

Reporter: Agung Hidayat, Handoyo, Patricius Dewo, Riset Kontan | Editor: Yoyok

Alhasil, negara-negara dengan perekonomian yang kuat seperti China, Uni Eropa, Rusia, Australia, Selandia Baru tidak meminta dan tidak menerima fasilitas GSP. Bahkan di kawasan ASEAN, Singapura dan Malaysia juga tidak meminta fasilitas tarif itu. 

Dalam kacamata Amerika Serikat, langkah yang dilakukan Presiden Trump tersebut memang wajar. Sebab dalam beberapa tahun terakhir Amerika Serikat mengalami defisit neraca perdagangan yang cukup besar. 

Awal tahun 2018, sebagai contoh, AS mencatatkan defisit perdagangan  US$ 56,6 miliar, sekaligus posisi defisit terdalam sejak Oktober 2008. Berbagai siasat ditempuh Trump untuk meredam defisit neraca perdagangan, termasuk meninjau ulang perdagangan dengan negara penikmat insentif GSP dari AS.

Perdagangan AS-Indonesia termasuk dalam daftar yang ditinjau rezim Trump. Maklum, berdasarkan data United Nations International Trade Statistics Database, Indonesia menikmati surplus perdagangan yang cukup besar dengan Amerika Serikat yakni mencapai US$ 9,59 miliar sepanjang tahun 2017.
 
Sebagai catatan, Amerika Serikat memberikan pemotongan tarif bea masuk terhadap 5.000 produk dari 13.000 jenis produk yang beredar di Negeri Paman Sam. Sampai dengan 7 Juli 2018, Indonesia tercatat masih memperoleh manfaat GSP Amerika Serikat dalam kategori A. 

Di kategori A ini, jumlah produk yang menikmati pemotongan tarif bea masuk mencapai 3.547 produk. Beberapa barang yang akan dikenakan tarif khusus itu di antaranya adalah tekstil, alas kaki, minyak sawit, produk nabati, mesin, serta karet. 




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×