kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Mengatur siasat supaya selamat menghadapi jurus mabuk Trump


Senin, 23 Juli 2018 / 13:55 WIB

Mengatur siasat supaya selamat menghadapi jurus mabuk Trump
ILUSTRASI. Presiden AS Donald Trump

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jurus mabuk dan sepak terjang Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memang acap membikin dag-dig-dug banyak negara. Tanpa terkecuali bagi Indonesia.

Pemerintahan Trump rupanya sedang menyorot dan mengevaluasi perdagangan AS dan Indonesia. Maklum, produk Indonesia yang dipasarkan ke AS termasuk penikmat fasilitas Generalized System Of Preferences (GSP). Selain Indonesia, AS juga tengah mengevalusi fasilitas serupa yang dinikmati India dan Kazakhstan.

GSP merupakan kebijakan perdagangan yang umumnya dilakukan oleh negara maju dengan memberikan pemotongan atau diskon bea masuk (BM) terhadap produk impor dari negara yang memperoleh manfaat GSP. Di Amerika Serikat, fasilitas GSP ini mulai diterapkan sejak tahun 1974. Sampai saat ini, sekitar 112 negara yang menikmati kelonggaran tarif tersebut.

GSP yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat terbagi dalam tiga kategori manfaat, yakni kategori A, kategori A* dan kategori A+. Mengutip laman US Trade Representative (USTR), kategori A diberikan kepada negara yang masuk dalam golongan Negara berkembang atau beneficiary developing countries (BDCs). Sementara, A+ dikhususkan untuk negara-negara belum berkembang atau least-developed beneficiary developing countries (LDBDCs). 

Sedangkan untuk kategori A*, kebijakan diskon tariff tersebut sifatnya bersyarat. Maksudnya, walau Negara tersebut tercatat sebagai Negara berkembang, namun secara perekonomian dinilai sudah kuat maka akan dianulir. Namun, kondisi tersebut ditentukan dalam Catatan Umum 4 dari Harmonized Tariff Schedule of the US (HTSUS).

Sesuai dengan ketentuan organisasi perdagangan dunia atau World Trade Organization (WTO), GSP merupakan kebijakan perdagangan sepihak (unilateral) untuk membantu perekonomian negara berkembang atau negara miskin supaya produk yang dipasarkan berdaya saing. Karena sifatnya tidak mengikat, negara pemberi fasilitas GSP dapat mencabut kebijakannya tersebut sewaktu-waktu.


Reporter: Agung Hidayat, Handoyo, Patricius Dewo, Riset Kontan
Editor: Yoyok
Video Pilihan


Close [X]
×