kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.010,68   -0,95   -0.09%
  • EMAS957.000 -0,52%
  • RD.SAHAM -1.07%
  • RD.CAMPURAN -0.35%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%
FOKUS /

Mencermati Efek Domino Kenaikan Harga BBM


Senin, 05 September 2022 / 06:45 WIB
Mencermati Efek Domino Kenaikan Harga BBM


Reporter: Ika Puspitasari, Bidara Pink, Dimas Andi, Ratih Waseso, Tendi Mahadi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite, Solar subsidi dan Pertamax resmi naik pada Sabtu (3/9) lalu. Harga Pertalite naik dari Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10.000 per liter. Kemudian harga Solar subsidi juga naik dari Rp 5.150 per liter menjadi Rp 6.800 per liter. 

Sedangkan harga Pertamax nonsubsidi juga ikut dikerek pemerintah dari Rp 12.500 per liter menjadi Rp 14.500 per liter.

Tren kenaikan harga komoditas energi, termasuk minyak bumi menjadi alasan pemerintah harus mengatrol harga BBM. Terlebih, hal ini membuat anggaran subsidi dan kompensasi BBM kian membebani APBN.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) bilang anggaran subsidi dan kompensasi BBM tahun 2022 telah meningkat tiga kali lipat dari Rp 152,5 triliun menjadi Rp 502,4 triliun. Jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat terus.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi 2022 akan Tergerus 0,33 Poin Persentase Gara-Gara Harga BBM Naik

Hal lainnya adalah lebih dari 70% subsidi justru dinikmati oleh golongan masyarakat yang mampu yaitu pemilik mobil pribadi.

"Mestinya uang negara harus diprioritaskan untuk memberikan subsidi kepada masyarakat yang kurang mampu dan saat ini pemerintah harus membuat keputusan dalam situasi yang sulit pemerintah yaitu mengalihkan subsidi BBM," tegas Jokowi saat mengumumkan kenaikan harga BBM pada Sabtu (3/9) lalu.

Tak pelak hal ini menuai kontra. Terlebih, kenaikan harga BBM ini dilakukan pada saat harga minyak sedang berada pada posisi turun. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun buka suara. Menurut dia, sekalipun harga Indonesian Crude Price (ICP) turun menjadi US$ 90 dolar per barel hingga Desember 2022, tetap saja harga rata-rata ICP selama 1 tahun ini berada di level US$ 98,8 per barel atau hampir US$ 99 per barel. 

Akhirnya, walau saat ini harga minyak sedang turun, namun pemerintah tetap harus merogoh kocek yang lebih dalam untuk subsidi dan kompensasi energi, yaitu dari Rp 502,4 triliun menjadi Rp 640 triliun. 

“Jadi, tetap saja kami harus memberikan tambahan subsidi sekitar Rp 137 triliun hingga Rp 151 triliun bila kondisi-kondisi tersebut sudah terjadi. Tergantung dari harga ICP tersebut,” jelasnya.

Menurutnya, bila pemerintah tidak memutuskan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi, maka bisa saja subsidi energi yang awalnya disiapkan Rp 502,4 triliun, bengkak menjadi Rp 653 triliun. 

Baca Juga: Tarif Sewa Truk Dipastikan Naik Seiring Kenaikan Harga BBM

Untuk meredakan penurunan daya beli masyarakat, Sri Mulyani melanjutkan, pemerintah tetap memberikan bantuan sosial bagi masyarakat untuk tetap menjaga daya beli. Menurutnya, cara ini lebih efektif untuk bantuan yang diberikan pemerintah tepat sasaran kepada masyarakat miskin. 

Diantaranya bantuan langsung tunai (BLT) BBM sebesar Rp 12,4 triliun kepada 20,65 juta keluarga yang kurang mampu, sebesar Rp 150.000 per bulan dan mulai diberikan bulan September selama 4 bulan.

Pemerintah juga menyiapkan anggaran sebesar Rp 9,6 triliun untuk 16 juta pekerja dengan gaji maksimum Rp 3,5 juta rupiah per bulan dalam bentuk bantuan subsidi upah yang diberikan sebesar Rp 600.000.

Efek domino kenaikan harga BBM

Secara historis, kenaikan harga BBM akan diikuti oleh serangkaian efek terhadap ekonomi. Inflasi yang meningkat dan pertumbuhan ekonomi yang tertekan menjadi contohnya.

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman menyebut, peningkatan harga BBM ini akan memicu inflasi dan berisiko memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022. Menurut hitungannya, inflasi pada tahun 2022 akan berada di kisaran 6,27% YoY dan pertumbuhan ekonomi tergerus 0,33 poin persentase (ppt).

“Kenaikan ketiga jenis BBM tersebut akan memicu naiknya inflasi, baik di putaran pertama (first round impact) atau dampak lanjutan pada inflasi lainnya (second round impact), seperti naiknya harga jasa transportasi, distribusi, hingga kenaikan harga barang dan jasa lainnya,” tutur Faisal.

Faisal pun menjabarkan hitungannya. Harga Pertalite naik dari Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10.000 per liter, atau ada peningkatan sebesar 30,72%. Sedangkan harga Pertamax naik 16,00%, dari Rp 12.500 per liter menjadi Rp 14.500 per liter. Nah, peningkatan harga kedua jenis BBM ini akan memberi tambahan inflasi sebesar 1,35 ppt.

Sementara itu, kenaikan harga Solar tercatat sebesar 32,04%, atau dari Rp 5.150 per liter menjadi Rp 6.800 per liter. Peningkatan harga Solar ini berkontribusi sebesar 0,17% poin terhadap tingkat inflasi.

Nah, naiknya inflasi akibat kenaikan harga ketiga jenis BBM ini dipandang bisa menggerus daya beli masyarakat, terlebih konsumsi BBM jenis Pertalite merupakan yang terbesar dalam konsumsi bensin secara total di Indonesia.

Baca Juga: Organda: Tarif Angkutan Darat Dapat Naik Hingga 15% Akibat Kenaikan Harga BBM

Faisal khawatir, ini akan berisiko mengurangi pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Padahal, konsumsi rumah tangga merupakan motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini dan bahkan digadang tetap bisa menjadi penggerak ekonomi pada tahun 2022.

Namun, ia mengapresiasi langkah pemerintah untuk memberikan bantalan bagi daya beli masyarakat, yaitu berupa tambahan bantuan sosial sebagai bentuk pengalihan subsidi BBM sebesar Rp 24,17 triliun.

Dengan menimbang hal ini dan melihat kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I-2022 yang berhasil tumbuh 5,23% didukung naiknya mobilitas masyarakat, bantuan sosial pemerintah, dan kinerja ekspor, Faisal masih optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2022 tumbuh di kisaran 5% YoY. 

Senada, Analis Makroekonomi Bank Danamon Indonesia Irman Faiz memperkirakan, inflasi pada akhir tahun ini akan melejit. Bahkan, peningkatan inflasi tidak akan berhenti sampai setidaknya paruh pertama tahun 2023.

Tak hanya inflasi umum yang melejit, Faiz pun memperkirakan inflasi inti atau inflasi secara fundamental bisa terkerek. Menurut perkiraannya, inflasi inti pada tahun 2022 akan berada di level 5% YoY.

Dengan peningkatan inflasi inti ini, ia memperkirakan BI bakal lebih agresif dalam meningkatkan suku bunga acuannya. Setelah pada pertemuan pada bulan lalu BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps), Faiz melihat ada kemungkinan hingga akhir tahun BI menaikkan suku bunga lebih dari 100 bps lagi.

Dampak kenaikan harga BBM dirasakan sejumlah sektor

Kenaikan harga juga dipastikan bakal mempengaruhi sejumlah sektor bisnis, baik secara langsung maupun tak langsung. Salah satunya adalah bisnis transportasi berbasis angkutan darat.

Ketua Umum Organisasi Angkutan Darat (Organda) Adrianto Djokosoetono mengatakan, sebagai imbas penyesuaian harga BBM, maka tarif angkutan darat dapat naik bervariasi antara 5% sampai 15% bergantung jenis angkutannya.

Dia menilai, sebagian jenis angkutan yang tidak diatur pemerintah dapat langsung melakukan penyesuaian tarif. Namun, jenis angkutan yang masih diatur pemerintah tentu harus sigap berkoordinasi agar ada perubahan tarif pada jenis angkutan tersebut.

Bisnis ekspedisi dan kurir juga tak bisa mengelak dari dampak kenaikan harga BBM ini. Namun Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Jasa Ekspres Indonesia (Asperindo) Trian Yuserna bilang pihaknya sudah jauh-jauh hari mengantisipasi kenaikan harga BBM yang isunya memang sudah lama berhembus.

Sejak bulan lalu Asperindo disebutnya sudah mengimbau kepada para anggota asosiasi untuk menaikkan tarif minimal 10%. Pasalnya dia bilang pengaruh harga BBM sangat besar terhadap seluruh komponen biaya jasa pengiriman. Hanya saja, besaran porsi biaya BBM bervariasi sesuai karakter dan segmen jasa pengiriman anggota Asperindo.

Pasar saham juga tak lepas dampak kenaikan BBM ini. Head of Research Jasa Utama Capital Sekuritas Cheryl Tanuwijaya mengungkapkan, kenaikan harga BBM tidak disukai oleh pasar modal. Namun, ia menilai, kali ini pemerintah sudah mengomunikasikan lebih dulu dan kenaikannya juga sesuai perkiraan. Sehingga, jika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi hanya dalam jangka pendek saja.

Baca Juga: Harga BBM Naik, Inflasi Tahun 2022 Bisa Tembus 6%

Dalam jangka seminggu hingga dua minggu ke depan, Cheryl melihat support IHSG berada di 6.900. Menurutnya, pelaku pasar akan mencermati respons masyarakat dan pengaruh kenaikan harga BBM ini terhadap ekonomi.

Selain itu, dari bursa global sentimennya juga kurang baik lantaran di minggu ke-4 September mendatang, bank Sentral Amerika Serikat (AS) akan kembali menaikkan suku bunga acuannya dengan agresif.

"Di lain sisi, kenaikan harga komoditas bisa menopang penguatan IHSG di sisa 2022 ini. Terkendalinya kasus Covid-19 juga bisa mendukung pemulihan ekonomi dari sisi aktivitas masyarakat yang baik bahkan ke sebelum pandemi," ujarnya, Minggu (4/9).

Cheryl bilang, Jasa Utama Capital Sekuritas masih mempertahankan target IHSG di level 7.500-7.600 pada akhir tahun ini.

Cheryl menambahkan, sektor yang akan terdampak negatif oleh kenaikan harga BBM yakni sektor transportasi, konsumen non primer, dan industrial. Adapun sektor yang masih bisa dilirik ada perbankan dan komoditas khususnya energi seperti BBRI, BMRI, ADRO, dan PGAS dengan target penguatan 5%-10%.

Analis Kanaka Hita Solvera William Wibowo berpendapat, biasanya bila harga BBM naik, IHSG akan mengalami tekanan yang cukup besar dan cenderung akan turun.

"Target penurunan jangka pendeknya berada di rentang 7.000, untuk jangka menengahnya ke rentang 6.850-6.900," kata William pada Kontan, Minggu (4/9).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
Digital Marketing in New Normal Era The Science of Sales Management

[X]
×