kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45983,60   1,64   0.17%
  • EMAS1.179.000 1,29%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%
FOKUS /

KTT ASEAN: Perlindungan Pekerja Migran, Kekerasan di Myanmar dan Penguatan Ekonomi


Senin, 15 Mei 2023 / 04:30 WIB
KTT ASEAN: Perlindungan Pekerja Migran, Kekerasan di Myanmar dan Penguatan Ekonomi


Reporter: Bidara Pink, Noverius Laoli, Vendy Yhulia Susanto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-42 ASEAN telah berlangsung pada tanggal 10-11 Mei 2023 di Labuan Bajo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Terdapat tiga poin penting yang menjadi kesepakatan utama dalam konferensi yang dihadiri oleh para kepala negara di ASEAN.

Poin pertama adalah perlindungan terhadap pekerja migran dan korban perdagangan manusia. Poin kedua adalah menyelesaikan konflik di Myanmar dan poin ketiga adalah penguatan kerjasama ekonomi, membangun ekosistem mobil listrik dan menjadi bagian penting dalam rantai pasok dunia. Termasuk memperkuat implementasi transaksi mata uang lokal dan konektivitas pembayaran digital antar-negara.

Indonesia yang menjadi ketua ASEAN pada tahun ini terus menggaungkan tiga kesepakatan utama tersebut di tengah persaingan dan konflik geopolitik dunia yang tidak menentu.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam keterangan persnya kepada awak media di Pusat Media KTT ke-42 ASEAN, di Hotel Bintang Flores, Labuan Bajo, pada Kamis, 11 Mei 2023, mengatakan ia mengajak negara-negara ASEAN untuk menindak tegas pelaku-pelaku utama perdagangan manusia.

Baca Juga: ASEAN Sepakat Perkuat Konektivitas Pembayaran Regional dan Penggunaan Mata Uang Lokal

Perdamaian di Myanmar

Sedangkan terkait Myanmar, Jokowi menegaskan bahwa ASEAN tidak memberikan toleransi terhadap pencideraan nilai-nilai kemanusiaan.

ASEAN juga sepakat untuk terlibat dengan semua pemangku kepentingan mencari solusi damai sesuai dengan mandat lima poin kesepakatan yang sebelumnya telah disampaikan kepada Junta Myanmar.

"Inklusivitas harus dipegang kuat oleh ASEAN karena kredibilitas ASEAN sedang dipertaruhkan," ungkap Jokowi seperti dikutip dari laman presidenri.go.id.

Kelima poin kesepakatan sebelumnya dengan Junta Myanmar adalah pertama, kekerasan harus segera dihentikan di Myanmar dan semua pihak harus menahan diri sepenuhnya. Kedua, dialog konstruktif antara semua pihak terkait untuk mencari solusi damai demi kepentingan rakyat. 

Ketiga, utusan khusus Ketua ASEAN akan memfasilitasi mediasi proses dialog dengan bantuan Sekretaris Jenderal ASEAN. Keempat, ASEAN akan memberikan bantuan kemanusiaan melalui AHA Centre. Kelima, utusan khusus dan delegasi akan mengunjungi Myanmar untuk bertemu semua pihak terkait.

Lebih lanjut, Jokowi mengatakan bahwa Indonesia membuka peluang komunikasi dengan siapa pun dalam mencapai kepentingan kemanusiaan.

Namun Presiden menegaskan bahwa diplomasi yang dilakukan tidak dapat diartikan memberikan pengakuan terhadap otoritas Myanmar karena kesatuan ASEAN merupakan yang utama.

Baca Juga: ASEAN Sepakat Bangun Ekosistem Mobil Listrik

Untuk itu, Jokowi mengingatkan agar tidak ada pihak di dalam atau pun di luar ASEAN yang mengambil manfaat dari konflik internal di Myanmar. "Kekerasan harus dihentikan dan rakyat harus dilindungi," tegas Jokowi.

Ekosistem Mobil Listrik

Sementara itu, terkait penguatan kerjasama ekonomi, Presiden Jokowi menjelaskan bahwa ASEAN sepakat membangun ekosistem mobil listrik dan menjadi bagian penting dari rantai pasok dunia. Karena itu, hilirisasi industri menjadi kunci untuk mencapai hal itu. 

Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto pernah mengungkapkan kelebihan negara-negara ASEAN dalam membentuk ekosistem kendaraan listrik.

Menurutnya, saat ini ada dua negara dengan porsi produksi otomotif besar di ASEAN, yaitu Indonesia dan Thailand. Kedua negara juga saat ini mulai mengalihkan produksi otomotif menjadi kendaraan listrik. Kendati demikian, yang punya baterai mobil listrik saat ini hanya Indonesia.

Airlangga melanjutkan, kawasan ASEAN memiliki potensi besar dalam pengembangan kendaraan listrik. "Penggunaan kendaraan listrik dan transisi energi memang menjadi kunci untuk mencapai keberlanjutan di ASEAN," kata Airlangga.

Sementara itu, para pemimpin negara ASEAN juga menyepakati penguatan konektivitas pembayaran regional dan transaksi menggunakan mata uang lokal masing-masing negara. Kesepakatan ini disebut Regional Payment Connectivity (RPC) dan Local Currency Transasction (LCT).

Baca Juga: Ini Tiga Kesimpulan KTT ke-42 ASEAN di Labuan Bajo

Terkait kesepakatan ini, Jokowi berharap dapat mewujudkan stabilitas sektor keuangan sebagai fondasi ekonomi di kawasan.

"Implementasi transaksi mata uang lokal dan konektivitas pembayaran digital sepakat diperkuat, sejalan dengan tujuan ASEAN agar makin kuat dan makin mandiri," tutur Jokowi.

Stabilitas Keuangan

Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Erwin Haryono, menjelaskan, RPC dan LCT merupakan bagian dari 3 Priority Economy Deliverables (PEDs) Pilar Ekonomi Keketuaan ASEAN 2023.

Kesepakatan ini, bertujuan untuk menunjukkan komitmen dan tekad bersama para pemimpin ASEAN untuk memperdalam integrasi dan stabilitas keuangan.

RPC sebagai bagian dari upaya memperkuat integrasi ekonomi kawasan memanfaatkan peluang untuk memperluas kerja sama konektivitas pembayaran di ASEAN secara multilateral.

Kerja sama ini dapat memfasilitasi pembayaran lintas negara di berbagai yurisdiksi dan mempersingkat rantai pemrosesan, yang pada gilirannya memperbesar manfaat pembayaran lintas negara.

Baca Juga: Ajak Pemimpin ASEAN Berlayar Naik Pinisi, Ini Alasan Presiden Jokowi

Saat ini kerja sama RPC telah membuahkan implementasi pembayaran lintas negara berbasis QR Code antara Indonesia dengan Thailand dan Malaysia.

Untuk melengkapi inisiatif konektivitas pembayaran regional, dikembangkan kerangka LCT untuk memperluas mekanisme transaksi mata uang lokal masing-masing negara ASEAN secara regional.

Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira melihat ASEAN memiliki cukup potensi menjadi salah satu hub kendaraan listrik. Namun untuk bisa mengarah ke sana perlu beberapa hal. 

Misalnya ada sinergi antar negara ASEAN berdasarkan daya saing di masing-masing negara. Kemudian rantai pasok yang dijalankannya harus sudah memenuhi standar internasional. "Itu yang harus disinergikan," kata Bhima kepada KONTAN. 

Lantas yang tidak kalah penting adalah insentif dari masing-masing negara agar industri kendaraan listirk di ASEAN kian berkembang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Corporate Financial Planning & Analysis Mastering Data Analysis & Visualisation with Excel

[X]
×